Infeksi nifas dapat dibagi dalam dua golongan yaitu:
1. Infeksi yang terbatas pada perineum, vulva, vagina, cerviks dan endometrium4
Vulvitis4,5
Pada infeksi bekas sayatan episiotomi atau luka perineum jaringan sekitarnya membengkak, tepi luka menjadi merah dan bengkak ; jahitan ini mudah terlepas dan luka yang terbuka menjadi ulkus dan mangeluarkan pus.
Vaginitis4,5
Infeksi vagina dapat terjadi secara langsung pada luka vagina atau melalui perineum. Permukaan mukosa membengkak dan kemerahan, terjadi ulkus, dan getah mengandung nanah yang keluar dari daerah ulkus. Penyebaran dapat terjadi, tetapi pada umumnya infeksi tinggal terbatas.
Servisitis4,5
Infeksi sering juga terjadi, akan tetapi biasanya tidak menimbulkan banyak gejala. Luka serviks yang dalam dan meluas dan langsung kedasar ligamentum latum dapat menyebabkan infeksi yang menjalar ke parametrium.
Endometritis4,5
Jenis infeksi yang paling sering ialah endometritis. Kuman-kuman memasuki endometrium, biasanya pada luka bekas Insersio plasenta, dan dalam waktu singkat mengikutsertakan seluruh endometrium.
2. Penyebaran dari ke empat tempat tersebut melalui vena-vena, pembuluh limfe, dan melalui permukaan endomertium4.
· Penyebaran melalui pembuluh-pembuluh darah
- Septikemia dan Piemia4
Ini merupakan infeksi umum yang disebabkan oleh kuman-kuman yang sangat pathogen biasanya Streptococcus haemolyticus golongan A. Infeksi ini sangat berbahaya dan merupakan 50% dari semua kematian karena infeksi nifas4.
Pada septikemia kuman-kuman dari sarangnya di uterus, langsung masuk keperedaran darah umum dan menyebabkan infeksi umum. Adanya septicemia dapat dibuktikan dengan jalan pembiakan kuman-kuman dari darah. Pada piemia terdapat dahulu tromboflebitis pada vena-vena diuterus serta sinus-sinus pada bekas tempat plasenta. Tromboflebitis ini menjalar ke vena uterine, vena hipogastrika, dan/atau vena ovarii (tromboflebitis pelvika). Dari tempat-tempat thrombus itu embolus kecil yang mengandung kuman-kuman dilepaskan. Tiap kali dilepaskan, embolus masuk keperedaran darah umum dan dibawa oleh aliran darah ketempat-tempat lain, antaranya ke paru-paru, ginjal, otak, jantung, dan sebagainya, dan mengakibatkan terjadinya abses-abses ditempat-tempat tersebut. Keadaan ini dinamakan piemia7.
· Penyebaran melalui jalan limfe dan jalan lain
- Peritonitis4,5
Infeksi nifas dapat menyebar melalui pembuluh limfe didalam uterus langsung mencapai peritoneum dan menyebabkan peritonitis, atau melalui jaringan diantara kedua lembar ligamentum latum yang menyebabkan parametritis ( sellulitis pelvika).
- Parametritis (sellulitis pelvika)4,5
- Peritonitis dapat pula terjadi melalui salpingo-ooforitis atau sellulitis pelvika4,5.
- Infeksi jaringan ikat pelvis dapat terjadi melalui tiga jalan yakni 4:
1. Penyebaran melalui limfe dari luka serviks yang terinfeksi atau dari endometritis.
2. Penyebaran langsung dari luka pada serviks yang meluas sampai kedasar ligamentum.
3. Penyebaran sekunder dari tromboflebitis pelvika.
· Penyebaran melalui permukaan endometrium
- Salpingitis, ooforitis4
Kadang-kadang walaupun jarang, infeksi yang menjalar ketuba Fallopii, malahan ke ovarium.
2.8 Gambaran Klinis
1.Infeksi pada perineum, vulva, vagina, dan serviks
Gejalanya berupa rasa nyeri serta panas pada tempat infeksi, dan kadang-kadang perih bila kencing. Bilamana getah radang bisa keluar, biasanya keadaannya tidak berat suhu sekitar 38° C, dan nadi dibawah 100 per menit. Bila luka terinfeksi tertutup oleh jahitan dan getah radang tidak dapat keluar, demam bisa naik sampai 39-40°C dengan kadang-kadang disertai menggigil4,5.
2. Endometritis
Uterus pada endometritis agak membesar, serta nyeri pada perabaan, dan lembek. Mulai hari ke-3 suhu meningkat, nadi menjadi cepat, akan tetapi dalam beberapa hari suhu dan nadi menurun dan dalam kurang dari satu minggu keadaan sudah normal kembali. Lokia pada endometritis, biasanya bertambah dan kadang-kadang berbau4,5.
3.Septikemia dan Piemia
Sampai tiga hari postpartum suhu meningkat dengan cepat, biasanya disertai dengan menggigil. Selanjutnya, suhu berkisar antara 39-40°C, keadaan umum cepat memburuk, nadi menjadi cepat (140-160/menit atau lebih). Penderita dapat meninggal dalam 6-7 hari postpartum. Jika ia hidup terus, gejala-gejala menjadi seperti piemia. Pada piemia penderita tidak lama postpartum sudah merasa sakit, perut nyeri dan suhu agak meningkat. Akan tetapi, gejala-gejala infeksi umum dengan suhu tinggi serta menggigil terjadi setelah kuman-kuman dengan embolus memasuki peredaran darah umum. Satu cirri khusus pada piemia ialah bahwa berulang-ulang suhu meningkat dengan cepat disertai dengan menggigil, kemudian diikuti oleh turunnya suhu4,5.
4.Peritonitis
Peritonitis nifas bisa terjadi karena meluasnya endometritis, tetapi dapat juga ditemukan bersama-sama dengan salpingo-ooforitis dan sellulitis pelvika.Peritonitis, yang tidak menjadi peritonitis umum, terbatas pada daerah pelvis. Penderita demam, perut bawah nyeri, tetapi keadaan umum tetap baik. Peritonitis umum disebabkan oleh kuman yang sangat pathogen dan merupakan penyakit berat. Suhu meningkat menjadi tinggi, nadi cepat dan kecil, perut kembung dan nyeri, ada defense musculaire. Muka penderita yang mulanya kemerah-merahan, menjadi pucat, mata cekung, kulit muka dingin, terdapat apa yang dinamakan facies hippocratica4,5,7.
5.Sellulitis Pelvika
Sellulitis pelvika ringan dapat menyebabkan suhu yang meninggi dalam nifas. Bila suhu tinggi menetap lebih dari satu minggu disertai dengan rasa nyeri dikiri atau dikanan dan nyeri pada pemeriksaan dalam, hal ini patut dicurigai terhadap kemungkinan sellulitis pelvika. Pada pemeriksaan dalam dapat diraba tahanan padat dan nyeri disebelah uterus dan tahanan ini yang berhubungan erat dengan tulang panggul, dapat meluas keberbagai jurusan. Ditengah-tengah jaringan yang meradang itu bisa tumbuh abses. Penderita tampak sakit, nadi cepat, dan perut nyeri4,5,7.
6.Salpingitis dan ooforitis
Gejala salpingitis dan ooforitis tidak dapat dipisahkan dari pelvio-peritonitis4,5.
9 Diagnosa
Pada penderita dengan infeksi nifas perlu diketahui apakah terbatas pada tempat-tempat masuknya kuman-kuman ke dalam badan atau menjalar keluar tempat. Seorang penderita dengan infeksi yang meluas diluar port de entery tampaknya sakit , suhu akan meningkat dengan kadang – kadang disertai mengigil, nadi cepat, keluhannya juga lebih banyak1,4,5.
Jika ada fasilitas penderita dengan infeksi nifas hendaknya diambil getah dari vagina sebelah atas untuk pembiakan, dan pada infeksi yang tampaknya berat juga diambil darah untuk maksud yang sama. Usaha ini dilakukan untuk mengetahui penyebab infeksi nifas dan guna memilih antibiotik yang paling tepat untuk pengobatan1,4,5.
10 Penatalaksanaan
Prinsip-prinsip pengelolaan sepsis nifas adalah: kecepatan, keterampilan dan prioritas.Penekanan terletak pada pentingnya bekerja dengan cepat dan menurut. Prioritas dalam mengelola sepsis nifas adalah2,5:
a. menilai kondisi pasien
b. memulihkan pasien
c. mengisolasi sesegera mungkin pasien yang diduga infeksi
d. mengambil spesimen untuk menyelidiki organisme kausatif dan mengkonfirmasikan diagnosis
e. memulai terapi antibiotik yang sesuai prioritas, ini berarti harus dilakukan pertama atau sebelum hal lainnya.
Manajemen Umum Sepsis Puerperalis2,3,5
1. Mengisolasi pasien yang diduga terkena sepsis puerpuralis dalam pemberian pelayanan kebidanan. Tujuannya adalah untuk mencegah penyebaran infeksi pada pasien lain dan bayinya.
2. Pemberian antibiotik7,8,9
Kombinasi antibiotik diberikan sampai pasien bebas demam selama 48 jam, dan kombinasi antibiotik berikut ini dapat diberikan :
a. ampisilin 2 g IV setiap 6 jam, dan
b. gentamisin 5 mg / kg berat badan IV setiap 24 jam, dan
c. metronidazol 500 mg IV setiap 8 jam.
Jika demam masih ada 72 jam setelah pemberian antibiotik di atas, dokter akan mengevaluasi dan rujukan ke fasilitas kesehatan tingkat yang lebih tinggi mungkin diperlukan. Antibiotik oral tidak diperlukan jika telah diberikan antibiotik IV.Jika ada kemungkinan pasien terkena tetanus dan ada ketidakpastian tentang sejarah vaksinasi dirinya, perlu diberikan tetanus toksoid.
3. Memberikan banyak cairan3,5
Tujuannya adalah untuk memperbaiki atau mencegah dehidrasi, membantu menurunkan demam dan mengobati shock. Pada kasus yang parah, maka perlu diberikan cairan infus. Jika pasien sadar bisa diberikan cairan oral.
4. Mengesampingkan fragmen plasenta yang tertahan3,5
Fragmen plasenta yang tersisa dapat menjadi penyebab sepsis nifas. Pada rahim, jika terdapat lokhia berlebihan,berbau busuk dan mengandung gumpalan darah, eksplorasi rahim untuk mengeluarkan gumpalan dan potongan besar jaringan plasenta akan diperlukan. Tang Ovum dapat digunakan, jika diperlukan.
5. Keterampilan dalam perawatan kebidanan3,5
Hal ini bertujuan untuk meningkatkan kenyamanan pasien dan untuk membantu penyembuhannya. Berikut aspek perawatan yang penting:
-Istirahat
-standar kebersihan yang tinggi, terutama perawatan perineum dan vulva
-antipiretik dan / atau spon hangat mungkin diperlukan jika demam sangat tinggi
-monitor tanda-tanda vital, lokhia, kontraksi rahim, involusi, urin output, dan mengukur asupan dan keluaran
-membuat catatan akurat
-mencegah penyebaran infeksi dan infeksi silang.
6. Perawatan bayi baru lahir3,5
Kecuali ibu sangat sakit, bayi baru lahir bisa tinggal dengannya. Namun, tindakan pencegahan diperlukan untuk mencegah infeksi dari ibu ke bayi. Pengamatan sangat penting untuk mengenali tanda-tanda awal infeksi, karena infeksi pada neonatus dapat menjadi penyebab utama kematian neonatal. Hal yang perlu diperhatikan :
-Mencuci tangan : jika ibu cukup baik kondisinya, penting untuk mencuci tangan sebelum dan sesudah merawat bayi baru lahir
-Menyusui: jika ibu cukup baik, menyusui bisa diteruskan. Jika ibu sangat sakit, dikonsultasikan dengan medis praktisi yang mengkhususkan diri dalam perawatan bayi baru lahir.
-Ibu sangat sakit: jika tidak mungkin bagi bayi baru lahir dirawat oleh ibu, saudara dekat mungkin tersedia bagi merawat bayi sampai ibu cukup baik. Namun, harus ditekankan bahwa karena bayi yang baru lahir juga berisiko dalam mengembangkan infeksi.
7. Manajemen lebih lanjut3,5
Jika tidak ada perbaikan dengan manajemen umum peritonitis di ata, laparotomi akan dilakukan untuk mengalirkan nanah. Jika uterus nekrotik dan sepsis, mungkin diperlukan histerektomi subtotal.
11 Komplikasi4,7
· Sindroma distres pernafasan dewasa
· Koagulasi intravascular diseminata
· Gagal Ginjal akut
· Perdarahan usus
· Gagal hati
· Disfungsi SSP
· Gagal jantung
· Kematian
12 Pencegahan
-Selama kehamilan
Oleh karena anemia merupakan predisposisi untuk infeksi nifas, harus diusahakan untuk memperbaikinya. Keadaan gizi juga merupakan factor penting, karenanya diet yang baik harus diperhatikan3,5.
Coitus pada hamil tua sebaiknya dilarang karena dapat mengakibatkan pecahnya ketuban dan terjadinya infeksi5.
-Selama persalinan
Usaha-usaha pencegahan terdiri dari membatasi sebanyak mungkin kuman-kuman dalam jalan lahir, menjaga supaya persalinan tidak berlarut-larut, menyelesaikan persalinan dengan trauma sedikit mungkin, dan mencegah terjadinya perdarahan banyak. Semua petugas dalam kamar bersalin harus menutup hidung dan mulut dengan masker, alat-alat, kain-kain yang dipakai dalam persalinan harus suci hama. Pemeriksaan dalam hanya boleh dilakukan jika perlu, terjadinya perdarahan harus dicegah sedapat mungkin dan transfusi darah harus diberikan menurut keperluan3,5.
Menyarankan semua wanita hamil untuk mencari bantuan medis segera setelah keluar lendir darah atau cairan dari jalan lahir. Jika selaput ketuban pecah dan tidak mengalami kontraksi, kurangi melakukan pemeriksaan vagina. Jika persalinan tidak dimulai dalam waktu 18 jam setelah selaput ketuban pecah, berikan antibiotik profilaksis, sebagai berikut7,8:
a. ampisilin 2 g IV setiap 6 jam, dan
b. gentamisin 5 mg / kg berat badan IV setiap 24 jam
Hentikan antibiotik setelah persalinan pervaginam, jika persalinan dengan operasi caesar, berikan metronidazol IV 500 mg tiap 8 jam. Antibiotik diteruskan sampai pasien bebas demam selama 48 jam7,8.
-Selama nifas
Sesudah partus terdapat luka-luka dibeberapa tempat pada jalan lahir. Pada hari pertama postpartum harus dijaga agar luka-luka ini tidak dimasuki kuman-kuman dari luar. Tiap penderita dengan tanda-tanda infeksi nifas jangan dirawat bersama dengan wanita-wanita dalam nifas sehat3,5.
Rabu, 12 Juni 2013
INFEKSI MASA NIFAS
A. Pengertian
Infeksi masa adalah semua peradangan yang disebabkan oleh masuknya kuman – kuman ke dalam alat – alt genital pada waktu persalinan dan nifas. Demam nifas atau morbiditas puerperalis meliputi demam dalam masa nifas oleh sebab apapun. Menurut Joint Committee on Maternal Welfare, morbiditas puerperalis ialah kenaikan suhu sampai 380 C atau lebih selama 2 hari dalam 10 hari pertama postpartum, dengan mengecualikan hari pertama.
B. Penyebab
Infeksi nifas umumnya disebabkan oleh bakteri yang dalam keadaan normal berada dalam usus dan jalan lahir. Gorback mendapatkan dari 70 % biakan serviks normal dapat pula ditemukan bakteri anaerob dan aerob patogen. Kuman anerob adalah kokus gram positif (Peptostreptokokus, Peptokokus, Bakteroides dan Clostridium). Kuman aerob adalah bermacam gram positif dan E. coli. Selain itu, infeksi nifas dapat pula disebabkan oleh :
- Streptococus haemolyticus aerobicus, ini merupakan penyebab infeksi yang berat, khususnya golongan A. Infeksi ini biasanya eksogen (dari penderita lain, alat atau kain yang tidak steril, infeksi tenggorokan orang lain)
- Staphylococus aureus, kuman ini biasanya menyebabkan infeksi terbatas, walaupun kadang – kadang menjadi sebab infeksi umum. Banyak ditemukan di rumah sakit.
- Escherichia coli, Kuman ini umumnya berasal dari kandung kencing atau rektum dan dapat menyebabkan infeksi terbatas pada perineum, vulva, dan endometrium. Kuman ini merupakan sebab dari infeksi traktus urinarius.
- Clostridium welchii, infeksi kuman yang bersifat anerobik jarang ditemukan tetapi sangat berbahaya. Infeksi lebih sering terjadi pada abortus kriminalis.
C. Cara terjadinya infeksi :
1. Tangan pemeriksa atau penolong yang tertutup sarung tangan pada pemeriksaan dalam atau operasi membawa bakteri yang sudah ada dalam vagina dalam uterus. Kemungkinan lain ialah bahwa sarung tangan atau alt – alt yang dimasukkan ke dalam jalan lahir tidak sepenuhnya bebas dari kuman – kuman.
2. Droplet infection
Sarung tangan atau alat – alat terkena kontaminasi bakteri yang berasal dari hidung atau tenggorokan penolong.
3. Dalam rumah sakit selalu banyak kuman-kuman pathogen, berasal dari penderita-penderita dengan berbagai jenis infeksi. Kuman-kuman ini bisa dibawa aliran udara kemana-mana.
4. Coitus pada akhir kehamilan tidak merupakan sebab infeksi penting, kecuali apabila mengakibatkan pecahnya ketuban.
5. Infeksi intrapartum sudah dapat memperlihatkan gejala-gejala pada waktu berlangsungnya persalinan. Infeksi intrapartum biasanya terjadi pada partus lama, apalagi jika ketuban sudah lama pecah dan beberapa kali dilakukan pemeriksaan dalam. Gejala-gejala ialah kenaikan suhu, biasanya disertai dengan leukositosis dan takikardia; denyut jantung janin dapat meningkat pula. Air ketuban biasa menjadi keruh dan bau.
D. Faktor Predisposisi
Faktor predisposisi yang terpenting pada infeksi nifas ialah :
1. Semua keadaan yang dapat menurunkan daya tahan penderita, seperti perdarahan banyak, pre-eklamsia, juga infeksi lain, seperti pneumonia, penyakit jantung, dan sebagainya.
2. Partus lama, terutama dengan ketuban pecah lama.
3. Tindakan bedah vaginal, yang menyebabkan perlukaan pada jalan lahir.
4. Tertinggalnya sisa plasenta, selaput ketuban, dan bekuan darah.
E. Golongan Infeksi Nifas
Dapat dibagi dalam 2 golongan : yaitu (1) infeksi yang terbatas pada perineum, vulva, vagina, serviks, dan endometrium ; dan (2) penyebaran dari tempat-tempat tersebut melalui vena-vena, melalui jalan limfe, dan melalui permukaan endometrium.
1. Infeksi pada perineum, vulva, vagina, seviks, dan endometrium
Vulvitis
Pada infeksi bekas sayatan episiotomi atau luka perineum jaringan sekitarnya membengkak, tepi luka menjadi merah dan bengkak ; jahitan ini mudah terlepas dan luka yang terbuka menjadi ulkus dan mangaluarkan pus.
Vaginitis
Infeksi vagina dapat terjadi secara langsung pada luka vagina atau melalui perineum. Permukaan mukosa membengkak dan kemerahan, terjadi ulkus, dan getah mengandung nanah yang keluar dari daerah ulkus. Penyebaran dapat terjadi, tetapi pada umumnya infeksi tinggal terbatas.
Servisitis
Infeksi sering juga terjadi, akan tetapi biasanya tidak menimbulkan banyak gejala. Luka serviks yang dalam dan meluas dan langsung kedasar ligamentum latum dapat menyebabkan infeksi yang menjalar ke parametrium.
Endometritis
Jenis infeksi yang paling sering ialah endometritis. Kuman-kuman memasuki endometrium, biasanya pada luka bekas Insersio plasenta, dan dalam waktu singkat mengikutsertakan seluruh endometrium.
2. Penyebaran melalui pembuluh-pembuluh darah
Septikemia dan piemia
Ini merupakan infeksi umum yang disebabkan oleh kuman-kuman yang sangat pathogen biasanya Streptococcus haemolyticus golongan A. Infeksi ini sangat berbahaya dan merupakan 50% dari semua kematian karena infeksi nifas.
Pada septicemia kuman-kuman dari sarangnya di uterus, langsung masuk keperedaran darah umum dan menyebabkan infeksi umum. Adanya septicemia dapat dibuktikan dengan jalan pembiakan kuman-kuman dari darah. Pada piemia terdapat dahulu tromboflebitis pada vena-vena diuterus serta sinus-sinus pada bekas tempat plasenta. Tromboflebitis ini menjalar ke vena uterine, vena hipogastrika, dan/atau vena ovarii (tromboflebitis pelvika). Dari tempat-tempat thrombus itu embolus kecil yang mengandung kuman-kuman dilepaskan. Tiap kali dilepaskan, embolus masuk keperedaran darah umum dan dibawa oleh aliran darah ketempat-tempat lain, antaranya ke paru-paru, ginjal, otak, jantung, dan sebagainya, dan mengakibatkan terjadinya abses-abses ditempat-tempat tersebut. Keadaan ini dinamakan piemia.
Penyebaran melalui jalan limfe dan jalan lain
Peritonitis
Infeksi nifas dapat menyebar melalui pembuluh limfe didalam uterus langsung mencapai peritoneum dan menyebabkan peritonitis, atau melalui jaringan diantara kedua lembar ligamentum latum yang menyebabkan parametritis ( sellulitis pelvika).
Parametritis (sellulitis pelvika)
Peritonitis dapat pula terjadi melalui salpingo-ooforitis atau sellulitis pelvika.
Infeksi jaringan ikat pelvis dapat terjadi melalui tiga jalan yakni :
1. Penyebaran melalui limfe dari luka serviks yang terinfeksi atau dari endometritis.
2. Penyebaran langsung dari luka pada serviks yang meluas sampai kedasar ligamentum.
3. Penyebaran sekunder dari tromboflebitis pelvika.
Penyebaran melalui permukaan endometrium
Salpingitis, ooforitis
Kadang-kadang walaupun jarang, infeksi yang menjalar ketuba Fallopii, malahan ke ovarium.
F. Gambaran Klinik
Infeksi pada perineum, vulva, vagina, dan serviks
Gejalanya berupa rasa nyeri serta panas pada tempat infeksi, dan kadang-kadang perih bila kencing. Bilamana getah radang bisa keluar, biasanya keadaannya tidak berat suhu sekitar 38° C, dan nadi dibawah 100 per menit. Bila luka terinfeksi tertutup oleh jahitan dan getah radang tidak dapat keluar, demam bisa naik sampai 39-40°C dengan kadang-kadang disertai menggigil.
Endometritis
Uterus pada endometritis agak membesar, serta nyeri pada perabaan, dan lembek. Mulai hari ke-3 suhu meningkat, nadi menjadi cepat, akan tetapi dalam beberapa hari suhu dan nadi menurun dan dalam kurang dari satu minggu keadaan sudah normal kembali. Lokia pada endometritis, biasanya bertambah dan kadang-kadang berbau.
Septikemia dan piemia
Sampai tiga hari postpartum suhu meningkat dengan cepat, biasanya disertai dengan menggigil. Selanjutnya, suhu berkisar antara 39-40°C, keadaan umum cepat memburuk, nadi menjadi cepat (140-160/menit atau lebih). Penderita dapat meninggal dalam 6-7 hari postpartum. Jika ia hidup terus, gejala-gejala menjadi seperti piemia. Pada piemia penderita tidak lama postpartum sudah merasa sakit, perut nyeri dan suhu agak meningkat. Akan tetapi, gejala-gejala infeksi umum dengan suhu tinggi serta menggigil terjadi setelah kuman-kuman dengan embolus memasuki peredaran darah umum. Satu cirri khusus pada piemia ialah bahwa berulang-ulang suhu meningkat dengan cepat disertai dengan menggigil, kemudian diikuti oleh turunnya suhu.
Peritonitis
Peritonitis nifas bisa terjadi karena meluasnya endometritis, tetapi dapat juga ditemukan bersama-sama dengan salpingo-ooforitis dan sellulitis pelvika.
Peritonitis, yang tidak menjadi peritonitis umum, terbatas pada daerah pelvis. Penderita demam, perut bawah nyeri, tetapi keadaan umum tetap baik. Peritonitis umum disebabkan oleh kuman yang sangat pathogen dan merupakan penyakit berat. Suhu meningkat menjadi tinggi, nadi cepat dan kecil, perut kembung dan nyeri, ada defense musculaire. Muka penderita yang mulanya kemerah-merahan, menjadi pucat, mata cekung, kulit muka dingin, terdapat apa yang dinamakan facies hippocratica.
Sellulitis Pelvika
Sellulitis pelvika ringan dapat menyebabkan suhu yang meninggi dalam nifas. Bila suhu tinggi menetap lebih dari satu minggu disertai dengan rasa nyeri dikiri atau dikanan dan nyeri pada pemeriksaan dalam, hal ini patut dicurigai terhadap kemungkinan sellulitis pelvika. Pada pemeriksaan dalam dapat diraba tahanan padat dan nyeri disebelah uterus dan tahanan ini yang berhubungan erat dengan tulang panggul, dapat meluas keberbagai jurusan. Ditengah-tengah jaringan yang meradang itu bisa tumbuh abses. Penderita tampak sakit, nadi cepat, dan perut nyeri.
Salpingitis dan ooforitis
Gejala salpingitis dan ooforitis tidak dapat dipisahkan dari pelvio-peritonitis.
G. Diagnosis
Kebanyakan demam setelah persalinan disebabkan oleh infeksi nifas. Paling sering ditemukan ialah radang saluran pernafasan (bronchitis, pneumonia, dan sebagainya), pielonefritis, dan mastitis.
Dalam minggu pertama biasanya gejala-gejala setempat belum menunjukkan dengan nyata adanya perluasan infeksi ; yang lebih penting ialah gejala umum. Seorang penderita dengan infeksi yang meluas diluar porte d’entrĂ©e tampaknya sakit, suhu meningkat dengan kadang-kadang disertai menggigil, nadi cepat, keluhannya juga lebih banyak.
H. Prognosis
Menurut derajatnya septicemia merupakan infeksi yang paling berat dengan mortalitas tinggi, dan yang segera diikuti oleh peritonitis umum. Pada Pelvioperitonitis dan Sellulitis pelvis bahaya kematian dapat diatasi dengan pengobatan yang sesuai. Abses memerlukan tindakan untuk mengeluarkan nanahnya.
I. Pencegahan
Selama kehamilan
Oleh karena anemia merupakan predisposisi untuk infeksi nifas, harus diusahakan untuk memperbaikinya. Keadaan gizi juga merupakan factor penting, karenanya diet yang baik harus diperhatikan.
Coitus pada hamil tua sebaiknya dilarang karena dapat mengakibatkan pecahnya ketuban dan terjadinya infeksi.
Selama persalinan
Usaha-usaha pencegahan terdiri dari membatasi sebanyak mungkin kuman-kuman dalam jalan lahir, menjaga supaya persalinan tidak berlarut-larut, menyelesaikan persalinan dengan trauma sedikit mungkin, dan mencegah terjadinya perdarahan banyak. Semua petugas dalam kamar bersalin harus menutup hidung dan mulut dengan masker, alat-alat, kain-kain yang dipakai dalam persalinan harus suci hama. Pemeriksaan dalam hanya boleh dilakukan jika perlu, terjadinya perdarahan harus dicegah sedapat mungkin dan transfusi darah harus diberikan menurut keperluan.
Selama nifas
Sesudah partus terdapat luka-luka dibeberapa tempat pada jalan lahir. Pada hari pertama postpartum harus dijaga agar luka-luka ini tidak dimasuki kuman-kuman dari luar. Tiap penderita dengan tanda-tanda infeksi nifas jangan dirawat bersama dengan wanita-wanita dalam nifas sehat.
J. Pengobatan
Antibiotika memegang peranan yang sangat penting dalam pengobatan infeksi nifas. Karena pemeriksaan-pemeriksaan ini memerlukan waktu, maka pengobatan perlu dimulai tanpa menunggu hasilnya. Dalam hal ini dapat diberikan penicillin dalam dosis tinggi atau antibiotika dengan spectrum luas, seperti ampicillin dan lain-lain.
Disamping pengobatan dengan antibiotika, tindakan-tindakan untuk mempertinggi daya tahan badan tetap perlu dilakukan. Perawatan baik sangat penting, makanan yang mengandung zat-zat yang diperlukan hendaknya diberikan dengan cara yang cocok dengan keadaan penderita, dan bila perlu transfusi darah dilakukan.
Pada sellulitis pelvika dan pelvioperitonitis perlu diamat-amati dengan seksama apakah terjadi abses atau tidak. Jika terjadi abses, abses harus dibuka dengan menjaga supaya nanah tidak masuk kedalam rongga peritoneum dan pembuluh darah yang agak besar tidak sampai dilukai.
PAYUDARA BERUBAH MENJADI MERAH, PANAS, DAN TERASA SAKIT
A. Pembendungan ASI (Zogstuwing, engorgement of the breast)
Sesudah bayi lahir dan plasenta keluar, kadar estrogen dan progesteron turun dalan 2 – 3 hari. Dengan ini faktor dari hipotalamus yang menghalangi keluarnya Pituitary Lactogenic Hormone (prolaktin) waktu hamil, dan sangat dipengaruhi oleh estrogen, tidak dikeluarkan lagi, dan terjadi sekresi prolaktinoleh hipofisis. Hormon ini menyebabkan alveolus – alveolus kelenjar mamae terisi dengan air susu, tetapi untuk mengeluarkannya dibutuhkan reflek yang menyebabkan kontraksi sel – sel mioepitelialyang mengelilingi alveolus dan duktus kecil kelenjar – kelenjar tersebut. Reflek ini timbul jika bayi menyusu.
Penyebab :
- Bayi tidak menyusu dengan baik sehingga kelenjar – kelenjar tidak dikosongkan dengan sempurna
- Putting susu datar sehingga menyebabkan bayi sukar menyusui
Komplikasi :
- Payudara terasa panas, keras pada perabaan
- Nyeri pada payudara
- Putting susu datar sehingga menyebabkan bayi sukar menyusui
- Pengeluaran air susu terhalang sebab duktuli laktiferi menyempit karena pembesaran vena serta pembuluh limfe
Penanganan :
- Menyokong mamae dengan BH yang nyaman
- Memberikan analgetika
- Sebelyum bayi menyusu pengeluaran air susu dengan pijatan yang ringan
- Kompres dingin
B. Mastitis
Mastitis adalah peradangan pada payudara. Kejadian ini biasanya terjadi 1 – 3 minggu setelah postpartum.
Klasifikasi :
1. mastitis dibawah areola mamae
2. Mastitis di tengah – tengah mamae
3. mastitis pada jaringan di bawah dorsal dari kelenjar – kelenjar antara mamae dan otot – otot dibawahnya
Penyebab :
- Staphylococus aureus
- Sumbatan saluran susu yang berlanjut
Komplikasi :
- Mamae membesar, nyeri, merah, dan menmbengkak
- Temperatur badan ibu tinggi kadang disertai menggigil
- Bila mastitis nerlanjut dapat menyebabkan abses payudara
Pencegahan :
- Perawatan putting susu pada waktu laktasi
- Perawat yang memberikan pertolongan pada ibunyang menyusui bayinya harus bebas dari infeksi dengan stafilokokus
- Bila ada retak atau luka pada putting sebaiknya bayinya jangan menyusu pada mamae yang bersangkutan
- Air susu ibu dikeluarkan dengan pijatan
Pengobatan :
- berikan antibiotika
- Bila terdapat abses, pus perlu dikeluarkan
Infeksi masa adalah semua peradangan yang disebabkan oleh masuknya kuman – kuman ke dalam alat – alt genital pada waktu persalinan dan nifas. Demam nifas atau morbiditas puerperalis meliputi demam dalam masa nifas oleh sebab apapun. Menurut Joint Committee on Maternal Welfare, morbiditas puerperalis ialah kenaikan suhu sampai 380 C atau lebih selama 2 hari dalam 10 hari pertama postpartum, dengan mengecualikan hari pertama.
B. Penyebab
Infeksi nifas umumnya disebabkan oleh bakteri yang dalam keadaan normal berada dalam usus dan jalan lahir. Gorback mendapatkan dari 70 % biakan serviks normal dapat pula ditemukan bakteri anaerob dan aerob patogen. Kuman anerob adalah kokus gram positif (Peptostreptokokus, Peptokokus, Bakteroides dan Clostridium). Kuman aerob adalah bermacam gram positif dan E. coli. Selain itu, infeksi nifas dapat pula disebabkan oleh :
- Streptococus haemolyticus aerobicus, ini merupakan penyebab infeksi yang berat, khususnya golongan A. Infeksi ini biasanya eksogen (dari penderita lain, alat atau kain yang tidak steril, infeksi tenggorokan orang lain)
- Staphylococus aureus, kuman ini biasanya menyebabkan infeksi terbatas, walaupun kadang – kadang menjadi sebab infeksi umum. Banyak ditemukan di rumah sakit.
- Escherichia coli, Kuman ini umumnya berasal dari kandung kencing atau rektum dan dapat menyebabkan infeksi terbatas pada perineum, vulva, dan endometrium. Kuman ini merupakan sebab dari infeksi traktus urinarius.
- Clostridium welchii, infeksi kuman yang bersifat anerobik jarang ditemukan tetapi sangat berbahaya. Infeksi lebih sering terjadi pada abortus kriminalis.
C. Cara terjadinya infeksi :
1. Tangan pemeriksa atau penolong yang tertutup sarung tangan pada pemeriksaan dalam atau operasi membawa bakteri yang sudah ada dalam vagina dalam uterus. Kemungkinan lain ialah bahwa sarung tangan atau alt – alt yang dimasukkan ke dalam jalan lahir tidak sepenuhnya bebas dari kuman – kuman.
2. Droplet infection
Sarung tangan atau alat – alat terkena kontaminasi bakteri yang berasal dari hidung atau tenggorokan penolong.
3. Dalam rumah sakit selalu banyak kuman-kuman pathogen, berasal dari penderita-penderita dengan berbagai jenis infeksi. Kuman-kuman ini bisa dibawa aliran udara kemana-mana.
4. Coitus pada akhir kehamilan tidak merupakan sebab infeksi penting, kecuali apabila mengakibatkan pecahnya ketuban.
5. Infeksi intrapartum sudah dapat memperlihatkan gejala-gejala pada waktu berlangsungnya persalinan. Infeksi intrapartum biasanya terjadi pada partus lama, apalagi jika ketuban sudah lama pecah dan beberapa kali dilakukan pemeriksaan dalam. Gejala-gejala ialah kenaikan suhu, biasanya disertai dengan leukositosis dan takikardia; denyut jantung janin dapat meningkat pula. Air ketuban biasa menjadi keruh dan bau.
D. Faktor Predisposisi
Faktor predisposisi yang terpenting pada infeksi nifas ialah :
1. Semua keadaan yang dapat menurunkan daya tahan penderita, seperti perdarahan banyak, pre-eklamsia, juga infeksi lain, seperti pneumonia, penyakit jantung, dan sebagainya.
2. Partus lama, terutama dengan ketuban pecah lama.
3. Tindakan bedah vaginal, yang menyebabkan perlukaan pada jalan lahir.
4. Tertinggalnya sisa plasenta, selaput ketuban, dan bekuan darah.
E. Golongan Infeksi Nifas
Dapat dibagi dalam 2 golongan : yaitu (1) infeksi yang terbatas pada perineum, vulva, vagina, serviks, dan endometrium ; dan (2) penyebaran dari tempat-tempat tersebut melalui vena-vena, melalui jalan limfe, dan melalui permukaan endometrium.
1. Infeksi pada perineum, vulva, vagina, seviks, dan endometrium
Vulvitis
Pada infeksi bekas sayatan episiotomi atau luka perineum jaringan sekitarnya membengkak, tepi luka menjadi merah dan bengkak ; jahitan ini mudah terlepas dan luka yang terbuka menjadi ulkus dan mangaluarkan pus.
Vaginitis
Infeksi vagina dapat terjadi secara langsung pada luka vagina atau melalui perineum. Permukaan mukosa membengkak dan kemerahan, terjadi ulkus, dan getah mengandung nanah yang keluar dari daerah ulkus. Penyebaran dapat terjadi, tetapi pada umumnya infeksi tinggal terbatas.
Servisitis
Infeksi sering juga terjadi, akan tetapi biasanya tidak menimbulkan banyak gejala. Luka serviks yang dalam dan meluas dan langsung kedasar ligamentum latum dapat menyebabkan infeksi yang menjalar ke parametrium.
Endometritis
Jenis infeksi yang paling sering ialah endometritis. Kuman-kuman memasuki endometrium, biasanya pada luka bekas Insersio plasenta, dan dalam waktu singkat mengikutsertakan seluruh endometrium.
2. Penyebaran melalui pembuluh-pembuluh darah
Septikemia dan piemia
Ini merupakan infeksi umum yang disebabkan oleh kuman-kuman yang sangat pathogen biasanya Streptococcus haemolyticus golongan A. Infeksi ini sangat berbahaya dan merupakan 50% dari semua kematian karena infeksi nifas.
Pada septicemia kuman-kuman dari sarangnya di uterus, langsung masuk keperedaran darah umum dan menyebabkan infeksi umum. Adanya septicemia dapat dibuktikan dengan jalan pembiakan kuman-kuman dari darah. Pada piemia terdapat dahulu tromboflebitis pada vena-vena diuterus serta sinus-sinus pada bekas tempat plasenta. Tromboflebitis ini menjalar ke vena uterine, vena hipogastrika, dan/atau vena ovarii (tromboflebitis pelvika). Dari tempat-tempat thrombus itu embolus kecil yang mengandung kuman-kuman dilepaskan. Tiap kali dilepaskan, embolus masuk keperedaran darah umum dan dibawa oleh aliran darah ketempat-tempat lain, antaranya ke paru-paru, ginjal, otak, jantung, dan sebagainya, dan mengakibatkan terjadinya abses-abses ditempat-tempat tersebut. Keadaan ini dinamakan piemia.
Penyebaran melalui jalan limfe dan jalan lain
Peritonitis
Infeksi nifas dapat menyebar melalui pembuluh limfe didalam uterus langsung mencapai peritoneum dan menyebabkan peritonitis, atau melalui jaringan diantara kedua lembar ligamentum latum yang menyebabkan parametritis ( sellulitis pelvika).
Parametritis (sellulitis pelvika)
Peritonitis dapat pula terjadi melalui salpingo-ooforitis atau sellulitis pelvika.
Infeksi jaringan ikat pelvis dapat terjadi melalui tiga jalan yakni :
1. Penyebaran melalui limfe dari luka serviks yang terinfeksi atau dari endometritis.
2. Penyebaran langsung dari luka pada serviks yang meluas sampai kedasar ligamentum.
3. Penyebaran sekunder dari tromboflebitis pelvika.
Penyebaran melalui permukaan endometrium
Salpingitis, ooforitis
Kadang-kadang walaupun jarang, infeksi yang menjalar ketuba Fallopii, malahan ke ovarium.
F. Gambaran Klinik
Infeksi pada perineum, vulva, vagina, dan serviks
Gejalanya berupa rasa nyeri serta panas pada tempat infeksi, dan kadang-kadang perih bila kencing. Bilamana getah radang bisa keluar, biasanya keadaannya tidak berat suhu sekitar 38° C, dan nadi dibawah 100 per menit. Bila luka terinfeksi tertutup oleh jahitan dan getah radang tidak dapat keluar, demam bisa naik sampai 39-40°C dengan kadang-kadang disertai menggigil.
Endometritis
Uterus pada endometritis agak membesar, serta nyeri pada perabaan, dan lembek. Mulai hari ke-3 suhu meningkat, nadi menjadi cepat, akan tetapi dalam beberapa hari suhu dan nadi menurun dan dalam kurang dari satu minggu keadaan sudah normal kembali. Lokia pada endometritis, biasanya bertambah dan kadang-kadang berbau.
Septikemia dan piemia
Sampai tiga hari postpartum suhu meningkat dengan cepat, biasanya disertai dengan menggigil. Selanjutnya, suhu berkisar antara 39-40°C, keadaan umum cepat memburuk, nadi menjadi cepat (140-160/menit atau lebih). Penderita dapat meninggal dalam 6-7 hari postpartum. Jika ia hidup terus, gejala-gejala menjadi seperti piemia. Pada piemia penderita tidak lama postpartum sudah merasa sakit, perut nyeri dan suhu agak meningkat. Akan tetapi, gejala-gejala infeksi umum dengan suhu tinggi serta menggigil terjadi setelah kuman-kuman dengan embolus memasuki peredaran darah umum. Satu cirri khusus pada piemia ialah bahwa berulang-ulang suhu meningkat dengan cepat disertai dengan menggigil, kemudian diikuti oleh turunnya suhu.
Peritonitis
Peritonitis nifas bisa terjadi karena meluasnya endometritis, tetapi dapat juga ditemukan bersama-sama dengan salpingo-ooforitis dan sellulitis pelvika.
Peritonitis, yang tidak menjadi peritonitis umum, terbatas pada daerah pelvis. Penderita demam, perut bawah nyeri, tetapi keadaan umum tetap baik. Peritonitis umum disebabkan oleh kuman yang sangat pathogen dan merupakan penyakit berat. Suhu meningkat menjadi tinggi, nadi cepat dan kecil, perut kembung dan nyeri, ada defense musculaire. Muka penderita yang mulanya kemerah-merahan, menjadi pucat, mata cekung, kulit muka dingin, terdapat apa yang dinamakan facies hippocratica.
Sellulitis Pelvika
Sellulitis pelvika ringan dapat menyebabkan suhu yang meninggi dalam nifas. Bila suhu tinggi menetap lebih dari satu minggu disertai dengan rasa nyeri dikiri atau dikanan dan nyeri pada pemeriksaan dalam, hal ini patut dicurigai terhadap kemungkinan sellulitis pelvika. Pada pemeriksaan dalam dapat diraba tahanan padat dan nyeri disebelah uterus dan tahanan ini yang berhubungan erat dengan tulang panggul, dapat meluas keberbagai jurusan. Ditengah-tengah jaringan yang meradang itu bisa tumbuh abses. Penderita tampak sakit, nadi cepat, dan perut nyeri.
Salpingitis dan ooforitis
Gejala salpingitis dan ooforitis tidak dapat dipisahkan dari pelvio-peritonitis.
G. Diagnosis
Kebanyakan demam setelah persalinan disebabkan oleh infeksi nifas. Paling sering ditemukan ialah radang saluran pernafasan (bronchitis, pneumonia, dan sebagainya), pielonefritis, dan mastitis.
Dalam minggu pertama biasanya gejala-gejala setempat belum menunjukkan dengan nyata adanya perluasan infeksi ; yang lebih penting ialah gejala umum. Seorang penderita dengan infeksi yang meluas diluar porte d’entrĂ©e tampaknya sakit, suhu meningkat dengan kadang-kadang disertai menggigil, nadi cepat, keluhannya juga lebih banyak.
H. Prognosis
Menurut derajatnya septicemia merupakan infeksi yang paling berat dengan mortalitas tinggi, dan yang segera diikuti oleh peritonitis umum. Pada Pelvioperitonitis dan Sellulitis pelvis bahaya kematian dapat diatasi dengan pengobatan yang sesuai. Abses memerlukan tindakan untuk mengeluarkan nanahnya.
I. Pencegahan
Selama kehamilan
Oleh karena anemia merupakan predisposisi untuk infeksi nifas, harus diusahakan untuk memperbaikinya. Keadaan gizi juga merupakan factor penting, karenanya diet yang baik harus diperhatikan.
Coitus pada hamil tua sebaiknya dilarang karena dapat mengakibatkan pecahnya ketuban dan terjadinya infeksi.
Selama persalinan
Usaha-usaha pencegahan terdiri dari membatasi sebanyak mungkin kuman-kuman dalam jalan lahir, menjaga supaya persalinan tidak berlarut-larut, menyelesaikan persalinan dengan trauma sedikit mungkin, dan mencegah terjadinya perdarahan banyak. Semua petugas dalam kamar bersalin harus menutup hidung dan mulut dengan masker, alat-alat, kain-kain yang dipakai dalam persalinan harus suci hama. Pemeriksaan dalam hanya boleh dilakukan jika perlu, terjadinya perdarahan harus dicegah sedapat mungkin dan transfusi darah harus diberikan menurut keperluan.
Selama nifas
Sesudah partus terdapat luka-luka dibeberapa tempat pada jalan lahir. Pada hari pertama postpartum harus dijaga agar luka-luka ini tidak dimasuki kuman-kuman dari luar. Tiap penderita dengan tanda-tanda infeksi nifas jangan dirawat bersama dengan wanita-wanita dalam nifas sehat.
J. Pengobatan
Antibiotika memegang peranan yang sangat penting dalam pengobatan infeksi nifas. Karena pemeriksaan-pemeriksaan ini memerlukan waktu, maka pengobatan perlu dimulai tanpa menunggu hasilnya. Dalam hal ini dapat diberikan penicillin dalam dosis tinggi atau antibiotika dengan spectrum luas, seperti ampicillin dan lain-lain.
Disamping pengobatan dengan antibiotika, tindakan-tindakan untuk mempertinggi daya tahan badan tetap perlu dilakukan. Perawatan baik sangat penting, makanan yang mengandung zat-zat yang diperlukan hendaknya diberikan dengan cara yang cocok dengan keadaan penderita, dan bila perlu transfusi darah dilakukan.
Pada sellulitis pelvika dan pelvioperitonitis perlu diamat-amati dengan seksama apakah terjadi abses atau tidak. Jika terjadi abses, abses harus dibuka dengan menjaga supaya nanah tidak masuk kedalam rongga peritoneum dan pembuluh darah yang agak besar tidak sampai dilukai.
PAYUDARA BERUBAH MENJADI MERAH, PANAS, DAN TERASA SAKIT
A. Pembendungan ASI (Zogstuwing, engorgement of the breast)
Sesudah bayi lahir dan plasenta keluar, kadar estrogen dan progesteron turun dalan 2 – 3 hari. Dengan ini faktor dari hipotalamus yang menghalangi keluarnya Pituitary Lactogenic Hormone (prolaktin) waktu hamil, dan sangat dipengaruhi oleh estrogen, tidak dikeluarkan lagi, dan terjadi sekresi prolaktinoleh hipofisis. Hormon ini menyebabkan alveolus – alveolus kelenjar mamae terisi dengan air susu, tetapi untuk mengeluarkannya dibutuhkan reflek yang menyebabkan kontraksi sel – sel mioepitelialyang mengelilingi alveolus dan duktus kecil kelenjar – kelenjar tersebut. Reflek ini timbul jika bayi menyusu.
Penyebab :
- Bayi tidak menyusu dengan baik sehingga kelenjar – kelenjar tidak dikosongkan dengan sempurna
- Putting susu datar sehingga menyebabkan bayi sukar menyusui
Komplikasi :
- Payudara terasa panas, keras pada perabaan
- Nyeri pada payudara
- Putting susu datar sehingga menyebabkan bayi sukar menyusui
- Pengeluaran air susu terhalang sebab duktuli laktiferi menyempit karena pembesaran vena serta pembuluh limfe
Penanganan :
- Menyokong mamae dengan BH yang nyaman
- Memberikan analgetika
- Sebelyum bayi menyusu pengeluaran air susu dengan pijatan yang ringan
- Kompres dingin
B. Mastitis
Mastitis adalah peradangan pada payudara. Kejadian ini biasanya terjadi 1 – 3 minggu setelah postpartum.
Klasifikasi :
1. mastitis dibawah areola mamae
2. Mastitis di tengah – tengah mamae
3. mastitis pada jaringan di bawah dorsal dari kelenjar – kelenjar antara mamae dan otot – otot dibawahnya
Penyebab :
- Staphylococus aureus
- Sumbatan saluran susu yang berlanjut
Komplikasi :
- Mamae membesar, nyeri, merah, dan menmbengkak
- Temperatur badan ibu tinggi kadang disertai menggigil
- Bila mastitis nerlanjut dapat menyebabkan abses payudara
Pencegahan :
- Perawatan putting susu pada waktu laktasi
- Perawat yang memberikan pertolongan pada ibunyang menyusui bayinya harus bebas dari infeksi dengan stafilokokus
- Bila ada retak atau luka pada putting sebaiknya bayinya jangan menyusu pada mamae yang bersangkutan
- Air susu ibu dikeluarkan dengan pijatan
Pengobatan :
- berikan antibiotika
- Bila terdapat abses, pus perlu dikeluarkan
Kesehatan pada Ibu Nifas dan Menyusui
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Promosi kesehatan ibu nifas adalah upaya untuk mempromosikan kesehatan setelah masa persalinan untuk mencegah terjadinya komplikasi.Masa nifas atau puerperium dimulai setelah plasenta lahir dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil. Masa nifas berlangsung selama kira-kira 6 minggu.
Bidan mempunyai peran sebagai pelaksana, pengelola, peneliti, dan pendidik. Sebagai pelaksana, bidan melakukan tugasnya dalam melakukan pelayanan kesehatan. Sebagai pengelola, bidan memimpin kelompok atau masyarakat dalam meningkatkan mutu kesehatan. Sebagai peneliti, bidan melakukan penelitian dalam berbagai masalah tentang pelayanan kesehatan. Sebagai pendidik, bidan dapat berperan sebagai penyuluh dan penasihat tentang permasalahan kesehatan yang ada di masyarakat, disinilah peran bidan dalam melakukan upaya promosi kesehatan. Dimana sebagai promotor kesehatan bidan harus mampu memberikan penerangan dan pendidikan sesuai sasaran untuk meningkatkan kesehatan. Sasaran akan dapat menerima pelayanan kesehatan yang diberikan bila mereka memahaminya dengan baik serta menganggap pelayanan kesehatan tersebut menguntungkan bagi diri dan lingkungan mereka. Upaya untuk meyakinkan sasaran agar dapat menerima pelayanan kesehatan yang memberi manfaat bagi mereka tidak lain adalah melalui promosi kesehatan seperti promosi kesehatan pada ibu nifas.
Salah satu masalah yang masih tinggi dialami oleh negara Indonesia ialah masalah gizi kurang terutama dalam pemberian Air Susu Ibu (ASI), angka kesakitan dan kematian pada bayi dan anak-anak. Kendala dalam pemberian ASI telah diidentifikasi, diantaranya mencakup faktor-faktor seperti kurangnya informasi, praktik-praktik rumah sakit yang kurang tepat seperti memberikan air dan suplemen untuk bayi tanpa ada kebutuhan medis, kurangnya perawatan tindak lanjut pada awal periode pasca melahirkan, ibu bekerja, kurangnya dukungan sosial yang luas, dan promosi komersial dari susu formula melalui hadiah yang diberikan rumah sakit waktu ibu pulang ke rumah, hadiah untuk bayi dari perusahaan susu formula yang didistribusikan oleh pemberi perawatan selama kehamilan dan iklan-iklan di televisi serta majalah.
Oleh karena itu penulis tergugah untuk membuat suatu makalah yang membahas tentang upaya promosi kesehatan pada ibu nifas dan menyusui.
B. Rumusan Masalah
1. Apakah pengertian dari masa nifas dan menyusui?
2. Apakah yang dimaksud dengan promosi kesehatan pada masa nifas?
3. Apakah yang dimaksud dengan promosi kesehatan pada ibu menyusui?
4. Apa saja yang termasuk upaya kesehatan pada ibu nifas?
5. Apa saja yang termasuk upaya kesehatan pada ibu menyusui?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian dari masa nifas dan menyusui
2. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan promosi kesehatan pada ibu nifas
3. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan promosi kesehatan pada ibu menyusui
4. Untuk mengetahui upaya kesehatan pada ibu nifas
5. Untuk mengetahui upaya kesehatan pada ibu menyusui
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Definisi Masa Nifas
1. Nifas adalah masa pulih kembali,mulai dari persalinan selesai sampai alat-alat kandungan kembali seperti pra hamil, lamanya 6-8 minggu.
2. Masa sesudah persalinan yang diperlukan untuk pulihnya kembali alat kandungan yang lamanya 6 minggu.
3. Masa yang dimulai setelah partus selesai,dan berakhir setelah kira-kira 6 minggu,akan tetapi seluruh alat genital baru pulih kembali seperti sebelum ada kehamilan dalam waktu 3 bulan.
4. Masa yang dimulai setelah kehamilan placenta dan berakhir ketika alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil dan berlangsung kira-kira 6 minggu.
B. Tahap Masa Nifas
1. Puerperium dini
Yaitu kepulihan dimana ibu telah diperbolehkan berdiri dan berjalan,dalam agama islam dianggap telah bersih dan boleh bekerja setelah 40 hari.
2. Peurperium intermedial
Yaitu kepulihan menyeluruh alat-alat genital yang lamanya 6-8 minggu.
3. Remote puerperium
Adalah waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat sempurna terutama bila selama hamil atau waktu persalinan mempunyai komplikasi.Waktu untuk sehat sempurna bisa berminggu-munggu atau tahunan.
Pada masa ini terjadi perubahan-perubahan fisiologi, yaitu :
a. Perubahan fisik
b. Involusi uterus
Setelah plasenta lahir uterus merupakan alat yang keras karena kontraksi dan retraksi otot-otot involusi terjadi karena masing-masing sel menjadi kecil karena sitoplasma yang berlebihan dibuang. Involusi disebabkan karena autolysis yaitu pecahnya zat protein dinding rahim yang diabsorbsi dan dibuang menjadi urine. Pelepasan plasenta dan selaput janin serta dinding rahim terjadi pada stratum spongiosum bagian atas setelah 2-3 hari tampak bahwa lapisan atas stratum spongiosum yang tinggi menjadi nekrotis, sedangkan lapisan bawahnya yang berhubungan dengan otot terpelihara dengan baik.
Bagian yang nekrotis mengeluarkan lochea, sedangkan lapisan yang masih sehat menghasilkan endometrium yang baru.
Epitel baru terjadi karena proliferasi sel-sel kelenjar, sedangkan stroma baru terbentuk dari jaringan ikat yang ada diantara kelenjar-kelenjar. Epitelasi berlangsung selama 10 hari kecuali pada implantasi plasenta memakan waktu 3 minggu.
Tonus otot uterus dipelihara oleh control persyarafan dan dapat dirangsang dengan massase / rangsangan putting susu.
Tabel Tinggi Fundus Uteri dan Berat Uterus menurut Masa Involusi
Involusi
Tinggi Fundus Uteri
Berat Uterus
Bayi lahir
Uri lahir
1 minggu
2 minggu
6 minggu
8 minggu
Setinggi pusat
2-3 jari bawah pusat
Pertengahan pst-sympysis
Tidak teraba diatas syimpysis
Bertambah kecil
Sebesar ukuran normal
1000 gram
750 gram
500 gram
350 gram
50 gram
30 gram
c. Involusi Tempat Plasenta
Setelah persalinan plasenta mengecil karena adanya kontraksi dan menonjol ke kavum uteri dengan diameter 7,5 cm. Setelah 2 minggu menjadi 3-4 cm dan minggu ke 6 1-2 cm dan akhirnya pulih. Penyembuhan luka plasenta khas sekali karena pertumbuhan endometrium di pinggir luka dan juga sisa-sisa kelenjar pada dasar luka.
d. Perubahan Pembuluh Darah Rahim
Dalam kehamilan, uterus mempunyai banyak pembuluh-pembuluh darah yang besar, tetapi pada persalinan tidak diperlukan lagi, maka arteri akan mengecil lagi pada masa nifas.
e. Perubahan Pada Serviks dan Vagina
Setelah persalinan bentuk serviks agak menganga seperti corong berwarna merah kehitaman. Konsistensinya lunak, kadang –kadang terdapat perlukaan-perlukaan kecil. Setelah bayi lahir ostium uteri externum dapat dilalui 2-3 jari dan pada akhir minggu pertama hanya dapat dilalui 1 jari saja. Vagina yang sangat diregang waktu persalinan, lambat laun mencapai ukuran-ukurannya yang normal pada minggu ke 3 post partum rugae mulai tampak kembali.
f. Ligament-Ligament
Ligament-ligament dan diafragma pelvis yang meregang pada waktu persalinan, setelah bayi lahir secara berangsur-angsur menjadi ciut dan pulih kembali, sehingga tidak jarang uterus jatuh kebelakang dan menjadi retrofleksi, karena ligament rotundum menjadi kendor setelah persalinan, kebiasaan wanita Indonesia melakukan berurut dimana sewaktu diurut tekanan infra abdomen bertambah tinggi, karena setelah melahirkan ligament fasia dan jaringan penunjang menjadi kendor. Jika dilakukan urut banyak wanita akan mengeluh “kandungannya turun” untuk memulihkannya kembali sebaiknya melakukan latihan-latihan dan gymnastic pasca persalinan.
g. After Paints (Mules-Mules)
Kontraksi uterus setelah persalinan sangat menganggu selama 2-3 hari post partum. After paints lebih terasa bila wanita tersebut menyusui. Perasaan sakit timbul bila masih ada sisa plasenta, sisa selaput ketuban atau gumpalan darah dalam kavum uteri.
h. Pengeluaran Lochea
Lochea adalah secret yang berasal dari kavum uteri dan vagina dalam masa nifas. Lochea tidak lain dari pada secret luka yang berasal dari luka dalam rahim terutama luka plasenta. Sifat lochea berubah seperti secret luka berubah menurut tingkat penyembuhan luka.
1) Lochea Rubra
a) Waktu keluarnya pada saat 2 hari post partum
b) Konsistensi cair
c) Warnanya merah
d) Baunya biasa atau khas
e) Berisi darah segar dan sisa-sisa selaput ketuban, sel-sel desidua verniks caseosa, lanugo dan mekonium.
2) Lochea Sanguinolenta
a) Waktu keluarnya pada 3-7 hari post partum
b) Konsistensinya lebih kental dan bercampur lender
c) Warna cokelat
d) Baunya biasa dan khas
3) Lochea Serosa
a) Waktu keluarnya pada 7-14 hari post partum
b) Konsistensinya cair dan tidak bercampur darah
c) Warnanya kuning
d) Baunya khas atau biasa
4) Lochea Alba
a) Waktu keluarnya pada saat lebih dari 14 hari post partum
b) Konsistensinya kental dan hampir seperti albus
c) Warnanya putih karena banyaknya leukosit didalamnya
5) Lochea Purulenta (lochea abnormal)
a) Waktu keluarnya jika terjadi infeksi
b) Konsistensinya kental dan bercampur nanah
c) Warna kehijau-hijauan
d) Baunya luar biasa / busuk, menandakan adanya infeksi
6) Lochiostasis
a) Lochea tidak lancar keluarnya
Jika lochea tetap berwarna setelah 2 minggu ada kemungkinan tertinggalnya sisa plasenta atau karena involusi yang kurang sempurna, yang sering disebabkan retrofleksio uteri.
C. Tahap fase aktifitas penting sebelum menjadi seorang ibu menurut Rubin yaitu :
1. Taking – In
a. Periode ini terjadi 1-2 hari sesudah melahirkan.
b. Perhatian ibu tertuju pada tubuhnya.
c. Ibu mengulanga-ulang pengalamannya waktu bersalin.
d. Mencegah gangguan tidur, pusing, iritabel, interferance dengan pengembalian ke keadaan normal.
e. Peningkatan nutrisi.
2. Taking Hold
a. Periode ini berlangsung 2-4 hari post partum.
b. Ibu lebih memfokuskan perhatiannya untuk menjadi orang yang sukses dan meningkatkan tanggung jawab terhadap bayinya.
c. Ibu berkonsentrasi pada pengontrolan fungsi tubuhnya seperti BAB, BAK, kekuatan dan ketahanan tubuhnya.
d. Ibu berusaha keras untuk menguasai tentang ketrampilan perawatan bayi. Misalnya : Menggendong, menyusui, memandikan, dan memasang popok.
3. Letting Go
a. Periode ini biasanya terjadi setelah ibu pulang ke rumah, dan sangat berpengaruh terhadap waktu dan perhatian yang diberikan oleh keluarga.
b. Ibu mengambil tanggung jawab terhadap perawatan bayi.
c. Ibu harus beradaptasi dengan keadaan bayi yang sangat bergantung.
d. Depresi post partum biasanya terjadi pada periode ini.
D. Asuhan Masa Nifas
1. Mencegah infeksi.
2. Meningkatkan penyembuhan jaringan.
3. Meningkatkan involusi uterus dan kenyamanan serta mencegah komplikasi dari mobilisasi.
4. Meningkatkan asupan makanan dan cairan yang adekuat.
5. Meningkatkan pembentukan laktasi atau supresinya.
6. Meningkatkan pola eliminasi normal.
7. Pencegahan isomunisasi Rh pada ibu dengan resus negative.
8. Memenuhi kebutuhan belajar ibu, kebersihan diri, perawatan perinel, payudara, parenting, latihan peregangn otot, hubungan seksual dan kontrasepsi.
9. Meningkatkan rasa percaya diri dan gambaran tubuh serta penurunan stress.
10. Mendorong untuk mempertahankan kesehatan mealui penggunaan sumber-sumber kesehatan yang ada di masyarakat.
E. Upaya Promotif dan Preventif Secara Umum
1. Health promotion : Merupakan usaha meningkatkan nilai kesehatan melalui pemeliharaan secara umum yang di lakukan pada pada ibu nifas adalah sebagai berikut :
Tindakan yang baik untuk asuhan masa nifas normal pada ibu
Tindakan
Deskripsi dan keterangan
Kebersihan diri
Anjurkan kebersihan seluruh tubuh
Mengajarkan ibu bagaimana membersihkan daerah kelamin dengan sabun dan air.pastikan bahwa ia mengerti untuk membersihkan daerah di sekitar vulva terlebih dahulu, dari depan ke belakang, baru kemudian membersihkan daerah sekitar anus. Nasehatkan ibu untuk membersihkan diri setiap kali selesai buang air kecil atau besar.
Sarankan ibu untuk mengganti pembalut atau kain pembalut setidaknya dua kali sehari. Kain dapat digunakan ulang jika telah dicuci dengan baik, dan dikeringkan di bawah matahari atau di seterika.
Sarankan ibu untuk mencuci tanagan dengan sabun dan air sebelum dan sesudah membersihkan daerah kelaminnya.
Jika ibu mempunyai luka episiotomy atau laserasi, sarankan kepada ibu untuk menghindari menyenth daerah luka.
Istirahat
Anjurkan ibu untuk beristirahat cukup untuk mencegah kelelahan yang berlebihan.
Saranka ia untuk kembali ke kegiatan-kegiatan rumah tangga biasa perlahan-lahan, serta untuk tidur siang atau beristirahat selagi bayi tidur.
Kurang istirahat akan mempengaruhi ibu dalam beberapa hal :
- Mengurangi jumlah ASI yang diproduksi
- Memperlambat proses involusi uterus dan memperbanyak perdarahan.
- Menyebabkan depresi dan ketidak mampuan untuk merawat bayi dan dirinya sendiri.
Latihan
Diskusikan pentingnya mengembalikan otot-otot perut dan panggul kembali normal. Ibu akan merasa lebih kuata dan ini menyaebabkan otot perutnya menjadi kuata sehingga mengurangi rasa sakit pada punggung.
Jelaskan bahwa latihan tertentu beberapa menit setiap hari sangat membantu, seperti, :
- Dengan tidur telentang dengan lengan di samping, menarik otot perut selagi menarik nafas, tahan nafas kedalam dan angkat dagu ke dada :
Tahan satu hitungan sampai 5. Rileks dan ulangi 10 kali.
- Untuk memperkuat tonus otot vagina (latiahan Kegel).
Berdiri dengna tungkai dirapatkan. Kencangkan otot-otot, pantat dan pinggu tahan sampai 5 hitungan. Kendurkan dan ulangi latihan sebanyak 5 kali.
Mulai dengan mengerjakan 5 kali latihan utnuk setiap gerakan . setiap minggu naikkan jumlah latihan 5 kali lebih banyak. Pada minggu ke-6 setelah persalinan ibu harus memngerjakan setiap gerakan sebanyak 30 kali.
Gizi
Ibu menyusui harus :
Mengkonsumsi tambahan 500 kalori tiap hari.
Makan dengan diet berimbang untuk mendapatkan protein, mineral dan vitamin yang cukup.
Minum sedikitnya 3 liter air setiap hari (anjurkan ibu untuk minum setiap kali menyusui).
Pil zat besi harus diminum untuk menambah zat gizi setidaknya selama 40 hari pasca bersalin.
Minum kapsul vitamin A (200.000 unit) agar bisa memeberikan vitamin A kepada bayinya melalui ASI nya.
Perawatan Payudara
Menjaga payudara tetap bersih dan kering .
Menggunakan BH yang menyokong payudara.
Apabila putting susu lecet oleskan kolostrum atau ASI yang keluar pada sekitar putting susu setiap kali selesai menyu ASI yang keluar pada sekitar putting susu setiap kali selesai menyusuisui. Menyususi tetap dilakukan dimulai dari putting susu yang tidak lecet
Apabila lecet sangat berat dapat diistirahatkanselama 24 jam. ASI dikeluarkan dan diminusui. Menyususi tetap dilakukan dimulai dari putting susu yang tidak lecet
Apabila lecet sangat berat dapat diistirahatkanselama 24 jam. ASI dikeluarkan dan diminumkan dengan menggunakan sendok.
Untuk menghilangkan nydengan menggunakan sendok.
Untuk menghilangkan nyeri dapat minum paracetamol 1 tablet setiap 4-6 paracetamol 1 tablet setiap 4-6 jam.
Apabila payudara bengkak akibat pembendungan ASI, lakukan :
- Pengompresan payudara dengan menggunakan kain basah dan hangat selama 5 menit.
- Urut payudara dari pangkal menuju putting atau gunakan sisir untuk mengurut payudara dengna arah “Z” meneju putting.
- Keluarkan ASI sebagian dari bagian depan paudara sehingga putting susu menjadi lunak.
- Susukan bayi setiap 2-3 jam sekali apabila tidak dapat menghisap seluruh ASI keluarkan dengna tangan.
- Letakakn kain dingin pada payudara setelah menyusui.
- Payudara dikeringkan.
Hubungan Perkawinan / Rumah Tangga
Secara fisik aman untuk memulai banyak budaya, yang mempunyahubungan suammi istri begitu darah merah berhenti dan ibu dapat memasukkan satu atau sua jarinya kedalam vagina tanpa rasa nyeri. Begitu darah merah berhenti dan dia tidak merasakan ketidaknyamanan, aman untuk memulai melakukan hubungan suami istri kapan saja ibu siap.
Banyak budaya, yang mempuyai tradisi mennda hubungan suami istri sampai masa waktu tertentu, misalnya setelah 40 hari atau 6 minggu setelah persalinan. Keputusan tergantung pada pasangan yang bersangkutan.
Keluarga Berencana
Idealnya pasangan harus menunggu sekurang-kurangnya 2 tahun sebelum ibu hamil kembali. Setiap pasangan harus menentukan sendiri kaoan dan bagaimana mereka ingin merencanakan tentang keluarganya. Namun, petugas kesehatan dapat membantu merencanakan keluarganya dengan mengajarkan kepada mereka tentang cara mencegah kehamilan yang tidak diinginkan.
Biasanya wanita tidak akan menghasilkan telur (ovulasi) sebelum ia mendapatkan lagi haidnya selama meneteki. Oleh karena itu, metode amenore laktasi dapat dipakai sebelum haid pertama kembali untuk mencegah terjadinya kehamilan baru resiko caranya ini ialah 2 % kehamilan.
Meskipun beberapa metode KB mengandung resiko, menggunakan kontrasepsi tetap lebih aman, terutama bila ibu sudah haid lagi.
Sebelum menggunakan metode KB, hal-hal berikut sebaiknya dijelaskan dahulu kepada ibu :
- Bagaimana metode ini dapat mencegah kehamilan dan evektifitasnya,
- Kelebihan atau keuntungannya,
- Kekurangannya,
- Efek samping,
- Bagaimana menggunakan metode itu,
- Kapan metode itu dapat mulai digunakan utnuk wanita pasca salin yang menyusui.
Jika seorang ibu atau pasangan telah memilih metode KB tertentu, ada baikny untuk bertemu dengannye lagi dalam 2 minggu untuk mengetahui apakah ada yang ingin ditanyakan oleh ibu / pasangan itu dan untuk melihat apakah metode tersebut bekerja dengan baik.
Tindakan Lazim Yang Tidak Bermanfaat, Bahkan Dapat Membahayakan
Tindakan
Diskripsi dan keterangan
Menghindari makanan berprotein seperti ikan atau telur.
Ibu menyusui butuh tambahan kalori sebesar 500 per hari-nya
Penggunaan bebat perut segera pada masa nifas (2-4 jam pertama).
Selama 1 jam pertama, petugas perlu memriksa fusndus setiap 15 menit dan melakukan massase jika kontraksi tidak kuat; selama 1 jam kedua masa nifas petugas perlu memeriksa fundus setiap 30 menit dan melakukan massase jika kontraksi tidak kuat. Penggunaan pembebat parut selama masa kritis membuat sulit bagi petugas kesehatan untuk menilai tonus dan posisi uterus, untuk melakukan massase uterus jika diperlukan dan memperkirakan banyak darah yang keluar.
Penggunaan kantong es atau pasir untuk menjaga uterus berkontraksi.
Merupakan perawatan yang tidak efektif untuk atonia uteri
Memisahkan bayi dari ibunya untuk masa yang lama pada 1 jam pertama setelah melahirkan.
Masa transisi adalah masa kritis untuk ikatan dan bagi bayi untuk memulai menyusu. Bayi baru lahir pada 2 jam pertama setelah kelahiran merupakan masa paling siaga; setelah masa ini, ia biasanya tidur.
2. Spesifik Protection
Usaha pencegahan dan pengobatan infeksi pada masa nifas, meliputi :
a. Menjaga kebersihan diri (personal hygine) pada alat genital dari semua hal yang dapat menyebabkan timbulnya nbakteri.
b. Pengunjung-pengunjung dari luar hendaknya pada hari-hari pertama dibatasi sedapat mungkin untuk mencegah terjadinya cross infeksi.
c. Tiap penderita dengan tanda-tanda infeksi nifas jangan dirawat bersama dengan wanita-wanita dalam nifas yang sehat.
d. Melakukan scrinning test untuk mengetahui jenis kuman-kuman yang menjadi penyebab infeksi nifas sebelum diputuskan untuk memberi antibiotik yang tepat dan sebelum terapi dimulai.
e. Diberikan penicillin dalam dosis tinggi atau antibiotika dengan spectrum luas ( broad spectrum antibiotics), seperti ampicilin, dan lain-lain. Setelah hasil pembiakan serta tes-tes kepekaan diketahui, dapat dilakukan pengobatan yang paling sesuai.
f. Kombinasi penicillin G dan tetracylin dalam dosis tinggi IV sangat efektif terhadap infeksi nifas, sedangkan Di Bagian Obstetri Dan Ginekologi FKUI/RSCM diipakai sulbenicillin atau garamicin atau kombinasi penicillin G dengan chloramphenicol dengan hasil cukup memuaskan.
g. Selain pengobatan dengan antibiotika, tindakan-tindakan untuk mempertinggi daya tahan badan tetap perlu dilakukan dengan cara mengkonsumsi makanan seimbang yang mengandung zat-zat yang diperlukan tubuh untuk menjaga sistem kekebalan tubuh.
h. Jika terjadi abses pada sellulitis pelvika dan pelvioperitonitis, abses harus dibuka dengan menajaga supaya nanah tidak masuk kedalam rongga peritoneum dan pembuluh darah yang agak besar tidak sampai dilukai.
3. Early Diagnosis Dan Promtratment
Usaha pengobatan secara tepat dan adekuat yang ditujukan pada ibu yang menderita infeksi nifas agar dapat dipulihkan kesehatannya antara lain :
a. Mencegah penyebaran penyakit
b. Mengobati dan menghentikan proses infeksi nifas.
c. Menyembuhkan penderita infeksi nifas dan mencegah terjadinya komplikasi pada masa nifas.
4. Disability Limitation
Usaha pembatasan kecacatan atau pada tahap inicacat yang terjadi terutama untuk mencegah infeksi nifas menjadi berkelanjutan.
a. Memberikan pengobatan yang tepat dengan cara pemberian anti biotik yang tepat
b. Melakukan pengontrolan secara teratur dan rutin untuk mencegah komplikasi
5. Rehabilitation
a. Pada proses ini di usahakan agar infeksi pada ibu nifas tidak menjadi hambatan sehingga individu yang menderita dapat berfungsi optimal, secara fisik, mental, dan social.
b. Memberikan dukungan moril dan mental pada ibu dengan infeksi nifas
F. Definisi Menyusui
Menyusui adalah proses pemberian susu kepada bayi atau anak kecil dengan Air Susu Ibu (ASI) dari payudara ibu. Bayi menggunakan refleks menghisap untuk mendapatkan dan menelan susu. Bukti eksperimental menyimpulkan bahwa air susu ibu adalah gizi terbaik untuk bayi. Seorang bayi dapat disusui oleh ibunya sendiri atau oleh wanita lain. ASI juga dapat diperah dan diberikan melalui alat menyusui lain seperti botol susu, cangkir, sendok, atau pipet. Pemerintah dan organisasi internasional sepakat untuk mempromosikan menyusui sebagai metode terbaik untuk pemberian gizi bayi setidaknya tahun pertama dan bahkan lebih lama lagi, antara lain WHO, American Academy of Pediatrics, dan Departemen Kesehatan.
ASI Eksklusif adalah pemberian ASI saja sejak bayi dilahirkan sampai usia 6 bulan. ASI sangat baik untuk kesehatan bayi, ASI juga mengandung antibiotik yang bisa melindungi bayi dari berbagai penyakit selama antibodinya berkembang. Oleh sebab itu pemberian ASI disarankan pada 6 bulan awal masa kelahiran (ASI eksklusif).
Promosi kesehatan adalah upaya perubahan atau perbaikan perilaku dibidang kesehatan disertai dengan upaya mempengaruhui lingkungan atau hal- hal lain yang sangat berpengaruh terhadap perbaikan perilaku dan kualitas kesehatan.
Ibu menyusui adalah ibu yang memberikan susu kepada bayi atau anak kecil dengan air susu ibu (ASI) dari payudara ibu itu sendiri.
Promosi kesehatan pada ibu menyusui adalah upaya perubahan atau perbaikan perilaku yang dapat berpengaruh terdapat perilaku dan kualitas kesehatan terhadap ibu menyusui.
G. Tujuan Promosi Kesehatan pada Ibu Menyusui
Tujuan jangka panjang dalam promosi kesehatan pada ibu menyusui adalah mengoptimalkan status kesehatan dalam hal menyusui, tujuan jangka menengah adalah menciptakan perilaku sehat menyusui yang baik dan benar dan tujuan jangka pendek adalah sasaran atau ibu menyusui mengerti dan memahami teknik menyusui yang benar, bersikap dan memiliki norma yang positif mengenai menyusui.
H. Promosi Kesehatan pada Ibu Menyusui
Penyelenggaraan Pekan ASI Sedunia adalah suatu gerakan yang dilaksanakan secara serentak di seluruh dunia pada setiap minggu pertama bulan Agustus. Tujuannya adalah agar setiap negara, secara terus menerus bersama-sama melaksanakan upaya-upaya yang nyata untuk membantu ibu agar berhasil menyusui. "Menyusui : Sepuluh Langkah Menuju Sayang Bayi" adalah tema Pekan ASI Sedunia tahun 2010 dengan slogan “Sayang Bayi, Beri ASI” adalah suatu komitmen nyata dari fasilitas kesehatan untuk mendukung keberhasilan menyusui, melalui pemberian perlindungan dan memberikan informasi serta dukungan kepada ibu agar dapat menyusui bayinya secara eksklusif.
Sepuluh langkah menuju keberhasilan menyusui atau Ten Step to Successful Breeastfeeding (WHO/UNICEF 1989, isi dikembangkan oleh DepKes RI dan BKPPASI) merupakan upaya promosi kesehatan pada ibu menyusui yaitu:
1. Langkah I : Buatlah kebijakan tertulis tentang pemberian ASI yang secara rutin dikomunikasikan kepada semua petugas pelayanan kesehatan.
Pada tahun 1989, UNICEF bersama WHO memperkenalkan Sepuluh Langkah Keberhasilan Menyusui dengan mengeluarkan sebuah Pernyataan Bersama mengenai “Perlindungan, Promosi, dan Dukungan Menyusui: Peran Khusus Fasilitas Pelayanan Kesehatan Ibu”. Tahun 1990 Deklarasi Innocenti menghimbau dunia agar mendukung pelaksanaan Sepuluh Langkah disemua fasilitas kesehatan yang memberikan pelayanan kesehatan ibu. Selain itu juga mempunyai kebijakan yang melarang promosi susu formula sesuai dengan Juklak Dep.Kes. tahun 1991 tentang Permenkes no.240 tahun 1985. Dimana semua kebijakan tersebut harus dikomunikasikan secara rutin kepada semua staf dan dipasang pada tempat yang mudah terlihat oleh semua orang yang datang ke Pelayanan Kesehatan tersebut.
2. Langkah II : Memberikan pelatihan bagi petugas kesehatan untuk dapat melaksanakan hal-hal yang disebutkan dalam kebijakan tertulis mengenai pemberian ASI.
Keberhasilan komunikasi antara petugas kesehatan dan pasien pada umumnya akan melahirkan kenyamanan dan kepuasan bagi kedua belah pihak, khususnya timbulnya empati atau ikut merasakan apa yang sedang dialami oleh pasien. Pada promosi kesehatan pada ibu menyusui petugas kesehatan diberi pelatihan mengenai berkomunikasi yang baik secara efektif dengan ibu-ibu (ibu menyusui) dan keluarganya sehingga dapat membantu menumbuhkan kepercayaan diri khususnya pada ibu menyusui dan meningkatkan kepercayaan terhadap tenaga kesehatan yang memberikan pelayanan kesehatannya serta keterampilan mengenai menyusui yang baik. Dalam melaksanakan promosi pemberian ASI di Rumah Sakit pelatihan kepada petugas meliputi:
a. 10 langkah menuju keberhasilan menyusui dan kebijakan tertulis lainnya mengenai pemberian ASI.
b. Pelatihan paling sedikit 16 jam dan pengalaman klinik paling sedikit 3 jam, kemudian diikuti dengan supervisi.
c. Pelatiahan atau penyegaran dilakukan secara berkelanjutan terhada semua staf yang terkait terhada promosi pemberian ASI
3. Langkah III : Menjelaskan manfaat menyusui
Keunggulan dan manfaat menyusui dapat dilihat dari beberapa aspek yaitu: aspek gizi, aspek imunologik, aspek psikologi, aspek kecerdasan, neurologis, ekonomis dan aspek penundaan kehamilan.
a. Aspek Gizi.
Manfaat Kolostrum :
1) Kolostrum mengandung zat kekebalan terutama IgA untuk melindungi bayi dari berbagai penyakit infeksi terutama diare.
2) Jumlah kolostrum yang diproduksi bervariasi tergantung dari hisapan bayi pada hari-hari pertama kelahiran. Walaupun sedikit namun cukup untuk memenuhi kebutuhan gizi bayi. Oleh karena itu kolostrum harus diberikan pada bayi.
3) Kolostrum mengandung protein, vitamin A yang tinggi dan mengandung karbohidrat dan lemak rendah, sehingga sesuai dengan kebutuhan gizi bayi pada hari-hari pertama kelahiran.
4) Membantu mengeluarkan mekonium yaitu kotoran bayi yang pertama berwarna hitam kehijauan.
Komposisi ASI :
1) ASI mudah dicerna, karena selain mengandung zat gizi yang sesuai, juga mengandung enzim-enzim untuk mencernakan zat-zat gizi yang terdapat dalam ASI tersebut.
2) ASI mengandung zat-zat gizi berkualitas tinggi yang berguna untuk pertumbuhan dan perkembangan kecerdasan bayi/anak.
3) Selain mengandung protein yang tinggi, ASI memiliki perbandingan antara Whei dan Casein yang sesuai untuk bayi. Rasio Whei dengan Casein merupakan salah satu keunggulan ASI dibandingkan dengan susu sapi. ASI mengandung Whey : Casein lebih banyak yaitu 65 : 35. Komposisi ini menyebabkan protein ASI lebih mudah diserap. Sedangkan pada susu sapi mempunyai perbandingan Whey:Casein adalah 20 : 80, sehingga tidak mudah diserap.
Komposisi Taurin, DHA dan AA pada ASI :
1) Taurin adalah sejenis asam amino kedua yang terbanyak dalam ASI yang berfungsi sebagai neuro-transmitter dan berperan penting untuk proses maturasi sel otak. Percobaan pada binatang menunjukkan bahwa defisiensi taurin akan berakibat terjadinya gangguan pada retina mata.
2) Decosahexanoic Acid (DHA) dan Arachidonic Acid (AA) adalah asam lemak tak jenuh rantai panjang (polyunsaturated fatty acids) yang diperlukan untuk pembentukan sel-sel otak yang optimal. Jumlah DHA dan AA dalam ASI sangat mencukupi untuk menjamin pertumbuhan dan kecerdasan anak. Disamping itu DHA dan AA dalam tubuh dapat dibentuk atau disintesa dari substansi pembentuknya (precursor) yaitu masing-masing dari Omega 3 (asam linolenat) dan Omega 6 (asam linoleat).
b. Aspek Imunologik
1) ASI mengandung zat anti infeksi, bersih dan bebas kontaminasi.
2) Immunoglobulin A (IgA) dalam kolostrum atau ASI kadarnya cukup tinggi. Sekretori IgA tidak diserap tetapi dapat melumpuhkan bakteri patogen E. coli dan berbagai virus pada saluran pencernaan.
3) Laktoferin yaitu sejenis protein yang merupakan komponen zat kekebalan yang mengikat zat besi di saluran pencernaan.
4) Lysosim, enzym yang melindungi bayi terhadap bakteri (E. coli dan salmonella) dan virus. Jumlah lysosim dalam ASI 300 kali lebih banyak daripada susu sapi.
5) Sel darah putih pada ASI pada 2 minggu pertama lebih dari 4000 sel per mil. Terdiri dari 3 macam yaitu: Brochus-Asociated Lympocyte Tissue (BALT) antibodi pernafasan, Gut Asociated Lympocyte Tissue (GALT) antibodi saluran pernafasan, dan Mammary Asociated Lympocyte Tissue (MALT) antibodi jaringan payudara ibu.
6) Faktor bifidus, sejenis karbohidrat yang mengandung nitrogen, menunjang pertumbuhan bakteri lactobacillus bifidus. Bakteri ini menjaga keasaman flora usus bayi dan berguna untuk menghambat pertumbuhan bakteri yang merugikan.
c. Aspek Psikologis
1) Rasa percaya diri ibu untuk menyusui : bahwa ibu mampu menyusui dengan produksi ASI yang mencukupi untuk bayi. Menyusui dipengaruhi oleh emosi ibu dan kasih saying terhadap bayi akan meningkatkan produksi hormon terutama oksitosin yang pada akhirnya akan meningkatkan produksi ASI.
2) Interaksi Ibu dan Bayi: Pertumbuhan dan perkembangan psikologik bayi tergantung pada kesatuan ibu-bayi tersebut.
3) Pengaruh kontak langsung ibu-bayi : ikatan kasih sayang ibu-bayi terjadi karena berbagai rangsangan seperti sentuhan kulit (skin to skin contact). Bayi akan merasa aman dan puas karena bayi merasakan kehangatan tubuh ibu dan mendengar denyut jantung ibu yang sudah dikenal sejak bayi masih dalam rahim.
d. Aspek Kecerdasan
Interaksi ibu dan bayi dan kandungan nilai gizi ASI sangat dibutuhkan untuk perkembangan sistem syaraf otak yang dapat meningkatkan kecerdasan bayi. Penelitian menunjukkan bahwa IQ pada bayi yang diberi ASI memiliki IQ point 4.3 point lebih tinggi pada usia 18 bulan, 4-6 point lebih tinggi pada usia 3 tahun, dan 8.3 point lebih tinggi pada usia 8.5 tahun, dibandingkan dengan bayi yang tidak diberi ASI.
e. Aspek Neurologis
Dengan menghisap payudara, koordinasi syaraf menelan, menghisap dan bernafas yang terjadi pada bayi baru lahir dapat lebih sempurna.
f. Aspek Ekonomis
Dengan menyusui secara eksklusif, ibu tidak perlu mengeluarkan biaya untuk makanan bayi sampai bayi berumur 4 bulan. Dengan demikian akan menghemat pengeluaran rumah tangga untuk membeli susu formula dan peralatannya.
g. Aspek Penundaan Kehamilan
Dengan menyusui secara eksklusif dapat menunda haid dan kehamilan, sehingga dapat digunakan sebagai alat kontrasepsi alamiah yang secara umum dikenal sebagai Metode Amenorea Laktasi (MAL).
4. Langkah IV : Melaksanakan Inisiasi Menyusu Dini (IMD)
Inisiasi Menyusu Dini (IMD) adalah bayi lahir tanpa dimandikan terlebih dahulu langsung diletakkan pada perut ibu. Secara naluri bayi akan mencapai dan dapat menghisap puting ibu dalam waktu 30 menit. Dengan demikian, kolostrum atau ASI yang berwarna kekuning-kuningan, ASI yang pertama keluar akan langsung dihisap oleh sang bayi. Sebagaimana kita ketahui kolostrum mengandung zat kekebalan yang lebih banyak dari Air Susu yang keluar pada hari-hari berikut setelah kelahiran bayi. Kontak fisik pertama antara ibu dan bayi akan semakin merekatkan rasa kasih sayang ibu dan bayi. Lalu dilanjutkan dengan pemberian ASI eksklusif. ASI eksklusif adalah pemberian ASI tanpa makanan dan minuman tambahan lain pada bayi berumur nol sampai enam bulan. Bahkan air putih tidak diberikan dalam tahap ASI eksklusif ini.
5. Langkah V : Menunjukkan teknik menyusui yang benar
Teknik menyusui yang benar adalah cara memberikan ASI kepada bayi dengan perlekatan dan posisi ibu dan bayi dengan benar (Perinasia, 1994).
Persiapan memberikan ASI dilakukan bersamaan dengan kehamilan. Pada kehamilan, payudara semakin padat karena retensi air, lemak serta berkembangnya kelenjar-kelenjar payudara yang dirasakan tegang dan sakit. Bersamaan dengan membesarnya kehamilan, perkembangan dan persiapan untuk memberikan ASI makin tampak. Payudara makin besar, puting susu makin menonjol, pembuluh darah makin tampak, dan aerola mamae makin menghitam. Persiapan memperlancar pengeluaran ASI dilaksanakan dengan jalan :
a. Membersihkan puting susu dengan air atau minyak, sehingga epitel yang lepas tidak menumpuk.
b. Puting susu ditarik-tarik setiap mandi, sehingga menonjol untuk memudahkan isapan bayi.
c. Bila puting susu belum menonjol dapat memakai pompa susu.
Posisi yang benar dalam pemberian asi sangat menentukan bagi kenyamanan bayi dan ibu sendiri. Cara menyusui yang tergolong biasa dilakukan adalah dengan berdiri, duduk, atau rebahan. Teknik menyusui yang benar yaitu cuci tangan yang bersih dengan sabun, perah sedikit ASI dan oleskan disekitar putting, berdiri, duduk, atau berbaring dengan santai (sesuai keinginan).
a. Melekat dengan benar :
1) Dagu menempel pada payudara ibu
2) Bibir bawah terbuka keluar
3) Mulut terbuka lebar
4) Bagian atas areola mamae lebih banyak berada dalam mulut bayi
b. Posisi tubuh :
1) Perut bayi menghadap badan ibu
2) Telinga, bahu, tangan berada dalam satu garis lurus
3) Bayi di dekatkan dengan ibu
4) Ibu menyangga seluruh badan bayi
Menyusui dengan teknik yang tidak benar dapat mengakibatkan puting susu menjadi lecet, ASI tidak keluar optimal sehingga mempengaruhi produksi ASI selanjutnya atau bayi enggan menyusu. Apabila bayi telah menyusui dengan benar maka akan memperlihatkan tanda-tanda yaitu bayi tampak tenang, bayi nampak menghisap kuat dengan irama perlahan dan puting susu tidak terasa nyeri.
a. Posisi menyusui:
1) The cradle
Posisi ini sangat baik untuk bayi yang baru lahir. Bayi berada di perut ibu sampai kulitnya dan kulit ibu saling bersentuhan. Tubuh bayi menghadap kearah ibu dan meletakkan kepala bayi pada siku tangan ibu.
2) The cross cradle hold
Satu lengan mendukung tubuh bayi dan yang lain mendukung kepala, mirip dengan posisi dudukan tetapi ibu akan memiliki kontrol lebih besar atas kepala bayi. Posisi menyusui ini bagus untuk bayi prematur atau ibu dengan puting payudara kecil.
3) The football hold
Bayi disamping ibu dengan kaki bayi dibelakang ibu dan bayi terselip di bawah lengan ibu, seolah-olah ibu sedang memegang bola kaki. Ini adalah posisi terbaik untuk ibu yang melahirkan dengan operasi caesar atau untuk ibu-ibu dengan payudara besar. Posisi ini membutuhkan bantal untuk menopang bayi.
4) Saddle hold
Posisi ini merupakan cara yang menyenangkan untuk menyusui dalam posisi duduk. Ini juga bekerja dengan baik jika bayi memiliki pilek atau sakit telinga. Bayi duduk tegak dengan kaki mengangkangi ibu.
5) The lying position
Menyusui dengan berbaring akan memberi ibu lebih banyak kesempatan untuk bersantai dan juga untuk tidur lebih banyak pada malam hari. Ibu bisa tidur saat bayi menyusu. Dukung punggung dan kepala bayi dengan bantal dan pastikan bahwa perut bayi menyentuh ibu.
b. Berbagai masalah dalam menyusui
1) Payudara bengkak
Payudara bengkak biasanya terjadi 2 atau 3 hari pasca persalinan. Bengkak pada payudara ini di sebabkan oleh penggumpalan air susu dalam kelenjar susu di payudara yang lama kelamaan dapat menyebabkan tersumbatnya kelenjar susu sehingga pengeluaran volume ASI berkurang. Desakan ASI yang tidak lancer menimbulkan rasa nyeri pada payudara ibu.
Penggumpalan air susu biasa terjadi karena bayi enggan menyusui pada ibu nya kemungkinan karna derasnya aliran air susu yang keluar sehingga bayi tak nyaman saat menyusui. Produksi ASI yang melimpah tanpa disusukan atau dipompa lambat laun akan menyebabkan penggumpalan yang pada akhirnya menyumbat kelenjar susu.
Jika ibu mengalami bengkak pada panyudara, atasilah dengan memijat daerah payudara yang sakit sehari 2 kali kearah puting susu. Gunakan baby oil atau minyak kelapa murni untuk melemaskan dan membuat daerah sekitar payudara tidak kaku.
2) Payudara meradang
Gangguan ini biasa disebut sebagai mastitis. Radang ini akan terjadi karena ibu tidak menyusui atau puting payudara lecet karena mernyusui. Kondisi ini biasa terjadi pada satu atau kedua payudara sekaligus. Umumnya radang terjadi 2-6 minggu pasca persalinan akibat adanya infeksi bakteri serta pemakaian BH yang terlalu ketat. Untuk mencegah mastitis, ibu harus menyusui bayi segera dan sesering mungkin, bila payudara terasa penuh segera keluarkan dengan cara menyusui langsung pada bayi. Pengobatan yang tepat adalah dengan pemberian antibiotik yang baik dan aman untuk ibu menyusui.
3) Puting datar atau tenggelam
Kalainan ini terjadi karena pelekatan mengakibatkan saluran lebih pendek dan menarik puting susu kedalam. Upaya agar puting tidak datar atau tenggelam lagi ialah tarik puting susu keluar dengan jari tangan, tahan selama beberapa waktu, lakukan selama 2 hari sekali.
4) Puting lecet
Puting lecet ini tidak tepatnya posisi mulut bayi saat menyusui. Umumnya terjadi pada hari pertama menyusui. Bila tidak terlalu nyeri, ibu dianjurkan untuk teruskan menyusui bayinya agar nyeri berkurang dan oleskan sedikit ASI pada puting susu dan sekitarnya atau kompres payudara dengan Air hangat sebelum menyusui.
5) Gangguan volume ASI
Menyusui melibatkan proses menghasilkan dan mengeluarkan ASI. Biarkan pemberian ASI lancar, kedua proses itu harus berjalan dengan seimbang. Jika tidak terjadi keseimbangan maka proses menyusuipun tidak akan berjalan lancar.
6) Bingung puting
Bingung puting merupakan masalah menyusui yang timbul karena bayi yang masih terlalu kecil mengalami kebingungan antara meghisap puting dengan botol susu. Solusinya ibu harus memulai membiasakan bayi diberi ASI perah dengan sendok, bukan botol susu. Berikan dengan cara menyuapinya dengan sendok agar bayi tidak binggung puting.
6. Langkah VI : Tidak memberikan makanan dan atau minuman selain ASI
ASI tak dapat digantikan oleh makanan ataupun minuman manapun, karena ASI mengandung zat gizi yang paling tepat, lengkap dan selalu menyesuaikan dengan kebutuhan bayi setiap saat. ASI dalam jumlah cukup merupakan makanan terbaik pada bayi dan dapat memenuhi kebutuhan gizi bayi selama 6 bulan pertama. ASI merupakan makanan alamiah yang pertama dan utama bagi bayi sehingga dapat mencapai tumbuh kembang yang optimal.
7. Langkah VII : Melaksanakan rawat gabung
Rawat gabung merupakan satu cara perawatan dimana ibu dan bayi yang baru dilahirkan tidak dipisahkan, melainkan ditempatkan bersama dalam sebuah ruangan. Manfaat dilakukannyan rawat gabung yaitu:
a. Dengan rawat gabung antara ibu dan bayi akan terjalin proses lekat (bonding) yang dapat mempengaruhi perkembangan psikologis bayi selanjutnya
b. Ibu mudah menyusui kapan saja
c. Bayi dapat disusui dengan frekuensi yang lebih sering dan menimbulkan refleks prolaktin yang mampu memacu proses produksi ASI dan refleks oksitosin yang membantu pengeluaran ASI dan mempercepat involusi rahim
d. Petugas kesehatan lebih mudah untuk mengetahui perkembangan kondisi kesehatan ibu dan bayi.
8. Langkah VIII : Membantu ibu menyusui sesering mungkin dan semau bayi
Sebaiknya dalam menyusui bayi tidak dijadwal, sehingga tindakan menyusui bayi dilakukan di setiap saat bayi membutuhkan, karena bayi akan menentukan sendiri kebutuhannya. Ibu harus menyusui bayinya bila bayi menangis bukan karena sebab lain (kencing, kepanasan atau kedinginan atau sekedar ingin didekap) atau ibu sudah merasa perlu menyusui bayinya. Bayi yang sehat dapat mengosongkan satu payudara sekitar 5-7 menit dan ASI dalam lambung bayi akan kosong dalam waktu 2 jam. Pada awalnya, bayi tidak memiliki pola yang teratur dalam menyusui dan akan mempunyai pola tertentu setelah 1 – 2 minggu kemudian.
Menyusui yang dijadwal akan berakibat kurang baik, karena isapan bayi sangat berpengaruh pada rangsangan produksi ASI selanjutnya. Dengan menyusui tanpa jadwal, sesuai kebutuhan bayi akan mencegah timbulnya masalah menyusui. Ibu yang bekerja dianjurkan agar lebih sering menyusui pada malam hari. Bila sering disusukan pada malam hari akan memicu produksi ASI.
9. Langkah IX : Tidak memberikan dot atau kempeng
Oleh karena pemberian susu formula kadang tidak disertai dengan botol atau dot yang cukup terjamin kebersihannya sehingga bayi menjadi diare. Dan pengenceran atau perbandingan bubuk susu dan air kadang tidak sesuai dengan ketentuan pada label yang berakibat bayi kurang gizi.
10. Langkah X : Membina kelompok pendukung ASI
Dukungan lainnya dari pihak-pihak yang terkait dengan ibu menyusui menjadi penentu keberhasilan pemberian ASI diantaranya:
a. Suami
Bentuk dukungan yang dapat diberikan antara lain menemani istri ketika sedang menyusui, ikut merawat bayi, memberikan kata-kata pujian/pemberi semangat sehingga istri terus merasa percaya diri, melengkapi pengetahuan seputar pemberian ASI dan kegiatan menyusui, serta bangga dengan istri yang sedang dalam masa pemberian ASI kepada sang buah hati.
b. Keluarga
Melengkapi pengetahuan seputar pemberian ASI dan kegiatan menyusui, memberikan pujian, semangat dan dorongan agar ibu bisa percaya diri untuk menyusui, membantu dalam perawatan bayi.
c. Tenaga kesehatan
Tidak mempromosikan susu formula, memberi informasi yang tepat tentang ASI dan seputar kegiatan menyusui, memberikan semangat dan dorongan agar para ibu memberikan ASI Eksklusif kepada bayi mereka, dan menyusui diteruskan sampai bayi berusia 2 tahun atau lebih, dan memahami ciri-ciri tumbuh kembang bayi/anak ASI.
d. Lingkungan kerja atau kantor
Menerapkan kebijakan kantor yang ramah terhadap pegawai perempuan yang menyusui, menyediakan ruang menyusui, memberikan waktu untuk memerah/menyusui langsung bila menyusui harus dilakukan selama waktu kerja.
e. Sesama ibu menyusui
Saling berbagi pengalaman, bertukar informasi, memberi semangat dan dukungan seputar kegiatan menyusui dan pemberian ASI, agar ASI Eksklusif berhasil diberikan kepada bayi selama 6 bulan pertama, dan ASI diteruskan hingga anak berusia 2 tahun atau lebih.
f. Pemerintah
Senantiasa mensosialisasikan keunggulan ASI kepada masyarakat, memperbaiki dan melengkapi perangkat yang mendukung kegiatan menyusui dan pemberian ASI, menindak dengan tegas segala bentuk pelanggaran pihak ketiga yang bertentangan dengan kebijakan pemberian ASI Eksklusif serta pemberian ASI bagi bayi Indonesia.
I. Promosi Kesehatan pada Ibu Menyesui yang Bekerja
Prinsip umum bagi promosi kesehatan yang efektif di tempat kerja antara lain:
1. Manajemen puncak harus mendukung secara nyata serta antusias program intervensi dan turut terlibat dalam program tersebut.
2. Pihak pekerja atau karyawan pada semua tingkat pengorganisasian harus terlibat dalam perencanaan dan implementasi intervensi.
3. Fokus intervensi harus berdasarkan pada esame risiko yang dapat didefinisikanserta dimodifikasi, dan merupakan prioritas bagi pekerja atau karyawan.
4. Intervensi harus disusun sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan pekerja atau karyawan.
5. Sumber daya setempat harus dimanfaatkan dalam mengorganisasikan dan mengimplementasikan intervensi.
6. Evaluasi harus dilakukan juga.
7. Organisasi harus menggunakan inisiatif kebijakan berbasis populasi maupun intervensi promosi kesehatan yang intensif dengan berorientasi pada perorangan dan kelompok.
8. Intervensi harus bersifat sustained (kontinu) serta didasarkan pada prinsip-prinsip pemberdayaan dan atau model yang berorientasi pada masyarakat dengan menggunakan lebih dari satu metode.
Upaya promosi kesehatan yang dapat dilakukan untuk ibu menyusui yang bekerja antara lain:
1. Memberikan konseling tentang persiapan ketika sudah kembali bekerja seperti:
a. Memberitahu ibu untuk mersiapkan segala kebutuhan esok hari, pada malam hari sebelumnya.
b. Menganjurkan ibu untuk menyusui bayi sebelum berangkat ke kantor.
c. Mengusahakan agar perpisahan dan pertemuan kembali ibu dengan bayi dilaksanakan dalam suasana gembira.
2. Memberikan konseling kepada ibu ketika ibu berada di kantor seperti:
a. Memberitahu ibu untuk memerah atau pompa ASI sesuai jadwal menyusu bayi atau minimal dalam rentang waktu 3 jam.
b. Memberitahu memerah atau pompa ASI secara teratur sesuai dengan jadwal dan sebelum payudara ibu terasa penuh.
c. Menggunakan cara yang benar untuk menyimpan dan mengangkut ASIP.
d. Memastikan bahwa pengasuh bayi mengerti tata cara pemberian ASIP yang benar.
e. Memberitahu kepada pengasuh bayi untuk tidak memberikan ASIP ketika anda sudah dekat rumah.
f. Memberitahu ibu untuk menyusui bayi ketika sudah kembali pulang, pada malam hari, diakhir esam dan setiap saat ibu sedang bersama bayi.
g. menganjurkan ibu agar meminta dukungan esame rekan kantor dalam upaya ibu untuk terus memberikan ASI.
h. menganjurkan ibu untuk mencari esame ibu bekerja yang juga menyusui untuk saling tukar pendapat pengalamam dan saling mendukung.
i.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Nifas adalah masa pulih kembali,mulai dari persalinan selesai sampai alat-alat kandungan kembali seperti pra hamil, lamanya 6-8 minggu. Sedangkan Menyusui adalah proses pemberian susu kepada bayi atau anak kecil dengan Air Susu Ibu (ASI) dari payudara ibu.
2. Pencegahan infeksi masa nifas merupakan salah satu upaya promosi kesehatan pada masa nifas
3. Penyelenggaraan Pekan ASI Sedunia adalah salah satu upaya promosi kesehatan pada ibu menyusui.
B. Saran
Dari hasil kesimpulan yang telah dikemukakan, maka dapat diberikan saran-saran sebagai bahan masukan bagi pihak yang bersangkutan dalam rangka meningkatkan kualitas kesehatan ibu nifas dan menyusui serta menambah informasi dan wawaasan.
1. Bagi instansi pendidikan
Disarankan agar mengembangkan pengetahuan tentang promosi kesehatan tentang masa nifas dan menyusui guna menunjang peningkatan kualitas kesehatan ibu dan anak, sehingga dapat menjadi literature untuk mendukung peningkatan kualitas pelayanan kesehatan khususnya ibu nifas dan menyusui.
2. Bagi profesi kebidanan
Disarankan agar mengembangkan pengetahuan kesehatan terkait promosi kesehatan ibu nifas dan menyusui, terhadap klien. Guna memonitoring kesehatan ibu nifas dan menyusui.
3. Bagi pembaca
Disarankan agar memahami dan memperluas wawasan mengenai promosi kesehatan ibu nifas dan menyusuiBAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Promosi kesehatan ibu nifas adalah upaya untuk mempromosikan kesehatan setelah masa persalinan untuk mencegah terjadinya komplikasi.Masa nifas atau puerperium dimulai setelah plasenta lahir dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil. Masa nifas berlangsung selama kira-kira 6 minggu.
Bidan mempunyai peran sebagai pelaksana, pengelola, peneliti, dan pendidik. Sebagai pelaksana, bidan melakukan tugasnya dalam melakukan pelayanan kesehatan. Sebagai pengelola, bidan memimpin kelompok atau masyarakat dalam meningkatkan mutu kesehatan. Sebagai peneliti, bidan melakukan penelitian dalam berbagai masalah tentang pelayanan kesehatan. Sebagai pendidik, bidan dapat berperan sebagai penyuluh dan penasihat tentang permasalahan kesehatan yang ada di masyarakat, disinilah peran bidan dalam melakukan upaya promosi kesehatan. Dimana sebagai promotor kesehatan bidan harus mampu memberikan penerangan dan pendidikan sesuai sasaran untuk meningkatkan kesehatan. Sasaran akan dapat menerima pelayanan kesehatan yang diberikan bila mereka memahaminya dengan baik serta menganggap pelayanan kesehatan tersebut menguntungkan bagi diri dan lingkungan mereka. Upaya untuk meyakinkan sasaran agar dapat menerima pelayanan kesehatan yang memberi manfaat bagi mereka tidak lain adalah melalui promosi kesehatan seperti promosi kesehatan pada ibu nifas.
Salah satu masalah yang masih tinggi dialami oleh negara Indonesia ialah masalah gizi kurang terutama dalam pemberian Air Susu Ibu (ASI), angka kesakitan dan kematian pada bayi dan anak-anak. Kendala dalam pemberian ASI telah diidentifikasi, diantaranya mencakup faktor-faktor seperti kurangnya informasi, praktik-praktik rumah sakit yang kurang tepat seperti memberikan air dan suplemen untuk bayi tanpa ada kebutuhan medis, kurangnya perawatan tindak lanjut pada awal periode pasca melahirkan, ibu bekerja, kurangnya dukungan sosial yang luas, dan promosi komersial dari susu formula melalui hadiah yang diberikan rumah sakit waktu ibu pulang ke rumah, hadiah untuk bayi dari perusahaan susu formula yang didistribusikan oleh pemberi perawatan selama kehamilan dan iklan-iklan di televisi serta majalah.
Oleh karena itu penulis tergugah untuk membuat suatu makalah yang membahas tentang upaya promosi kesehatan pada ibu nifas dan menyusui.
B. Rumusan Masalah
1. Apakah pengertian dari masa nifas dan menyusui?
2. Apakah yang dimaksud dengan promosi kesehatan pada masa nifas?
3. Apakah yang dimaksud dengan promosi kesehatan pada ibu menyusui?
4. Apa saja yang termasuk upaya kesehatan pada ibu nifas?
5. Apa saja yang termasuk upaya kesehatan pada ibu menyusui?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian dari masa nifas dan menyusui
2. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan promosi kesehatan pada ibu nifas
3. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan promosi kesehatan pada ibu menyusui
4. Untuk mengetahui upaya kesehatan pada ibu nifas
5. Untuk mengetahui upaya kesehatan pada ibu menyusui
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Definisi Masa Nifas
1. Nifas adalah masa pulih kembali,mulai dari persalinan selesai sampai alat-alat kandungan kembali seperti pra hamil, lamanya 6-8 minggu.
2. Masa sesudah persalinan yang diperlukan untuk pulihnya kembali alat kandungan yang lamanya 6 minggu.
3. Masa yang dimulai setelah partus selesai,dan berakhir setelah kira-kira 6 minggu,akan tetapi seluruh alat genital baru pulih kembali seperti sebelum ada kehamilan dalam waktu 3 bulan.
4. Masa yang dimulai setelah kehamilan placenta dan berakhir ketika alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil dan berlangsung kira-kira 6 minggu.
B. Tahap Masa Nifas
1. Puerperium dini
Yaitu kepulihan dimana ibu telah diperbolehkan berdiri dan berjalan,dalam agama islam dianggap telah bersih dan boleh bekerja setelah 40 hari.
2. Peurperium intermedial
Yaitu kepulihan menyeluruh alat-alat genital yang lamanya 6-8 minggu.
3. Remote puerperium
Adalah waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat sempurna terutama bila selama hamil atau waktu persalinan mempunyai komplikasi.Waktu untuk sehat sempurna bisa berminggu-munggu atau tahunan.
Pada masa ini terjadi perubahan-perubahan fisiologi, yaitu :
a. Perubahan fisik
b. Involusi uterus
Setelah plasenta lahir uterus merupakan alat yang keras karena kontraksi dan retraksi otot-otot involusi terjadi karena masing-masing sel menjadi kecil karena sitoplasma yang berlebihan dibuang. Involusi disebabkan karena autolysis yaitu pecahnya zat protein dinding rahim yang diabsorbsi dan dibuang menjadi urine. Pelepasan plasenta dan selaput janin serta dinding rahim terjadi pada stratum spongiosum bagian atas setelah 2-3 hari tampak bahwa lapisan atas stratum spongiosum yang tinggi menjadi nekrotis, sedangkan lapisan bawahnya yang berhubungan dengan otot terpelihara dengan baik.
Bagian yang nekrotis mengeluarkan lochea, sedangkan lapisan yang masih sehat menghasilkan endometrium yang baru.
Epitel baru terjadi karena proliferasi sel-sel kelenjar, sedangkan stroma baru terbentuk dari jaringan ikat yang ada diantara kelenjar-kelenjar. Epitelasi berlangsung selama 10 hari kecuali pada implantasi plasenta memakan waktu 3 minggu.
Tonus otot uterus dipelihara oleh control persyarafan dan dapat dirangsang dengan massase / rangsangan putting susu.
Tabel Tinggi Fundus Uteri dan Berat Uterus menurut Masa Involusi
Involusi
Tinggi Fundus Uteri
Berat Uterus
Bayi lahir
Uri lahir
1 minggu
2 minggu
6 minggu
8 minggu
Setinggi pusat
2-3 jari bawah pusat
Pertengahan pst-sympysis
Tidak teraba diatas syimpysis
Bertambah kecil
Sebesar ukuran normal
1000 gram
750 gram
500 gram
350 gram
50 gram
30 gram
c. Involusi Tempat Plasenta
Setelah persalinan plasenta mengecil karena adanya kontraksi dan menonjol ke kavum uteri dengan diameter 7,5 cm. Setelah 2 minggu menjadi 3-4 cm dan minggu ke 6 1-2 cm dan akhirnya pulih. Penyembuhan luka plasenta khas sekali karena pertumbuhan endometrium di pinggir luka dan juga sisa-sisa kelenjar pada dasar luka.
d. Perubahan Pembuluh Darah Rahim
Dalam kehamilan, uterus mempunyai banyak pembuluh-pembuluh darah yang besar, tetapi pada persalinan tidak diperlukan lagi, maka arteri akan mengecil lagi pada masa nifas.
e. Perubahan Pada Serviks dan Vagina
Setelah persalinan bentuk serviks agak menganga seperti corong berwarna merah kehitaman. Konsistensinya lunak, kadang –kadang terdapat perlukaan-perlukaan kecil. Setelah bayi lahir ostium uteri externum dapat dilalui 2-3 jari dan pada akhir minggu pertama hanya dapat dilalui 1 jari saja. Vagina yang sangat diregang waktu persalinan, lambat laun mencapai ukuran-ukurannya yang normal pada minggu ke 3 post partum rugae mulai tampak kembali.
f. Ligament-Ligament
Ligament-ligament dan diafragma pelvis yang meregang pada waktu persalinan, setelah bayi lahir secara berangsur-angsur menjadi ciut dan pulih kembali, sehingga tidak jarang uterus jatuh kebelakang dan menjadi retrofleksi, karena ligament rotundum menjadi kendor setelah persalinan, kebiasaan wanita Indonesia melakukan berurut dimana sewaktu diurut tekanan infra abdomen bertambah tinggi, karena setelah melahirkan ligament fasia dan jaringan penunjang menjadi kendor. Jika dilakukan urut banyak wanita akan mengeluh “kandungannya turun” untuk memulihkannya kembali sebaiknya melakukan latihan-latihan dan gymnastic pasca persalinan.
g. After Paints (Mules-Mules)
Kontraksi uterus setelah persalinan sangat menganggu selama 2-3 hari post partum. After paints lebih terasa bila wanita tersebut menyusui. Perasaan sakit timbul bila masih ada sisa plasenta, sisa selaput ketuban atau gumpalan darah dalam kavum uteri.
h. Pengeluaran Lochea
Lochea adalah secret yang berasal dari kavum uteri dan vagina dalam masa nifas. Lochea tidak lain dari pada secret luka yang berasal dari luka dalam rahim terutama luka plasenta. Sifat lochea berubah seperti secret luka berubah menurut tingkat penyembuhan luka.
1) Lochea Rubra
a) Waktu keluarnya pada saat 2 hari post partum
b) Konsistensi cair
c) Warnanya merah
d) Baunya biasa atau khas
e) Berisi darah segar dan sisa-sisa selaput ketuban, sel-sel desidua verniks caseosa, lanugo dan mekonium.
2) Lochea Sanguinolenta
a) Waktu keluarnya pada 3-7 hari post partum
b) Konsistensinya lebih kental dan bercampur lender
c) Warna cokelat
d) Baunya biasa dan khas
3) Lochea Serosa
a) Waktu keluarnya pada 7-14 hari post partum
b) Konsistensinya cair dan tidak bercampur darah
c) Warnanya kuning
d) Baunya khas atau biasa
4) Lochea Alba
a) Waktu keluarnya pada saat lebih dari 14 hari post partum
b) Konsistensinya kental dan hampir seperti albus
c) Warnanya putih karena banyaknya leukosit didalamnya
5) Lochea Purulenta (lochea abnormal)
a) Waktu keluarnya jika terjadi infeksi
b) Konsistensinya kental dan bercampur nanah
c) Warna kehijau-hijauan
d) Baunya luar biasa / busuk, menandakan adanya infeksi
6) Lochiostasis
a) Lochea tidak lancar keluarnya
Jika lochea tetap berwarna setelah 2 minggu ada kemungkinan tertinggalnya sisa plasenta atau karena involusi yang kurang sempurna, yang sering disebabkan retrofleksio uteri.
C. Tahap fase aktifitas penting sebelum menjadi seorang ibu menurut Rubin yaitu :
1. Taking – In
a. Periode ini terjadi 1-2 hari sesudah melahirkan.
b. Perhatian ibu tertuju pada tubuhnya.
c. Ibu mengulanga-ulang pengalamannya waktu bersalin.
d. Mencegah gangguan tidur, pusing, iritabel, interferance dengan pengembalian ke keadaan normal.
e. Peningkatan nutrisi.
2. Taking Hold
a. Periode ini berlangsung 2-4 hari post partum.
b. Ibu lebih memfokuskan perhatiannya untuk menjadi orang yang sukses dan meningkatkan tanggung jawab terhadap bayinya.
c. Ibu berkonsentrasi pada pengontrolan fungsi tubuhnya seperti BAB, BAK, kekuatan dan ketahanan tubuhnya.
d. Ibu berusaha keras untuk menguasai tentang ketrampilan perawatan bayi. Misalnya : Menggendong, menyusui, memandikan, dan memasang popok.
3. Letting Go
a. Periode ini biasanya terjadi setelah ibu pulang ke rumah, dan sangat berpengaruh terhadap waktu dan perhatian yang diberikan oleh keluarga.
b. Ibu mengambil tanggung jawab terhadap perawatan bayi.
c. Ibu harus beradaptasi dengan keadaan bayi yang sangat bergantung.
d. Depresi post partum biasanya terjadi pada periode ini.
D. Asuhan Masa Nifas
1. Mencegah infeksi.
2. Meningkatkan penyembuhan jaringan.
3. Meningkatkan involusi uterus dan kenyamanan serta mencegah komplikasi dari mobilisasi.
4. Meningkatkan asupan makanan dan cairan yang adekuat.
5. Meningkatkan pembentukan laktasi atau supresinya.
6. Meningkatkan pola eliminasi normal.
7. Pencegahan isomunisasi Rh pada ibu dengan resus negative.
8. Memenuhi kebutuhan belajar ibu, kebersihan diri, perawatan perinel, payudara, parenting, latihan peregangn otot, hubungan seksual dan kontrasepsi.
9. Meningkatkan rasa percaya diri dan gambaran tubuh serta penurunan stress.
10. Mendorong untuk mempertahankan kesehatan mealui penggunaan sumber-sumber kesehatan yang ada di masyarakat.
E. Upaya Promotif dan Preventif Secara Umum
1. Health promotion : Merupakan usaha meningkatkan nilai kesehatan melalui pemeliharaan secara umum yang di lakukan pada pada ibu nifas adalah sebagai berikut :
Tindakan yang baik untuk asuhan masa nifas normal pada ibu
Tindakan
Deskripsi dan keterangan
Kebersihan diri
Anjurkan kebersihan seluruh tubuh
Mengajarkan ibu bagaimana membersihkan daerah kelamin dengan sabun dan air.pastikan bahwa ia mengerti untuk membersihkan daerah di sekitar vulva terlebih dahulu, dari depan ke belakang, baru kemudian membersihkan daerah sekitar anus. Nasehatkan ibu untuk membersihkan diri setiap kali selesai buang air kecil atau besar.
Sarankan ibu untuk mengganti pembalut atau kain pembalut setidaknya dua kali sehari. Kain dapat digunakan ulang jika telah dicuci dengan baik, dan dikeringkan di bawah matahari atau di seterika.
Sarankan ibu untuk mencuci tanagan dengan sabun dan air sebelum dan sesudah membersihkan daerah kelaminnya.
Jika ibu mempunyai luka episiotomy atau laserasi, sarankan kepada ibu untuk menghindari menyenth daerah luka.
Istirahat
Anjurkan ibu untuk beristirahat cukup untuk mencegah kelelahan yang berlebihan.
Saranka ia untuk kembali ke kegiatan-kegiatan rumah tangga biasa perlahan-lahan, serta untuk tidur siang atau beristirahat selagi bayi tidur.
Kurang istirahat akan mempengaruhi ibu dalam beberapa hal :
- Mengurangi jumlah ASI yang diproduksi
- Memperlambat proses involusi uterus dan memperbanyak perdarahan.
- Menyebabkan depresi dan ketidak mampuan untuk merawat bayi dan dirinya sendiri.
Latihan
Diskusikan pentingnya mengembalikan otot-otot perut dan panggul kembali normal. Ibu akan merasa lebih kuata dan ini menyaebabkan otot perutnya menjadi kuata sehingga mengurangi rasa sakit pada punggung.
Jelaskan bahwa latihan tertentu beberapa menit setiap hari sangat membantu, seperti, :
- Dengan tidur telentang dengan lengan di samping, menarik otot perut selagi menarik nafas, tahan nafas kedalam dan angkat dagu ke dada :
Tahan satu hitungan sampai 5. Rileks dan ulangi 10 kali.
- Untuk memperkuat tonus otot vagina (latiahan Kegel).
Berdiri dengna tungkai dirapatkan. Kencangkan otot-otot, pantat dan pinggu tahan sampai 5 hitungan. Kendurkan dan ulangi latihan sebanyak 5 kali.
Mulai dengan mengerjakan 5 kali latihan utnuk setiap gerakan . setiap minggu naikkan jumlah latihan 5 kali lebih banyak. Pada minggu ke-6 setelah persalinan ibu harus memngerjakan setiap gerakan sebanyak 30 kali.
Gizi
Ibu menyusui harus :
Mengkonsumsi tambahan 500 kalori tiap hari.
Makan dengan diet berimbang untuk mendapatkan protein, mineral dan vitamin yang cukup.
Minum sedikitnya 3 liter air setiap hari (anjurkan ibu untuk minum setiap kali menyusui).
Pil zat besi harus diminum untuk menambah zat gizi setidaknya selama 40 hari pasca bersalin.
Minum kapsul vitamin A (200.000 unit) agar bisa memeberikan vitamin A kepada bayinya melalui ASI nya.
Perawatan Payudara
Menjaga payudara tetap bersih dan kering .
Menggunakan BH yang menyokong payudara.
Apabila putting susu lecet oleskan kolostrum atau ASI yang keluar pada sekitar putting susu setiap kali selesai menyu ASI yang keluar pada sekitar putting susu setiap kali selesai menyusuisui. Menyususi tetap dilakukan dimulai dari putting susu yang tidak lecet
Apabila lecet sangat berat dapat diistirahatkanselama 24 jam. ASI dikeluarkan dan diminusui. Menyususi tetap dilakukan dimulai dari putting susu yang tidak lecet
Apabila lecet sangat berat dapat diistirahatkanselama 24 jam. ASI dikeluarkan dan diminumkan dengan menggunakan sendok.
Untuk menghilangkan nydengan menggunakan sendok.
Untuk menghilangkan nyeri dapat minum paracetamol 1 tablet setiap 4-6 paracetamol 1 tablet setiap 4-6 jam.
Apabila payudara bengkak akibat pembendungan ASI, lakukan :
- Pengompresan payudara dengan menggunakan kain basah dan hangat selama 5 menit.
- Urut payudara dari pangkal menuju putting atau gunakan sisir untuk mengurut payudara dengna arah “Z” meneju putting.
- Keluarkan ASI sebagian dari bagian depan paudara sehingga putting susu menjadi lunak.
- Susukan bayi setiap 2-3 jam sekali apabila tidak dapat menghisap seluruh ASI keluarkan dengna tangan.
- Letakakn kain dingin pada payudara setelah menyusui.
- Payudara dikeringkan.
Hubungan Perkawinan / Rumah Tangga
Secara fisik aman untuk memulai banyak budaya, yang mempunyahubungan suammi istri begitu darah merah berhenti dan ibu dapat memasukkan satu atau sua jarinya kedalam vagina tanpa rasa nyeri. Begitu darah merah berhenti dan dia tidak merasakan ketidaknyamanan, aman untuk memulai melakukan hubungan suami istri kapan saja ibu siap.
Banyak budaya, yang mempuyai tradisi mennda hubungan suami istri sampai masa waktu tertentu, misalnya setelah 40 hari atau 6 minggu setelah persalinan. Keputusan tergantung pada pasangan yang bersangkutan.
Keluarga Berencana
Idealnya pasangan harus menunggu sekurang-kurangnya 2 tahun sebelum ibu hamil kembali. Setiap pasangan harus menentukan sendiri kaoan dan bagaimana mereka ingin merencanakan tentang keluarganya. Namun, petugas kesehatan dapat membantu merencanakan keluarganya dengan mengajarkan kepada mereka tentang cara mencegah kehamilan yang tidak diinginkan.
Biasanya wanita tidak akan menghasilkan telur (ovulasi) sebelum ia mendapatkan lagi haidnya selama meneteki. Oleh karena itu, metode amenore laktasi dapat dipakai sebelum haid pertama kembali untuk mencegah terjadinya kehamilan baru resiko caranya ini ialah 2 % kehamilan.
Meskipun beberapa metode KB mengandung resiko, menggunakan kontrasepsi tetap lebih aman, terutama bila ibu sudah haid lagi.
Sebelum menggunakan metode KB, hal-hal berikut sebaiknya dijelaskan dahulu kepada ibu :
- Bagaimana metode ini dapat mencegah kehamilan dan evektifitasnya,
- Kelebihan atau keuntungannya,
- Kekurangannya,
- Efek samping,
- Bagaimana menggunakan metode itu,
- Kapan metode itu dapat mulai digunakan utnuk wanita pasca salin yang menyusui.
Jika seorang ibu atau pasangan telah memilih metode KB tertentu, ada baikny untuk bertemu dengannye lagi dalam 2 minggu untuk mengetahui apakah ada yang ingin ditanyakan oleh ibu / pasangan itu dan untuk melihat apakah metode tersebut bekerja dengan baik.
Tindakan Lazim Yang Tidak Bermanfaat, Bahkan Dapat Membahayakan
Tindakan
Diskripsi dan keterangan
Menghindari makanan berprotein seperti ikan atau telur.
Ibu menyusui butuh tambahan kalori sebesar 500 per hari-nya
Penggunaan bebat perut segera pada masa nifas (2-4 jam pertama).
Selama 1 jam pertama, petugas perlu memriksa fusndus setiap 15 menit dan melakukan massase jika kontraksi tidak kuat; selama 1 jam kedua masa nifas petugas perlu memeriksa fundus setiap 30 menit dan melakukan massase jika kontraksi tidak kuat. Penggunaan pembebat parut selama masa kritis membuat sulit bagi petugas kesehatan untuk menilai tonus dan posisi uterus, untuk melakukan massase uterus jika diperlukan dan memperkirakan banyak darah yang keluar.
Penggunaan kantong es atau pasir untuk menjaga uterus berkontraksi.
Merupakan perawatan yang tidak efektif untuk atonia uteri
Memisahkan bayi dari ibunya untuk masa yang lama pada 1 jam pertama setelah melahirkan.
Masa transisi adalah masa kritis untuk ikatan dan bagi bayi untuk memulai menyusu. Bayi baru lahir pada 2 jam pertama setelah kelahiran merupakan masa paling siaga; setelah masa ini, ia biasanya tidur.
2. Spesifik Protection
Usaha pencegahan dan pengobatan infeksi pada masa nifas, meliputi :
a. Menjaga kebersihan diri (personal hygine) pada alat genital dari semua hal yang dapat menyebabkan timbulnya nbakteri.
b. Pengunjung-pengunjung dari luar hendaknya pada hari-hari pertama dibatasi sedapat mungkin untuk mencegah terjadinya cross infeksi.
c. Tiap penderita dengan tanda-tanda infeksi nifas jangan dirawat bersama dengan wanita-wanita dalam nifas yang sehat.
d. Melakukan scrinning test untuk mengetahui jenis kuman-kuman yang menjadi penyebab infeksi nifas sebelum diputuskan untuk memberi antibiotik yang tepat dan sebelum terapi dimulai.
e. Diberikan penicillin dalam dosis tinggi atau antibiotika dengan spectrum luas ( broad spectrum antibiotics), seperti ampicilin, dan lain-lain. Setelah hasil pembiakan serta tes-tes kepekaan diketahui, dapat dilakukan pengobatan yang paling sesuai.
f. Kombinasi penicillin G dan tetracylin dalam dosis tinggi IV sangat efektif terhadap infeksi nifas, sedangkan Di Bagian Obstetri Dan Ginekologi FKUI/RSCM diipakai sulbenicillin atau garamicin atau kombinasi penicillin G dengan chloramphenicol dengan hasil cukup memuaskan.
g. Selain pengobatan dengan antibiotika, tindakan-tindakan untuk mempertinggi daya tahan badan tetap perlu dilakukan dengan cara mengkonsumsi makanan seimbang yang mengandung zat-zat yang diperlukan tubuh untuk menjaga sistem kekebalan tubuh.
h. Jika terjadi abses pada sellulitis pelvika dan pelvioperitonitis, abses harus dibuka dengan menajaga supaya nanah tidak masuk kedalam rongga peritoneum dan pembuluh darah yang agak besar tidak sampai dilukai.
3. Early Diagnosis Dan Promtratment
Usaha pengobatan secara tepat dan adekuat yang ditujukan pada ibu yang menderita infeksi nifas agar dapat dipulihkan kesehatannya antara lain :
a. Mencegah penyebaran penyakit
b. Mengobati dan menghentikan proses infeksi nifas.
c. Menyembuhkan penderita infeksi nifas dan mencegah terjadinya komplikasi pada masa nifas.
4. Disability Limitation
Usaha pembatasan kecacatan atau pada tahap inicacat yang terjadi terutama untuk mencegah infeksi nifas menjadi berkelanjutan.
a. Memberikan pengobatan yang tepat dengan cara pemberian anti biotik yang tepat
b. Melakukan pengontrolan secara teratur dan rutin untuk mencegah komplikasi
5. Rehabilitation
a. Pada proses ini di usahakan agar infeksi pada ibu nifas tidak menjadi hambatan sehingga individu yang menderita dapat berfungsi optimal, secara fisik, mental, dan social.
b. Memberikan dukungan moril dan mental pada ibu dengan infeksi nifas
F. Definisi Menyusui
Menyusui adalah proses pemberian susu kepada bayi atau anak kecil dengan Air Susu Ibu (ASI) dari payudara ibu. Bayi menggunakan refleks menghisap untuk mendapatkan dan menelan susu. Bukti eksperimental menyimpulkan bahwa air susu ibu adalah gizi terbaik untuk bayi. Seorang bayi dapat disusui oleh ibunya sendiri atau oleh wanita lain. ASI juga dapat diperah dan diberikan melalui alat menyusui lain seperti botol susu, cangkir, sendok, atau pipet. Pemerintah dan organisasi internasional sepakat untuk mempromosikan menyusui sebagai metode terbaik untuk pemberian gizi bayi setidaknya tahun pertama dan bahkan lebih lama lagi, antara lain WHO, American Academy of Pediatrics, dan Departemen Kesehatan.
ASI Eksklusif adalah pemberian ASI saja sejak bayi dilahirkan sampai usia 6 bulan. ASI sangat baik untuk kesehatan bayi, ASI juga mengandung antibiotik yang bisa melindungi bayi dari berbagai penyakit selama antibodinya berkembang. Oleh sebab itu pemberian ASI disarankan pada 6 bulan awal masa kelahiran (ASI eksklusif).
Promosi kesehatan adalah upaya perubahan atau perbaikan perilaku dibidang kesehatan disertai dengan upaya mempengaruhui lingkungan atau hal- hal lain yang sangat berpengaruh terhadap perbaikan perilaku dan kualitas kesehatan.
Ibu menyusui adalah ibu yang memberikan susu kepada bayi atau anak kecil dengan air susu ibu (ASI) dari payudara ibu itu sendiri.
Promosi kesehatan pada ibu menyusui adalah upaya perubahan atau perbaikan perilaku yang dapat berpengaruh terdapat perilaku dan kualitas kesehatan terhadap ibu menyusui.
G. Tujuan Promosi Kesehatan pada Ibu Menyusui
Tujuan jangka panjang dalam promosi kesehatan pada ibu menyusui adalah mengoptimalkan status kesehatan dalam hal menyusui, tujuan jangka menengah adalah menciptakan perilaku sehat menyusui yang baik dan benar dan tujuan jangka pendek adalah sasaran atau ibu menyusui mengerti dan memahami teknik menyusui yang benar, bersikap dan memiliki norma yang positif mengenai menyusui.
H. Promosi Kesehatan pada Ibu Menyusui
Penyelenggaraan Pekan ASI Sedunia adalah suatu gerakan yang dilaksanakan secara serentak di seluruh dunia pada setiap minggu pertama bulan Agustus. Tujuannya adalah agar setiap negara, secara terus menerus bersama-sama melaksanakan upaya-upaya yang nyata untuk membantu ibu agar berhasil menyusui. "Menyusui : Sepuluh Langkah Menuju Sayang Bayi" adalah tema Pekan ASI Sedunia tahun 2010 dengan slogan “Sayang Bayi, Beri ASI” adalah suatu komitmen nyata dari fasilitas kesehatan untuk mendukung keberhasilan menyusui, melalui pemberian perlindungan dan memberikan informasi serta dukungan kepada ibu agar dapat menyusui bayinya secara eksklusif.
Sepuluh langkah menuju keberhasilan menyusui atau Ten Step to Successful Breeastfeeding (WHO/UNICEF 1989, isi dikembangkan oleh DepKes RI dan BKPPASI) merupakan upaya promosi kesehatan pada ibu menyusui yaitu:
1. Langkah I : Buatlah kebijakan tertulis tentang pemberian ASI yang secara rutin dikomunikasikan kepada semua petugas pelayanan kesehatan.
Pada tahun 1989, UNICEF bersama WHO memperkenalkan Sepuluh Langkah Keberhasilan Menyusui dengan mengeluarkan sebuah Pernyataan Bersama mengenai “Perlindungan, Promosi, dan Dukungan Menyusui: Peran Khusus Fasilitas Pelayanan Kesehatan Ibu”. Tahun 1990 Deklarasi Innocenti menghimbau dunia agar mendukung pelaksanaan Sepuluh Langkah disemua fasilitas kesehatan yang memberikan pelayanan kesehatan ibu. Selain itu juga mempunyai kebijakan yang melarang promosi susu formula sesuai dengan Juklak Dep.Kes. tahun 1991 tentang Permenkes no.240 tahun 1985. Dimana semua kebijakan tersebut harus dikomunikasikan secara rutin kepada semua staf dan dipasang pada tempat yang mudah terlihat oleh semua orang yang datang ke Pelayanan Kesehatan tersebut.
2. Langkah II : Memberikan pelatihan bagi petugas kesehatan untuk dapat melaksanakan hal-hal yang disebutkan dalam kebijakan tertulis mengenai pemberian ASI.
Keberhasilan komunikasi antara petugas kesehatan dan pasien pada umumnya akan melahirkan kenyamanan dan kepuasan bagi kedua belah pihak, khususnya timbulnya empati atau ikut merasakan apa yang sedang dialami oleh pasien. Pada promosi kesehatan pada ibu menyusui petugas kesehatan diberi pelatihan mengenai berkomunikasi yang baik secara efektif dengan ibu-ibu (ibu menyusui) dan keluarganya sehingga dapat membantu menumbuhkan kepercayaan diri khususnya pada ibu menyusui dan meningkatkan kepercayaan terhadap tenaga kesehatan yang memberikan pelayanan kesehatannya serta keterampilan mengenai menyusui yang baik. Dalam melaksanakan promosi pemberian ASI di Rumah Sakit pelatihan kepada petugas meliputi:
a. 10 langkah menuju keberhasilan menyusui dan kebijakan tertulis lainnya mengenai pemberian ASI.
b. Pelatihan paling sedikit 16 jam dan pengalaman klinik paling sedikit 3 jam, kemudian diikuti dengan supervisi.
c. Pelatiahan atau penyegaran dilakukan secara berkelanjutan terhada semua staf yang terkait terhada promosi pemberian ASI
3. Langkah III : Menjelaskan manfaat menyusui
Keunggulan dan manfaat menyusui dapat dilihat dari beberapa aspek yaitu: aspek gizi, aspek imunologik, aspek psikologi, aspek kecerdasan, neurologis, ekonomis dan aspek penundaan kehamilan.
a. Aspek Gizi.
Manfaat Kolostrum :
1) Kolostrum mengandung zat kekebalan terutama IgA untuk melindungi bayi dari berbagai penyakit infeksi terutama diare.
2) Jumlah kolostrum yang diproduksi bervariasi tergantung dari hisapan bayi pada hari-hari pertama kelahiran. Walaupun sedikit namun cukup untuk memenuhi kebutuhan gizi bayi. Oleh karena itu kolostrum harus diberikan pada bayi.
3) Kolostrum mengandung protein, vitamin A yang tinggi dan mengandung karbohidrat dan lemak rendah, sehingga sesuai dengan kebutuhan gizi bayi pada hari-hari pertama kelahiran.
4) Membantu mengeluarkan mekonium yaitu kotoran bayi yang pertama berwarna hitam kehijauan.
Komposisi ASI :
1) ASI mudah dicerna, karena selain mengandung zat gizi yang sesuai, juga mengandung enzim-enzim untuk mencernakan zat-zat gizi yang terdapat dalam ASI tersebut.
2) ASI mengandung zat-zat gizi berkualitas tinggi yang berguna untuk pertumbuhan dan perkembangan kecerdasan bayi/anak.
3) Selain mengandung protein yang tinggi, ASI memiliki perbandingan antara Whei dan Casein yang sesuai untuk bayi. Rasio Whei dengan Casein merupakan salah satu keunggulan ASI dibandingkan dengan susu sapi. ASI mengandung Whey : Casein lebih banyak yaitu 65 : 35. Komposisi ini menyebabkan protein ASI lebih mudah diserap. Sedangkan pada susu sapi mempunyai perbandingan Whey:Casein adalah 20 : 80, sehingga tidak mudah diserap.
Komposisi Taurin, DHA dan AA pada ASI :
1) Taurin adalah sejenis asam amino kedua yang terbanyak dalam ASI yang berfungsi sebagai neuro-transmitter dan berperan penting untuk proses maturasi sel otak. Percobaan pada binatang menunjukkan bahwa defisiensi taurin akan berakibat terjadinya gangguan pada retina mata.
2) Decosahexanoic Acid (DHA) dan Arachidonic Acid (AA) adalah asam lemak tak jenuh rantai panjang (polyunsaturated fatty acids) yang diperlukan untuk pembentukan sel-sel otak yang optimal. Jumlah DHA dan AA dalam ASI sangat mencukupi untuk menjamin pertumbuhan dan kecerdasan anak. Disamping itu DHA dan AA dalam tubuh dapat dibentuk atau disintesa dari substansi pembentuknya (precursor) yaitu masing-masing dari Omega 3 (asam linolenat) dan Omega 6 (asam linoleat).
b. Aspek Imunologik
1) ASI mengandung zat anti infeksi, bersih dan bebas kontaminasi.
2) Immunoglobulin A (IgA) dalam kolostrum atau ASI kadarnya cukup tinggi. Sekretori IgA tidak diserap tetapi dapat melumpuhkan bakteri patogen E. coli dan berbagai virus pada saluran pencernaan.
3) Laktoferin yaitu sejenis protein yang merupakan komponen zat kekebalan yang mengikat zat besi di saluran pencernaan.
4) Lysosim, enzym yang melindungi bayi terhadap bakteri (E. coli dan salmonella) dan virus. Jumlah lysosim dalam ASI 300 kali lebih banyak daripada susu sapi.
5) Sel darah putih pada ASI pada 2 minggu pertama lebih dari 4000 sel per mil. Terdiri dari 3 macam yaitu: Brochus-Asociated Lympocyte Tissue (BALT) antibodi pernafasan, Gut Asociated Lympocyte Tissue (GALT) antibodi saluran pernafasan, dan Mammary Asociated Lympocyte Tissue (MALT) antibodi jaringan payudara ibu.
6) Faktor bifidus, sejenis karbohidrat yang mengandung nitrogen, menunjang pertumbuhan bakteri lactobacillus bifidus. Bakteri ini menjaga keasaman flora usus bayi dan berguna untuk menghambat pertumbuhan bakteri yang merugikan.
c. Aspek Psikologis
1) Rasa percaya diri ibu untuk menyusui : bahwa ibu mampu menyusui dengan produksi ASI yang mencukupi untuk bayi. Menyusui dipengaruhi oleh emosi ibu dan kasih saying terhadap bayi akan meningkatkan produksi hormon terutama oksitosin yang pada akhirnya akan meningkatkan produksi ASI.
2) Interaksi Ibu dan Bayi: Pertumbuhan dan perkembangan psikologik bayi tergantung pada kesatuan ibu-bayi tersebut.
3) Pengaruh kontak langsung ibu-bayi : ikatan kasih sayang ibu-bayi terjadi karena berbagai rangsangan seperti sentuhan kulit (skin to skin contact). Bayi akan merasa aman dan puas karena bayi merasakan kehangatan tubuh ibu dan mendengar denyut jantung ibu yang sudah dikenal sejak bayi masih dalam rahim.
d. Aspek Kecerdasan
Interaksi ibu dan bayi dan kandungan nilai gizi ASI sangat dibutuhkan untuk perkembangan sistem syaraf otak yang dapat meningkatkan kecerdasan bayi. Penelitian menunjukkan bahwa IQ pada bayi yang diberi ASI memiliki IQ point 4.3 point lebih tinggi pada usia 18 bulan, 4-6 point lebih tinggi pada usia 3 tahun, dan 8.3 point lebih tinggi pada usia 8.5 tahun, dibandingkan dengan bayi yang tidak diberi ASI.
e. Aspek Neurologis
Dengan menghisap payudara, koordinasi syaraf menelan, menghisap dan bernafas yang terjadi pada bayi baru lahir dapat lebih sempurna.
f. Aspek Ekonomis
Dengan menyusui secara eksklusif, ibu tidak perlu mengeluarkan biaya untuk makanan bayi sampai bayi berumur 4 bulan. Dengan demikian akan menghemat pengeluaran rumah tangga untuk membeli susu formula dan peralatannya.
g. Aspek Penundaan Kehamilan
Dengan menyusui secara eksklusif dapat menunda haid dan kehamilan, sehingga dapat digunakan sebagai alat kontrasepsi alamiah yang secara umum dikenal sebagai Metode Amenorea Laktasi (MAL).
4. Langkah IV : Melaksanakan Inisiasi Menyusu Dini (IMD)
Inisiasi Menyusu Dini (IMD) adalah bayi lahir tanpa dimandikan terlebih dahulu langsung diletakkan pada perut ibu. Secara naluri bayi akan mencapai dan dapat menghisap puting ibu dalam waktu 30 menit. Dengan demikian, kolostrum atau ASI yang berwarna kekuning-kuningan, ASI yang pertama keluar akan langsung dihisap oleh sang bayi. Sebagaimana kita ketahui kolostrum mengandung zat kekebalan yang lebih banyak dari Air Susu yang keluar pada hari-hari berikut setelah kelahiran bayi. Kontak fisik pertama antara ibu dan bayi akan semakin merekatkan rasa kasih sayang ibu dan bayi. Lalu dilanjutkan dengan pemberian ASI eksklusif. ASI eksklusif adalah pemberian ASI tanpa makanan dan minuman tambahan lain pada bayi berumur nol sampai enam bulan. Bahkan air putih tidak diberikan dalam tahap ASI eksklusif ini.
5. Langkah V : Menunjukkan teknik menyusui yang benar
Teknik menyusui yang benar adalah cara memberikan ASI kepada bayi dengan perlekatan dan posisi ibu dan bayi dengan benar (Perinasia, 1994).
Persiapan memberikan ASI dilakukan bersamaan dengan kehamilan. Pada kehamilan, payudara semakin padat karena retensi air, lemak serta berkembangnya kelenjar-kelenjar payudara yang dirasakan tegang dan sakit. Bersamaan dengan membesarnya kehamilan, perkembangan dan persiapan untuk memberikan ASI makin tampak. Payudara makin besar, puting susu makin menonjol, pembuluh darah makin tampak, dan aerola mamae makin menghitam. Persiapan memperlancar pengeluaran ASI dilaksanakan dengan jalan :
a. Membersihkan puting susu dengan air atau minyak, sehingga epitel yang lepas tidak menumpuk.
b. Puting susu ditarik-tarik setiap mandi, sehingga menonjol untuk memudahkan isapan bayi.
c. Bila puting susu belum menonjol dapat memakai pompa susu.
Posisi yang benar dalam pemberian asi sangat menentukan bagi kenyamanan bayi dan ibu sendiri. Cara menyusui yang tergolong biasa dilakukan adalah dengan berdiri, duduk, atau rebahan. Teknik menyusui yang benar yaitu cuci tangan yang bersih dengan sabun, perah sedikit ASI dan oleskan disekitar putting, berdiri, duduk, atau berbaring dengan santai (sesuai keinginan).
a. Melekat dengan benar :
1) Dagu menempel pada payudara ibu
2) Bibir bawah terbuka keluar
3) Mulut terbuka lebar
4) Bagian atas areola mamae lebih banyak berada dalam mulut bayi
b. Posisi tubuh :
1) Perut bayi menghadap badan ibu
2) Telinga, bahu, tangan berada dalam satu garis lurus
3) Bayi di dekatkan dengan ibu
4) Ibu menyangga seluruh badan bayi
Menyusui dengan teknik yang tidak benar dapat mengakibatkan puting susu menjadi lecet, ASI tidak keluar optimal sehingga mempengaruhi produksi ASI selanjutnya atau bayi enggan menyusu. Apabila bayi telah menyusui dengan benar maka akan memperlihatkan tanda-tanda yaitu bayi tampak tenang, bayi nampak menghisap kuat dengan irama perlahan dan puting susu tidak terasa nyeri.
a. Posisi menyusui:
1) The cradle
Posisi ini sangat baik untuk bayi yang baru lahir. Bayi berada di perut ibu sampai kulitnya dan kulit ibu saling bersentuhan. Tubuh bayi menghadap kearah ibu dan meletakkan kepala bayi pada siku tangan ibu.
2) The cross cradle hold
Satu lengan mendukung tubuh bayi dan yang lain mendukung kepala, mirip dengan posisi dudukan tetapi ibu akan memiliki kontrol lebih besar atas kepala bayi. Posisi menyusui ini bagus untuk bayi prematur atau ibu dengan puting payudara kecil.
3) The football hold
Bayi disamping ibu dengan kaki bayi dibelakang ibu dan bayi terselip di bawah lengan ibu, seolah-olah ibu sedang memegang bola kaki. Ini adalah posisi terbaik untuk ibu yang melahirkan dengan operasi caesar atau untuk ibu-ibu dengan payudara besar. Posisi ini membutuhkan bantal untuk menopang bayi.
4) Saddle hold
Posisi ini merupakan cara yang menyenangkan untuk menyusui dalam posisi duduk. Ini juga bekerja dengan baik jika bayi memiliki pilek atau sakit telinga. Bayi duduk tegak dengan kaki mengangkangi ibu.
5) The lying position
Menyusui dengan berbaring akan memberi ibu lebih banyak kesempatan untuk bersantai dan juga untuk tidur lebih banyak pada malam hari. Ibu bisa tidur saat bayi menyusu. Dukung punggung dan kepala bayi dengan bantal dan pastikan bahwa perut bayi menyentuh ibu.
b. Berbagai masalah dalam menyusui
1) Payudara bengkak
Payudara bengkak biasanya terjadi 2 atau 3 hari pasca persalinan. Bengkak pada payudara ini di sebabkan oleh penggumpalan air susu dalam kelenjar susu di payudara yang lama kelamaan dapat menyebabkan tersumbatnya kelenjar susu sehingga pengeluaran volume ASI berkurang. Desakan ASI yang tidak lancer menimbulkan rasa nyeri pada payudara ibu.
Penggumpalan air susu biasa terjadi karena bayi enggan menyusui pada ibu nya kemungkinan karna derasnya aliran air susu yang keluar sehingga bayi tak nyaman saat menyusui. Produksi ASI yang melimpah tanpa disusukan atau dipompa lambat laun akan menyebabkan penggumpalan yang pada akhirnya menyumbat kelenjar susu.
Jika ibu mengalami bengkak pada panyudara, atasilah dengan memijat daerah payudara yang sakit sehari 2 kali kearah puting susu. Gunakan baby oil atau minyak kelapa murni untuk melemaskan dan membuat daerah sekitar payudara tidak kaku.
2) Payudara meradang
Gangguan ini biasa disebut sebagai mastitis. Radang ini akan terjadi karena ibu tidak menyusui atau puting payudara lecet karena mernyusui. Kondisi ini biasa terjadi pada satu atau kedua payudara sekaligus. Umumnya radang terjadi 2-6 minggu pasca persalinan akibat adanya infeksi bakteri serta pemakaian BH yang terlalu ketat. Untuk mencegah mastitis, ibu harus menyusui bayi segera dan sesering mungkin, bila payudara terasa penuh segera keluarkan dengan cara menyusui langsung pada bayi. Pengobatan yang tepat adalah dengan pemberian antibiotik yang baik dan aman untuk ibu menyusui.
3) Puting datar atau tenggelam
Kalainan ini terjadi karena pelekatan mengakibatkan saluran lebih pendek dan menarik puting susu kedalam. Upaya agar puting tidak datar atau tenggelam lagi ialah tarik puting susu keluar dengan jari tangan, tahan selama beberapa waktu, lakukan selama 2 hari sekali.
4) Puting lecet
Puting lecet ini tidak tepatnya posisi mulut bayi saat menyusui. Umumnya terjadi pada hari pertama menyusui. Bila tidak terlalu nyeri, ibu dianjurkan untuk teruskan menyusui bayinya agar nyeri berkurang dan oleskan sedikit ASI pada puting susu dan sekitarnya atau kompres payudara dengan Air hangat sebelum menyusui.
5) Gangguan volume ASI
Menyusui melibatkan proses menghasilkan dan mengeluarkan ASI. Biarkan pemberian ASI lancar, kedua proses itu harus berjalan dengan seimbang. Jika tidak terjadi keseimbangan maka proses menyusuipun tidak akan berjalan lancar.
6) Bingung puting
Bingung puting merupakan masalah menyusui yang timbul karena bayi yang masih terlalu kecil mengalami kebingungan antara meghisap puting dengan botol susu. Solusinya ibu harus memulai membiasakan bayi diberi ASI perah dengan sendok, bukan botol susu. Berikan dengan cara menyuapinya dengan sendok agar bayi tidak binggung puting.
6. Langkah VI : Tidak memberikan makanan dan atau minuman selain ASI
ASI tak dapat digantikan oleh makanan ataupun minuman manapun, karena ASI mengandung zat gizi yang paling tepat, lengkap dan selalu menyesuaikan dengan kebutuhan bayi setiap saat. ASI dalam jumlah cukup merupakan makanan terbaik pada bayi dan dapat memenuhi kebutuhan gizi bayi selama 6 bulan pertama. ASI merupakan makanan alamiah yang pertama dan utama bagi bayi sehingga dapat mencapai tumbuh kembang yang optimal.
7. Langkah VII : Melaksanakan rawat gabung
Rawat gabung merupakan satu cara perawatan dimana ibu dan bayi yang baru dilahirkan tidak dipisahkan, melainkan ditempatkan bersama dalam sebuah ruangan. Manfaat dilakukannyan rawat gabung yaitu:
a. Dengan rawat gabung antara ibu dan bayi akan terjalin proses lekat (bonding) yang dapat mempengaruhi perkembangan psikologis bayi selanjutnya
b. Ibu mudah menyusui kapan saja
c. Bayi dapat disusui dengan frekuensi yang lebih sering dan menimbulkan refleks prolaktin yang mampu memacu proses produksi ASI dan refleks oksitosin yang membantu pengeluaran ASI dan mempercepat involusi rahim
d. Petugas kesehatan lebih mudah untuk mengetahui perkembangan kondisi kesehatan ibu dan bayi.
8. Langkah VIII : Membantu ibu menyusui sesering mungkin dan semau bayi
Sebaiknya dalam menyusui bayi tidak dijadwal, sehingga tindakan menyusui bayi dilakukan di setiap saat bayi membutuhkan, karena bayi akan menentukan sendiri kebutuhannya. Ibu harus menyusui bayinya bila bayi menangis bukan karena sebab lain (kencing, kepanasan atau kedinginan atau sekedar ingin didekap) atau ibu sudah merasa perlu menyusui bayinya. Bayi yang sehat dapat mengosongkan satu payudara sekitar 5-7 menit dan ASI dalam lambung bayi akan kosong dalam waktu 2 jam. Pada awalnya, bayi tidak memiliki pola yang teratur dalam menyusui dan akan mempunyai pola tertentu setelah 1 – 2 minggu kemudian.
Menyusui yang dijadwal akan berakibat kurang baik, karena isapan bayi sangat berpengaruh pada rangsangan produksi ASI selanjutnya. Dengan menyusui tanpa jadwal, sesuai kebutuhan bayi akan mencegah timbulnya masalah menyusui. Ibu yang bekerja dianjurkan agar lebih sering menyusui pada malam hari. Bila sering disusukan pada malam hari akan memicu produksi ASI.
9. Langkah IX : Tidak memberikan dot atau kempeng
Oleh karena pemberian susu formula kadang tidak disertai dengan botol atau dot yang cukup terjamin kebersihannya sehingga bayi menjadi diare. Dan pengenceran atau perbandingan bubuk susu dan air kadang tidak sesuai dengan ketentuan pada label yang berakibat bayi kurang gizi.
10. Langkah X : Membina kelompok pendukung ASI
Dukungan lainnya dari pihak-pihak yang terkait dengan ibu menyusui menjadi penentu keberhasilan pemberian ASI diantaranya:
a. Suami
Bentuk dukungan yang dapat diberikan antara lain menemani istri ketika sedang menyusui, ikut merawat bayi, memberikan kata-kata pujian/pemberi semangat sehingga istri terus merasa percaya diri, melengkapi pengetahuan seputar pemberian ASI dan kegiatan menyusui, serta bangga dengan istri yang sedang dalam masa pemberian ASI kepada sang buah hati.
b. Keluarga
Melengkapi pengetahuan seputar pemberian ASI dan kegiatan menyusui, memberikan pujian, semangat dan dorongan agar ibu bisa percaya diri untuk menyusui, membantu dalam perawatan bayi.
c. Tenaga kesehatan
Tidak mempromosikan susu formula, memberi informasi yang tepat tentang ASI dan seputar kegiatan menyusui, memberikan semangat dan dorongan agar para ibu memberikan ASI Eksklusif kepada bayi mereka, dan menyusui diteruskan sampai bayi berusia 2 tahun atau lebih, dan memahami ciri-ciri tumbuh kembang bayi/anak ASI.
d. Lingkungan kerja atau kantor
Menerapkan kebijakan kantor yang ramah terhadap pegawai perempuan yang menyusui, menyediakan ruang menyusui, memberikan waktu untuk memerah/menyusui langsung bila menyusui harus dilakukan selama waktu kerja.
e. Sesama ibu menyusui
Saling berbagi pengalaman, bertukar informasi, memberi semangat dan dukungan seputar kegiatan menyusui dan pemberian ASI, agar ASI Eksklusif berhasil diberikan kepada bayi selama 6 bulan pertama, dan ASI diteruskan hingga anak berusia 2 tahun atau lebih.
f. Pemerintah
Senantiasa mensosialisasikan keunggulan ASI kepada masyarakat, memperbaiki dan melengkapi perangkat yang mendukung kegiatan menyusui dan pemberian ASI, menindak dengan tegas segala bentuk pelanggaran pihak ketiga yang bertentangan dengan kebijakan pemberian ASI Eksklusif serta pemberian ASI bagi bayi Indonesia.
I. Promosi Kesehatan pada Ibu Menyesui yang Bekerja
Prinsip umum bagi promosi kesehatan yang efektif di tempat kerja antara lain:
1. Manajemen puncak harus mendukung secara nyata serta antusias program intervensi dan turut terlibat dalam program tersebut.
2. Pihak pekerja atau karyawan pada semua tingkat pengorganisasian harus terlibat dalam perencanaan dan implementasi intervensi.
3. Fokus intervensi harus berdasarkan pada esame risiko yang dapat didefinisikanserta dimodifikasi, dan merupakan prioritas bagi pekerja atau karyawan.
4. Intervensi harus disusun sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan pekerja atau karyawan.
5. Sumber daya setempat harus dimanfaatkan dalam mengorganisasikan dan mengimplementasikan intervensi.
6. Evaluasi harus dilakukan juga.
7. Organisasi harus menggunakan inisiatif kebijakan berbasis populasi maupun intervensi promosi kesehatan yang intensif dengan berorientasi pada perorangan dan kelompok.
8. Intervensi harus bersifat sustained (kontinu) serta didasarkan pada prinsip-prinsip pemberdayaan dan atau model yang berorientasi pada masyarakat dengan menggunakan lebih dari satu metode.
Upaya promosi kesehatan yang dapat dilakukan untuk ibu menyusui yang bekerja antara lain:
1. Memberikan konseling tentang persiapan ketika sudah kembali bekerja seperti:
a. Memberitahu ibu untuk mersiapkan segala kebutuhan esok hari, pada malam hari sebelumnya.
b. Menganjurkan ibu untuk menyusui bayi sebelum berangkat ke kantor.
c. Mengusahakan agar perpisahan dan pertemuan kembali ibu dengan bayi dilaksanakan dalam suasana gembira.
2. Memberikan konseling kepada ibu ketika ibu berada di kantor seperti:
a. Memberitahu ibu untuk memerah atau pompa ASI sesuai jadwal menyusu bayi atau minimal dalam rentang waktu 3 jam.
b. Memberitahu memerah atau pompa ASI secara teratur sesuai dengan jadwal dan sebelum payudara ibu terasa penuh.
c. Menggunakan cara yang benar untuk menyimpan dan mengangkut ASIP.
d. Memastikan bahwa pengasuh bayi mengerti tata cara pemberian ASIP yang benar.
e. Memberitahu kepada pengasuh bayi untuk tidak memberikan ASIP ketika anda sudah dekat rumah.
f. Memberitahu ibu untuk menyusui bayi ketika sudah kembali pulang, pada malam hari, diakhir esam dan setiap saat ibu sedang bersama bayi.
g. menganjurkan ibu agar meminta dukungan esame rekan kantor dalam upaya ibu untuk terus memberikan ASI.
h. menganjurkan ibu untuk mencari esame ibu bekerja yang juga menyusui untuk saling tukar pendapat pengalamam dan saling mendukung.
i.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Nifas adalah masa pulih kembali,mulai dari persalinan selesai sampai alat-alat kandungan kembali seperti pra hamil, lamanya 6-8 minggu. Sedangkan Menyusui adalah proses pemberian susu kepada bayi atau anak kecil dengan Air Susu Ibu (ASI) dari payudara ibu.
2. Pencegahan infeksi masa nifas merupakan salah satu upaya promosi kesehatan pada masa nifas
3. Penyelenggaraan Pekan ASI Sedunia adalah salah satu upaya promosi kesehatan pada ibu menyusui.
B. Saran
Dari hasil kesimpulan yang telah dikemukakan, maka dapat diberikan saran-saran sebagai bahan masukan bagi pihak yang bersangkutan dalam rangka meningkatkan kualitas kesehatan ibu nifas dan menyusui serta menambah informasi dan wawaasan.
1. Bagi instansi pendidikan
Disarankan agar mengembangkan pengetahuan tentang promosi kesehatan tentang masa nifas dan menyusui guna menunjang peningkatan kualitas kesehatan ibu dan anak, sehingga dapat menjadi literature untuk mendukung peningkatan kualitas pelayanan kesehatan khususnya ibu nifas dan menyusui.
2. Bagi profesi kebidanan
Disarankan agar mengembangkan pengetahuan kesehatan terkait promosi kesehatan ibu nifas dan menyusui, terhadap klien. Guna memonitoring kesehatan ibu nifas dan menyusui.
3. Bagi pembaca
Disarankan agar memahami dan memperluas wawasan mengenai promosi kesehatan ibu nifas dan menyusui
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Promosi kesehatan ibu nifas adalah upaya untuk mempromosikan kesehatan setelah masa persalinan untuk mencegah terjadinya komplikasi.Masa nifas atau puerperium dimulai setelah plasenta lahir dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil. Masa nifas berlangsung selama kira-kira 6 minggu.
Bidan mempunyai peran sebagai pelaksana, pengelola, peneliti, dan pendidik. Sebagai pelaksana, bidan melakukan tugasnya dalam melakukan pelayanan kesehatan. Sebagai pengelola, bidan memimpin kelompok atau masyarakat dalam meningkatkan mutu kesehatan. Sebagai peneliti, bidan melakukan penelitian dalam berbagai masalah tentang pelayanan kesehatan. Sebagai pendidik, bidan dapat berperan sebagai penyuluh dan penasihat tentang permasalahan kesehatan yang ada di masyarakat, disinilah peran bidan dalam melakukan upaya promosi kesehatan. Dimana sebagai promotor kesehatan bidan harus mampu memberikan penerangan dan pendidikan sesuai sasaran untuk meningkatkan kesehatan. Sasaran akan dapat menerima pelayanan kesehatan yang diberikan bila mereka memahaminya dengan baik serta menganggap pelayanan kesehatan tersebut menguntungkan bagi diri dan lingkungan mereka. Upaya untuk meyakinkan sasaran agar dapat menerima pelayanan kesehatan yang memberi manfaat bagi mereka tidak lain adalah melalui promosi kesehatan seperti promosi kesehatan pada ibu nifas.
Salah satu masalah yang masih tinggi dialami oleh negara Indonesia ialah masalah gizi kurang terutama dalam pemberian Air Susu Ibu (ASI), angka kesakitan dan kematian pada bayi dan anak-anak. Kendala dalam pemberian ASI telah diidentifikasi, diantaranya mencakup faktor-faktor seperti kurangnya informasi, praktik-praktik rumah sakit yang kurang tepat seperti memberikan air dan suplemen untuk bayi tanpa ada kebutuhan medis, kurangnya perawatan tindak lanjut pada awal periode pasca melahirkan, ibu bekerja, kurangnya dukungan sosial yang luas, dan promosi komersial dari susu formula melalui hadiah yang diberikan rumah sakit waktu ibu pulang ke rumah, hadiah untuk bayi dari perusahaan susu formula yang didistribusikan oleh pemberi perawatan selama kehamilan dan iklan-iklan di televisi serta majalah.
Oleh karena itu penulis tergugah untuk membuat suatu makalah yang membahas tentang upaya promosi kesehatan pada ibu nifas dan menyusui.
B. Rumusan Masalah
1. Apakah pengertian dari masa nifas dan menyusui?
2. Apakah yang dimaksud dengan promosi kesehatan pada masa nifas?
3. Apakah yang dimaksud dengan promosi kesehatan pada ibu menyusui?
4. Apa saja yang termasuk upaya kesehatan pada ibu nifas?
5. Apa saja yang termasuk upaya kesehatan pada ibu menyusui?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian dari masa nifas dan menyusui
2. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan promosi kesehatan pada ibu nifas
3. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan promosi kesehatan pada ibu menyusui
4. Untuk mengetahui upaya kesehatan pada ibu nifas
5. Untuk mengetahui upaya kesehatan pada ibu menyusui
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Definisi Masa Nifas
1. Nifas adalah masa pulih kembali,mulai dari persalinan selesai sampai alat-alat kandungan kembali seperti pra hamil, lamanya 6-8 minggu.
2. Masa sesudah persalinan yang diperlukan untuk pulihnya kembali alat kandungan yang lamanya 6 minggu.
3. Masa yang dimulai setelah partus selesai,dan berakhir setelah kira-kira 6 minggu,akan tetapi seluruh alat genital baru pulih kembali seperti sebelum ada kehamilan dalam waktu 3 bulan.
4. Masa yang dimulai setelah kehamilan placenta dan berakhir ketika alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil dan berlangsung kira-kira 6 minggu.
B. Tahap Masa Nifas
1. Puerperium dini
Yaitu kepulihan dimana ibu telah diperbolehkan berdiri dan berjalan,dalam agama islam dianggap telah bersih dan boleh bekerja setelah 40 hari.
2. Peurperium intermedial
Yaitu kepulihan menyeluruh alat-alat genital yang lamanya 6-8 minggu.
3. Remote puerperium
Adalah waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat sempurna terutama bila selama hamil atau waktu persalinan mempunyai komplikasi.Waktu untuk sehat sempurna bisa berminggu-munggu atau tahunan.
Pada masa ini terjadi perubahan-perubahan fisiologi, yaitu :
a. Perubahan fisik
b. Involusi uterus
Setelah plasenta lahir uterus merupakan alat yang keras karena kontraksi dan retraksi otot-otot involusi terjadi karena masing-masing sel menjadi kecil karena sitoplasma yang berlebihan dibuang. Involusi disebabkan karena autolysis yaitu pecahnya zat protein dinding rahim yang diabsorbsi dan dibuang menjadi urine. Pelepasan plasenta dan selaput janin serta dinding rahim terjadi pada stratum spongiosum bagian atas setelah 2-3 hari tampak bahwa lapisan atas stratum spongiosum yang tinggi menjadi nekrotis, sedangkan lapisan bawahnya yang berhubungan dengan otot terpelihara dengan baik.
Bagian yang nekrotis mengeluarkan lochea, sedangkan lapisan yang masih sehat menghasilkan endometrium yang baru.
Epitel baru terjadi karena proliferasi sel-sel kelenjar, sedangkan stroma baru terbentuk dari jaringan ikat yang ada diantara kelenjar-kelenjar. Epitelasi berlangsung selama 10 hari kecuali pada implantasi plasenta memakan waktu 3 minggu.
Tonus otot uterus dipelihara oleh control persyarafan dan dapat dirangsang dengan massase / rangsangan putting susu.
Tabel Tinggi Fundus Uteri dan Berat Uterus menurut Masa Involusi
Involusi
Tinggi Fundus Uteri
Berat Uterus
Bayi lahir
Uri lahir
1 minggu
2 minggu
6 minggu
8 minggu
Setinggi pusat
2-3 jari bawah pusat
Pertengahan pst-sympysis
Tidak teraba diatas syimpysis
Bertambah kecil
Sebesar ukuran normal
1000 gram
750 gram
500 gram
350 gram
50 gram
30 gram
c. Involusi Tempat Plasenta
Setelah persalinan plasenta mengecil karena adanya kontraksi dan menonjol ke kavum uteri dengan diameter 7,5 cm. Setelah 2 minggu menjadi 3-4 cm dan minggu ke 6 1-2 cm dan akhirnya pulih. Penyembuhan luka plasenta khas sekali karena pertumbuhan endometrium di pinggir luka dan juga sisa-sisa kelenjar pada dasar luka.
d. Perubahan Pembuluh Darah Rahim
Dalam kehamilan, uterus mempunyai banyak pembuluh-pembuluh darah yang besar, tetapi pada persalinan tidak diperlukan lagi, maka arteri akan mengecil lagi pada masa nifas.
e. Perubahan Pada Serviks dan Vagina
Setelah persalinan bentuk serviks agak menganga seperti corong berwarna merah kehitaman. Konsistensinya lunak, kadang –kadang terdapat perlukaan-perlukaan kecil. Setelah bayi lahir ostium uteri externum dapat dilalui 2-3 jari dan pada akhir minggu pertama hanya dapat dilalui 1 jari saja. Vagina yang sangat diregang waktu persalinan, lambat laun mencapai ukuran-ukurannya yang normal pada minggu ke 3 post partum rugae mulai tampak kembali.
f. Ligament-Ligament
Ligament-ligament dan diafragma pelvis yang meregang pada waktu persalinan, setelah bayi lahir secara berangsur-angsur menjadi ciut dan pulih kembali, sehingga tidak jarang uterus jatuh kebelakang dan menjadi retrofleksi, karena ligament rotundum menjadi kendor setelah persalinan, kebiasaan wanita Indonesia melakukan berurut dimana sewaktu diurut tekanan infra abdomen bertambah tinggi, karena setelah melahirkan ligament fasia dan jaringan penunjang menjadi kendor. Jika dilakukan urut banyak wanita akan mengeluh “kandungannya turun” untuk memulihkannya kembali sebaiknya melakukan latihan-latihan dan gymnastic pasca persalinan.
g. After Paints (Mules-Mules)
Kontraksi uterus setelah persalinan sangat menganggu selama 2-3 hari post partum. After paints lebih terasa bila wanita tersebut menyusui. Perasaan sakit timbul bila masih ada sisa plasenta, sisa selaput ketuban atau gumpalan darah dalam kavum uteri.
h. Pengeluaran Lochea
Lochea adalah secret yang berasal dari kavum uteri dan vagina dalam masa nifas. Lochea tidak lain dari pada secret luka yang berasal dari luka dalam rahim terutama luka plasenta. Sifat lochea berubah seperti secret luka berubah menurut tingkat penyembuhan luka.
1) Lochea Rubra
a) Waktu keluarnya pada saat 2 hari post partum
b) Konsistensi cair
c) Warnanya merah
d) Baunya biasa atau khas
e) Berisi darah segar dan sisa-sisa selaput ketuban, sel-sel desidua verniks caseosa, lanugo dan mekonium.
2) Lochea Sanguinolenta
a) Waktu keluarnya pada 3-7 hari post partum
b) Konsistensinya lebih kental dan bercampur lender
c) Warna cokelat
d) Baunya biasa dan khas
3) Lochea Serosa
a) Waktu keluarnya pada 7-14 hari post partum
b) Konsistensinya cair dan tidak bercampur darah
c) Warnanya kuning
d) Baunya khas atau biasa
4) Lochea Alba
a) Waktu keluarnya pada saat lebih dari 14 hari post partum
b) Konsistensinya kental dan hampir seperti albus
c) Warnanya putih karena banyaknya leukosit didalamnya
5) Lochea Purulenta (lochea abnormal)
a) Waktu keluarnya jika terjadi infeksi
b) Konsistensinya kental dan bercampur nanah
c) Warna kehijau-hijauan
d) Baunya luar biasa / busuk, menandakan adanya infeksi
6) Lochiostasis
a) Lochea tidak lancar keluarnya
Jika lochea tetap berwarna setelah 2 minggu ada kemungkinan tertinggalnya sisa plasenta atau karena involusi yang kurang sempurna, yang sering disebabkan retrofleksio uteri.
C. Tahap fase aktifitas penting sebelum menjadi seorang ibu menurut Rubin yaitu :
1. Taking – In
a. Periode ini terjadi 1-2 hari sesudah melahirkan.
b. Perhatian ibu tertuju pada tubuhnya.
c. Ibu mengulanga-ulang pengalamannya waktu bersalin.
d. Mencegah gangguan tidur, pusing, iritabel, interferance dengan pengembalian ke keadaan normal.
e. Peningkatan nutrisi.
2. Taking Hold
a. Periode ini berlangsung 2-4 hari post partum.
b. Ibu lebih memfokuskan perhatiannya untuk menjadi orang yang sukses dan meningkatkan tanggung jawab terhadap bayinya.
c. Ibu berkonsentrasi pada pengontrolan fungsi tubuhnya seperti BAB, BAK, kekuatan dan ketahanan tubuhnya.
d. Ibu berusaha keras untuk menguasai tentang ketrampilan perawatan bayi. Misalnya : Menggendong, menyusui, memandikan, dan memasang popok.
3. Letting Go
a. Periode ini biasanya terjadi setelah ibu pulang ke rumah, dan sangat berpengaruh terhadap waktu dan perhatian yang diberikan oleh keluarga.
b. Ibu mengambil tanggung jawab terhadap perawatan bayi.
c. Ibu harus beradaptasi dengan keadaan bayi yang sangat bergantung.
d. Depresi post partum biasanya terjadi pada periode ini.
D. Asuhan Masa Nifas
1. Mencegah infeksi.
2. Meningkatkan penyembuhan jaringan.
3. Meningkatkan involusi uterus dan kenyamanan serta mencegah komplikasi dari mobilisasi.
4. Meningkatkan asupan makanan dan cairan yang adekuat.
5. Meningkatkan pembentukan laktasi atau supresinya.
6. Meningkatkan pola eliminasi normal.
7. Pencegahan isomunisasi Rh pada ibu dengan resus negative.
8. Memenuhi kebutuhan belajar ibu, kebersihan diri, perawatan perinel, payudara, parenting, latihan peregangn otot, hubungan seksual dan kontrasepsi.
9. Meningkatkan rasa percaya diri dan gambaran tubuh serta penurunan stress.
10. Mendorong untuk mempertahankan kesehatan mealui penggunaan sumber-sumber kesehatan yang ada di masyarakat.
E. Upaya Promotif dan Preventif Secara Umum
1. Health promotion : Merupakan usaha meningkatkan nilai kesehatan melalui pemeliharaan secara umum yang di lakukan pada pada ibu nifas adalah sebagai berikut :
Tindakan yang baik untuk asuhan masa nifas normal pada ibu
Tindakan
Deskripsi dan keterangan
Kebersihan diri
Anjurkan kebersihan seluruh tubuh
Mengajarkan ibu bagaimana membersihkan daerah kelamin dengan sabun dan air.pastikan bahwa ia mengerti untuk membersihkan daerah di sekitar vulva terlebih dahulu, dari depan ke belakang, baru kemudian membersihkan daerah sekitar anus. Nasehatkan ibu untuk membersihkan diri setiap kali selesai buang air kecil atau besar.
Sarankan ibu untuk mengganti pembalut atau kain pembalut setidaknya dua kali sehari. Kain dapat digunakan ulang jika telah dicuci dengan baik, dan dikeringkan di bawah matahari atau di seterika.
Sarankan ibu untuk mencuci tanagan dengan sabun dan air sebelum dan sesudah membersihkan daerah kelaminnya.
Jika ibu mempunyai luka episiotomy atau laserasi, sarankan kepada ibu untuk menghindari menyenth daerah luka.
Istirahat
Anjurkan ibu untuk beristirahat cukup untuk mencegah kelelahan yang berlebihan.
Saranka ia untuk kembali ke kegiatan-kegiatan rumah tangga biasa perlahan-lahan, serta untuk tidur siang atau beristirahat selagi bayi tidur.
Kurang istirahat akan mempengaruhi ibu dalam beberapa hal :
- Mengurangi jumlah ASI yang diproduksi
- Memperlambat proses involusi uterus dan memperbanyak perdarahan.
- Menyebabkan depresi dan ketidak mampuan untuk merawat bayi dan dirinya sendiri.
Latihan
Diskusikan pentingnya mengembalikan otot-otot perut dan panggul kembali normal. Ibu akan merasa lebih kuata dan ini menyaebabkan otot perutnya menjadi kuata sehingga mengurangi rasa sakit pada punggung.
Jelaskan bahwa latihan tertentu beberapa menit setiap hari sangat membantu, seperti, :
- Dengan tidur telentang dengan lengan di samping, menarik otot perut selagi menarik nafas, tahan nafas kedalam dan angkat dagu ke dada :
Tahan satu hitungan sampai 5. Rileks dan ulangi 10 kali.
- Untuk memperkuat tonus otot vagina (latiahan Kegel).
Berdiri dengna tungkai dirapatkan. Kencangkan otot-otot, pantat dan pinggu tahan sampai 5 hitungan. Kendurkan dan ulangi latihan sebanyak 5 kali.
Mulai dengan mengerjakan 5 kali latihan utnuk setiap gerakan . setiap minggu naikkan jumlah latihan 5 kali lebih banyak. Pada minggu ke-6 setelah persalinan ibu harus memngerjakan setiap gerakan sebanyak 30 kali.
Gizi
Ibu menyusui harus :
Mengkonsumsi tambahan 500 kalori tiap hari.
Makan dengan diet berimbang untuk mendapatkan protein, mineral dan vitamin yang cukup.
Minum sedikitnya 3 liter air setiap hari (anjurkan ibu untuk minum setiap kali menyusui).
Pil zat besi harus diminum untuk menambah zat gizi setidaknya selama 40 hari pasca bersalin.
Minum kapsul vitamin A (200.000 unit) agar bisa memeberikan vitamin A kepada bayinya melalui ASI nya.
Perawatan Payudara
Menjaga payudara tetap bersih dan kering .
Menggunakan BH yang menyokong payudara.
Apabila putting susu lecet oleskan kolostrum atau ASI yang keluar pada sekitar putting susu setiap kali selesai menyu ASI yang keluar pada sekitar putting susu setiap kali selesai menyusuisui. Menyususi tetap dilakukan dimulai dari putting susu yang tidak lecet
Apabila lecet sangat berat dapat diistirahatkanselama 24 jam. ASI dikeluarkan dan diminusui. Menyususi tetap dilakukan dimulai dari putting susu yang tidak lecet
Apabila lecet sangat berat dapat diistirahatkanselama 24 jam. ASI dikeluarkan dan diminumkan dengan menggunakan sendok.
Untuk menghilangkan nydengan menggunakan sendok.
Untuk menghilangkan nyeri dapat minum paracetamol 1 tablet setiap 4-6 paracetamol 1 tablet setiap 4-6 jam.
Apabila payudara bengkak akibat pembendungan ASI, lakukan :
- Pengompresan payudara dengan menggunakan kain basah dan hangat selama 5 menit.
- Urut payudara dari pangkal menuju putting atau gunakan sisir untuk mengurut payudara dengna arah “Z” meneju putting.
- Keluarkan ASI sebagian dari bagian depan paudara sehingga putting susu menjadi lunak.
- Susukan bayi setiap 2-3 jam sekali apabila tidak dapat menghisap seluruh ASI keluarkan dengna tangan.
- Letakakn kain dingin pada payudara setelah menyusui.
- Payudara dikeringkan.
Hubungan Perkawinan / Rumah Tangga
Secara fisik aman untuk memulai banyak budaya, yang mempunyahubungan suammi istri begitu darah merah berhenti dan ibu dapat memasukkan satu atau sua jarinya kedalam vagina tanpa rasa nyeri. Begitu darah merah berhenti dan dia tidak merasakan ketidaknyamanan, aman untuk memulai melakukan hubungan suami istri kapan saja ibu siap.
Banyak budaya, yang mempuyai tradisi mennda hubungan suami istri sampai masa waktu tertentu, misalnya setelah 40 hari atau 6 minggu setelah persalinan. Keputusan tergantung pada pasangan yang bersangkutan.
Keluarga Berencana
Idealnya pasangan harus menunggu sekurang-kurangnya 2 tahun sebelum ibu hamil kembali. Setiap pasangan harus menentukan sendiri kaoan dan bagaimana mereka ingin merencanakan tentang keluarganya. Namun, petugas kesehatan dapat membantu merencanakan keluarganya dengan mengajarkan kepada mereka tentang cara mencegah kehamilan yang tidak diinginkan.
Biasanya wanita tidak akan menghasilkan telur (ovulasi) sebelum ia mendapatkan lagi haidnya selama meneteki. Oleh karena itu, metode amenore laktasi dapat dipakai sebelum haid pertama kembali untuk mencegah terjadinya kehamilan baru resiko caranya ini ialah 2 % kehamilan.
Meskipun beberapa metode KB mengandung resiko, menggunakan kontrasepsi tetap lebih aman, terutama bila ibu sudah haid lagi.
Sebelum menggunakan metode KB, hal-hal berikut sebaiknya dijelaskan dahulu kepada ibu :
- Bagaimana metode ini dapat mencegah kehamilan dan evektifitasnya,
- Kelebihan atau keuntungannya,
- Kekurangannya,
- Efek samping,
- Bagaimana menggunakan metode itu,
- Kapan metode itu dapat mulai digunakan utnuk wanita pasca salin yang menyusui.
Jika seorang ibu atau pasangan telah memilih metode KB tertentu, ada baikny untuk bertemu dengannye lagi dalam 2 minggu untuk mengetahui apakah ada yang ingin ditanyakan oleh ibu / pasangan itu dan untuk melihat apakah metode tersebut bekerja dengan baik.
Tindakan Lazim Yang Tidak Bermanfaat, Bahkan Dapat Membahayakan
Tindakan
Diskripsi dan keterangan
Menghindari makanan berprotein seperti ikan atau telur.
Ibu menyusui butuh tambahan kalori sebesar 500 per hari-nya
Penggunaan bebat perut segera pada masa nifas (2-4 jam pertama).
Selama 1 jam pertama, petugas perlu memriksa fusndus setiap 15 menit dan melakukan massase jika kontraksi tidak kuat; selama 1 jam kedua masa nifas petugas perlu memeriksa fundus setiap 30 menit dan melakukan massase jika kontraksi tidak kuat. Penggunaan pembebat parut selama masa kritis membuat sulit bagi petugas kesehatan untuk menilai tonus dan posisi uterus, untuk melakukan massase uterus jika diperlukan dan memperkirakan banyak darah yang keluar.
Penggunaan kantong es atau pasir untuk menjaga uterus berkontraksi.
Merupakan perawatan yang tidak efektif untuk atonia uteri
Memisahkan bayi dari ibunya untuk masa yang lama pada 1 jam pertama setelah melahirkan.
Masa transisi adalah masa kritis untuk ikatan dan bagi bayi untuk memulai menyusu. Bayi baru lahir pada 2 jam pertama setelah kelahiran merupakan masa paling siaga; setelah masa ini, ia biasanya tidur.
2. Spesifik Protection
Usaha pencegahan dan pengobatan infeksi pada masa nifas, meliputi :
a. Menjaga kebersihan diri (personal hygine) pada alat genital dari semua hal yang dapat menyebabkan timbulnya nbakteri.
b. Pengunjung-pengunjung dari luar hendaknya pada hari-hari pertama dibatasi sedapat mungkin untuk mencegah terjadinya cross infeksi.
c. Tiap penderita dengan tanda-tanda infeksi nifas jangan dirawat bersama dengan wanita-wanita dalam nifas yang sehat.
d. Melakukan scrinning test untuk mengetahui jenis kuman-kuman yang menjadi penyebab infeksi nifas sebelum diputuskan untuk memberi antibiotik yang tepat dan sebelum terapi dimulai.
e. Diberikan penicillin dalam dosis tinggi atau antibiotika dengan spectrum luas ( broad spectrum antibiotics), seperti ampicilin, dan lain-lain. Setelah hasil pembiakan serta tes-tes kepekaan diketahui, dapat dilakukan pengobatan yang paling sesuai.
f. Kombinasi penicillin G dan tetracylin dalam dosis tinggi IV sangat efektif terhadap infeksi nifas, sedangkan Di Bagian Obstetri Dan Ginekologi FKUI/RSCM diipakai sulbenicillin atau garamicin atau kombinasi penicillin G dengan chloramphenicol dengan hasil cukup memuaskan.
g. Selain pengobatan dengan antibiotika, tindakan-tindakan untuk mempertinggi daya tahan badan tetap perlu dilakukan dengan cara mengkonsumsi makanan seimbang yang mengandung zat-zat yang diperlukan tubuh untuk menjaga sistem kekebalan tubuh.
h. Jika terjadi abses pada sellulitis pelvika dan pelvioperitonitis, abses harus dibuka dengan menajaga supaya nanah tidak masuk kedalam rongga peritoneum dan pembuluh darah yang agak besar tidak sampai dilukai.
3. Early Diagnosis Dan Promtratment
Usaha pengobatan secara tepat dan adekuat yang ditujukan pada ibu yang menderita infeksi nifas agar dapat dipulihkan kesehatannya antara lain :
a. Mencegah penyebaran penyakit
b. Mengobati dan menghentikan proses infeksi nifas.
c. Menyembuhkan penderita infeksi nifas dan mencegah terjadinya komplikasi pada masa nifas.
4. Disability Limitation
Usaha pembatasan kecacatan atau pada tahap inicacat yang terjadi terutama untuk mencegah infeksi nifas menjadi berkelanjutan.
a. Memberikan pengobatan yang tepat dengan cara pemberian anti biotik yang tepat
b. Melakukan pengontrolan secara teratur dan rutin untuk mencegah komplikasi
5. Rehabilitation
a. Pada proses ini di usahakan agar infeksi pada ibu nifas tidak menjadi hambatan sehingga individu yang menderita dapat berfungsi optimal, secara fisik, mental, dan social.
b. Memberikan dukungan moril dan mental pada ibu dengan infeksi nifas
F. Definisi Menyusui
Menyusui adalah proses pemberian susu kepada bayi atau anak kecil dengan Air Susu Ibu (ASI) dari payudara ibu. Bayi menggunakan refleks menghisap untuk mendapatkan dan menelan susu. Bukti eksperimental menyimpulkan bahwa air susu ibu adalah gizi terbaik untuk bayi. Seorang bayi dapat disusui oleh ibunya sendiri atau oleh wanita lain. ASI juga dapat diperah dan diberikan melalui alat menyusui lain seperti botol susu, cangkir, sendok, atau pipet. Pemerintah dan organisasi internasional sepakat untuk mempromosikan menyusui sebagai metode terbaik untuk pemberian gizi bayi setidaknya tahun pertama dan bahkan lebih lama lagi, antara lain WHO, American Academy of Pediatrics, dan Departemen Kesehatan.
ASI Eksklusif adalah pemberian ASI saja sejak bayi dilahirkan sampai usia 6 bulan. ASI sangat baik untuk kesehatan bayi, ASI juga mengandung antibiotik yang bisa melindungi bayi dari berbagai penyakit selama antibodinya berkembang. Oleh sebab itu pemberian ASI disarankan pada 6 bulan awal masa kelahiran (ASI eksklusif).
Promosi kesehatan adalah upaya perubahan atau perbaikan perilaku dibidang kesehatan disertai dengan upaya mempengaruhui lingkungan atau hal- hal lain yang sangat berpengaruh terhadap perbaikan perilaku dan kualitas kesehatan.
Ibu menyusui adalah ibu yang memberikan susu kepada bayi atau anak kecil dengan air susu ibu (ASI) dari payudara ibu itu sendiri.
Promosi kesehatan pada ibu menyusui adalah upaya perubahan atau perbaikan perilaku yang dapat berpengaruh terdapat perilaku dan kualitas kesehatan terhadap ibu menyusui.
G. Tujuan Promosi Kesehatan pada Ibu Menyusui
Tujuan jangka panjang dalam promosi kesehatan pada ibu menyusui adalah mengoptimalkan status kesehatan dalam hal menyusui, tujuan jangka menengah adalah menciptakan perilaku sehat menyusui yang baik dan benar dan tujuan jangka pendek adalah sasaran atau ibu menyusui mengerti dan memahami teknik menyusui yang benar, bersikap dan memiliki norma yang positif mengenai menyusui.
H. Promosi Kesehatan pada Ibu Menyusui
Penyelenggaraan Pekan ASI Sedunia adalah suatu gerakan yang dilaksanakan secara serentak di seluruh dunia pada setiap minggu pertama bulan Agustus. Tujuannya adalah agar setiap negara, secara terus menerus bersama-sama melaksanakan upaya-upaya yang nyata untuk membantu ibu agar berhasil menyusui. "Menyusui : Sepuluh Langkah Menuju Sayang Bayi" adalah tema Pekan ASI Sedunia tahun 2010 dengan slogan “Sayang Bayi, Beri ASI” adalah suatu komitmen nyata dari fasilitas kesehatan untuk mendukung keberhasilan menyusui, melalui pemberian perlindungan dan memberikan informasi serta dukungan kepada ibu agar dapat menyusui bayinya secara eksklusif.
Sepuluh langkah menuju keberhasilan menyusui atau Ten Step to Successful Breeastfeeding (WHO/UNICEF 1989, isi dikembangkan oleh DepKes RI dan BKPPASI) merupakan upaya promosi kesehatan pada ibu menyusui yaitu:
1. Langkah I : Buatlah kebijakan tertulis tentang pemberian ASI yang secara rutin dikomunikasikan kepada semua petugas pelayanan kesehatan.
Pada tahun 1989, UNICEF bersama WHO memperkenalkan Sepuluh Langkah Keberhasilan Menyusui dengan mengeluarkan sebuah Pernyataan Bersama mengenai “Perlindungan, Promosi, dan Dukungan Menyusui: Peran Khusus Fasilitas Pelayanan Kesehatan Ibu”. Tahun 1990 Deklarasi Innocenti menghimbau dunia agar mendukung pelaksanaan Sepuluh Langkah disemua fasilitas kesehatan yang memberikan pelayanan kesehatan ibu. Selain itu juga mempunyai kebijakan yang melarang promosi susu formula sesuai dengan Juklak Dep.Kes. tahun 1991 tentang Permenkes no.240 tahun 1985. Dimana semua kebijakan tersebut harus dikomunikasikan secara rutin kepada semua staf dan dipasang pada tempat yang mudah terlihat oleh semua orang yang datang ke Pelayanan Kesehatan tersebut.
2. Langkah II : Memberikan pelatihan bagi petugas kesehatan untuk dapat melaksanakan hal-hal yang disebutkan dalam kebijakan tertulis mengenai pemberian ASI.
Keberhasilan komunikasi antara petugas kesehatan dan pasien pada umumnya akan melahirkan kenyamanan dan kepuasan bagi kedua belah pihak, khususnya timbulnya empati atau ikut merasakan apa yang sedang dialami oleh pasien. Pada promosi kesehatan pada ibu menyusui petugas kesehatan diberi pelatihan mengenai berkomunikasi yang baik secara efektif dengan ibu-ibu (ibu menyusui) dan keluarganya sehingga dapat membantu menumbuhkan kepercayaan diri khususnya pada ibu menyusui dan meningkatkan kepercayaan terhadap tenaga kesehatan yang memberikan pelayanan kesehatannya serta keterampilan mengenai menyusui yang baik. Dalam melaksanakan promosi pemberian ASI di Rumah Sakit pelatihan kepada petugas meliputi:
a. 10 langkah menuju keberhasilan menyusui dan kebijakan tertulis lainnya mengenai pemberian ASI.
b. Pelatihan paling sedikit 16 jam dan pengalaman klinik paling sedikit 3 jam, kemudian diikuti dengan supervisi.
c. Pelatiahan atau penyegaran dilakukan secara berkelanjutan terhada semua staf yang terkait terhada promosi pemberian ASI
3. Langkah III : Menjelaskan manfaat menyusui
Keunggulan dan manfaat menyusui dapat dilihat dari beberapa aspek yaitu: aspek gizi, aspek imunologik, aspek psikologi, aspek kecerdasan, neurologis, ekonomis dan aspek penundaan kehamilan.
a. Aspek Gizi.
Manfaat Kolostrum :
1) Kolostrum mengandung zat kekebalan terutama IgA untuk melindungi bayi dari berbagai penyakit infeksi terutama diare.
2) Jumlah kolostrum yang diproduksi bervariasi tergantung dari hisapan bayi pada hari-hari pertama kelahiran. Walaupun sedikit namun cukup untuk memenuhi kebutuhan gizi bayi. Oleh karena itu kolostrum harus diberikan pada bayi.
3) Kolostrum mengandung protein, vitamin A yang tinggi dan mengandung karbohidrat dan lemak rendah, sehingga sesuai dengan kebutuhan gizi bayi pada hari-hari pertama kelahiran.
4) Membantu mengeluarkan mekonium yaitu kotoran bayi yang pertama berwarna hitam kehijauan.
Komposisi ASI :
1) ASI mudah dicerna, karena selain mengandung zat gizi yang sesuai, juga mengandung enzim-enzim untuk mencernakan zat-zat gizi yang terdapat dalam ASI tersebut.
2) ASI mengandung zat-zat gizi berkualitas tinggi yang berguna untuk pertumbuhan dan perkembangan kecerdasan bayi/anak.
3) Selain mengandung protein yang tinggi, ASI memiliki perbandingan antara Whei dan Casein yang sesuai untuk bayi. Rasio Whei dengan Casein merupakan salah satu keunggulan ASI dibandingkan dengan susu sapi. ASI mengandung Whey : Casein lebih banyak yaitu 65 : 35. Komposisi ini menyebabkan protein ASI lebih mudah diserap. Sedangkan pada susu sapi mempunyai perbandingan Whey:Casein adalah 20 : 80, sehingga tidak mudah diserap.
Komposisi Taurin, DHA dan AA pada ASI :
1) Taurin adalah sejenis asam amino kedua yang terbanyak dalam ASI yang berfungsi sebagai neuro-transmitter dan berperan penting untuk proses maturasi sel otak. Percobaan pada binatang menunjukkan bahwa defisiensi taurin akan berakibat terjadinya gangguan pada retina mata.
2) Decosahexanoic Acid (DHA) dan Arachidonic Acid (AA) adalah asam lemak tak jenuh rantai panjang (polyunsaturated fatty acids) yang diperlukan untuk pembentukan sel-sel otak yang optimal. Jumlah DHA dan AA dalam ASI sangat mencukupi untuk menjamin pertumbuhan dan kecerdasan anak. Disamping itu DHA dan AA dalam tubuh dapat dibentuk atau disintesa dari substansi pembentuknya (precursor) yaitu masing-masing dari Omega 3 (asam linolenat) dan Omega 6 (asam linoleat).
b. Aspek Imunologik
1) ASI mengandung zat anti infeksi, bersih dan bebas kontaminasi.
2) Immunoglobulin A (IgA) dalam kolostrum atau ASI kadarnya cukup tinggi. Sekretori IgA tidak diserap tetapi dapat melumpuhkan bakteri patogen E. coli dan berbagai virus pada saluran pencernaan.
3) Laktoferin yaitu sejenis protein yang merupakan komponen zat kekebalan yang mengikat zat besi di saluran pencernaan.
4) Lysosim, enzym yang melindungi bayi terhadap bakteri (E. coli dan salmonella) dan virus. Jumlah lysosim dalam ASI 300 kali lebih banyak daripada susu sapi.
5) Sel darah putih pada ASI pada 2 minggu pertama lebih dari 4000 sel per mil. Terdiri dari 3 macam yaitu: Brochus-Asociated Lympocyte Tissue (BALT) antibodi pernafasan, Gut Asociated Lympocyte Tissue (GALT) antibodi saluran pernafasan, dan Mammary Asociated Lympocyte Tissue (MALT) antibodi jaringan payudara ibu.
6) Faktor bifidus, sejenis karbohidrat yang mengandung nitrogen, menunjang pertumbuhan bakteri lactobacillus bifidus. Bakteri ini menjaga keasaman flora usus bayi dan berguna untuk menghambat pertumbuhan bakteri yang merugikan.
c. Aspek Psikologis
1) Rasa percaya diri ibu untuk menyusui : bahwa ibu mampu menyusui dengan produksi ASI yang mencukupi untuk bayi. Menyusui dipengaruhi oleh emosi ibu dan kasih saying terhadap bayi akan meningkatkan produksi hormon terutama oksitosin yang pada akhirnya akan meningkatkan produksi ASI.
2) Interaksi Ibu dan Bayi: Pertumbuhan dan perkembangan psikologik bayi tergantung pada kesatuan ibu-bayi tersebut.
3) Pengaruh kontak langsung ibu-bayi : ikatan kasih sayang ibu-bayi terjadi karena berbagai rangsangan seperti sentuhan kulit (skin to skin contact). Bayi akan merasa aman dan puas karena bayi merasakan kehangatan tubuh ibu dan mendengar denyut jantung ibu yang sudah dikenal sejak bayi masih dalam rahim.
d. Aspek Kecerdasan
Interaksi ibu dan bayi dan kandungan nilai gizi ASI sangat dibutuhkan untuk perkembangan sistem syaraf otak yang dapat meningkatkan kecerdasan bayi. Penelitian menunjukkan bahwa IQ pada bayi yang diberi ASI memiliki IQ point 4.3 point lebih tinggi pada usia 18 bulan, 4-6 point lebih tinggi pada usia 3 tahun, dan 8.3 point lebih tinggi pada usia 8.5 tahun, dibandingkan dengan bayi yang tidak diberi ASI.
e. Aspek Neurologis
Dengan menghisap payudara, koordinasi syaraf menelan, menghisap dan bernafas yang terjadi pada bayi baru lahir dapat lebih sempurna.
f. Aspek Ekonomis
Dengan menyusui secara eksklusif, ibu tidak perlu mengeluarkan biaya untuk makanan bayi sampai bayi berumur 4 bulan. Dengan demikian akan menghemat pengeluaran rumah tangga untuk membeli susu formula dan peralatannya.
g. Aspek Penundaan Kehamilan
Dengan menyusui secara eksklusif dapat menunda haid dan kehamilan, sehingga dapat digunakan sebagai alat kontrasepsi alamiah yang secara umum dikenal sebagai Metode Amenorea Laktasi (MAL).
4. Langkah IV : Melaksanakan Inisiasi Menyusu Dini (IMD)
Inisiasi Menyusu Dini (IMD) adalah bayi lahir tanpa dimandikan terlebih dahulu langsung diletakkan pada perut ibu. Secara naluri bayi akan mencapai dan dapat menghisap puting ibu dalam waktu 30 menit. Dengan demikian, kolostrum atau ASI yang berwarna kekuning-kuningan, ASI yang pertama keluar akan langsung dihisap oleh sang bayi. Sebagaimana kita ketahui kolostrum mengandung zat kekebalan yang lebih banyak dari Air Susu yang keluar pada hari-hari berikut setelah kelahiran bayi. Kontak fisik pertama antara ibu dan bayi akan semakin merekatkan rasa kasih sayang ibu dan bayi. Lalu dilanjutkan dengan pemberian ASI eksklusif. ASI eksklusif adalah pemberian ASI tanpa makanan dan minuman tambahan lain pada bayi berumur nol sampai enam bulan. Bahkan air putih tidak diberikan dalam tahap ASI eksklusif ini.
5. Langkah V : Menunjukkan teknik menyusui yang benar
Teknik menyusui yang benar adalah cara memberikan ASI kepada bayi dengan perlekatan dan posisi ibu dan bayi dengan benar (Perinasia, 1994).
Persiapan memberikan ASI dilakukan bersamaan dengan kehamilan. Pada kehamilan, payudara semakin padat karena retensi air, lemak serta berkembangnya kelenjar-kelenjar payudara yang dirasakan tegang dan sakit. Bersamaan dengan membesarnya kehamilan, perkembangan dan persiapan untuk memberikan ASI makin tampak. Payudara makin besar, puting susu makin menonjol, pembuluh darah makin tampak, dan aerola mamae makin menghitam. Persiapan memperlancar pengeluaran ASI dilaksanakan dengan jalan :
a. Membersihkan puting susu dengan air atau minyak, sehingga epitel yang lepas tidak menumpuk.
b. Puting susu ditarik-tarik setiap mandi, sehingga menonjol untuk memudahkan isapan bayi.
c. Bila puting susu belum menonjol dapat memakai pompa susu.
Posisi yang benar dalam pemberian asi sangat menentukan bagi kenyamanan bayi dan ibu sendiri. Cara menyusui yang tergolong biasa dilakukan adalah dengan berdiri, duduk, atau rebahan. Teknik menyusui yang benar yaitu cuci tangan yang bersih dengan sabun, perah sedikit ASI dan oleskan disekitar putting, berdiri, duduk, atau berbaring dengan santai (sesuai keinginan).
a. Melekat dengan benar :
1) Dagu menempel pada payudara ibu
2) Bibir bawah terbuka keluar
3) Mulut terbuka lebar
4) Bagian atas areola mamae lebih banyak berada dalam mulut bayi
b. Posisi tubuh :
1) Perut bayi menghadap badan ibu
2) Telinga, bahu, tangan berada dalam satu garis lurus
3) Bayi di dekatkan dengan ibu
4) Ibu menyangga seluruh badan bayi
Menyusui dengan teknik yang tidak benar dapat mengakibatkan puting susu menjadi lecet, ASI tidak keluar optimal sehingga mempengaruhi produksi ASI selanjutnya atau bayi enggan menyusu. Apabila bayi telah menyusui dengan benar maka akan memperlihatkan tanda-tanda yaitu bayi tampak tenang, bayi nampak menghisap kuat dengan irama perlahan dan puting susu tidak terasa nyeri.
a. Posisi menyusui:
1) The cradle
Posisi ini sangat baik untuk bayi yang baru lahir. Bayi berada di perut ibu sampai kulitnya dan kulit ibu saling bersentuhan. Tubuh bayi menghadap kearah ibu dan meletakkan kepala bayi pada siku tangan ibu.
2) The cross cradle hold
Satu lengan mendukung tubuh bayi dan yang lain mendukung kepala, mirip dengan posisi dudukan tetapi ibu akan memiliki kontrol lebih besar atas kepala bayi. Posisi menyusui ini bagus untuk bayi prematur atau ibu dengan puting payudara kecil.
3) The football hold
Bayi disamping ibu dengan kaki bayi dibelakang ibu dan bayi terselip di bawah lengan ibu, seolah-olah ibu sedang memegang bola kaki. Ini adalah posisi terbaik untuk ibu yang melahirkan dengan operasi caesar atau untuk ibu-ibu dengan payudara besar. Posisi ini membutuhkan bantal untuk menopang bayi.
4) Saddle hold
Posisi ini merupakan cara yang menyenangkan untuk menyusui dalam posisi duduk. Ini juga bekerja dengan baik jika bayi memiliki pilek atau sakit telinga. Bayi duduk tegak dengan kaki mengangkangi ibu.
5) The lying position
Menyusui dengan berbaring akan memberi ibu lebih banyak kesempatan untuk bersantai dan juga untuk tidur lebih banyak pada malam hari. Ibu bisa tidur saat bayi menyusu. Dukung punggung dan kepala bayi dengan bantal dan pastikan bahwa perut bayi menyentuh ibu.
b. Berbagai masalah dalam menyusui
1) Payudara bengkak
Payudara bengkak biasanya terjadi 2 atau 3 hari pasca persalinan. Bengkak pada payudara ini di sebabkan oleh penggumpalan air susu dalam kelenjar susu di payudara yang lama kelamaan dapat menyebabkan tersumbatnya kelenjar susu sehingga pengeluaran volume ASI berkurang. Desakan ASI yang tidak lancer menimbulkan rasa nyeri pada payudara ibu.
Penggumpalan air susu biasa terjadi karena bayi enggan menyusui pada ibu nya kemungkinan karna derasnya aliran air susu yang keluar sehingga bayi tak nyaman saat menyusui. Produksi ASI yang melimpah tanpa disusukan atau dipompa lambat laun akan menyebabkan penggumpalan yang pada akhirnya menyumbat kelenjar susu.
Jika ibu mengalami bengkak pada panyudara, atasilah dengan memijat daerah payudara yang sakit sehari 2 kali kearah puting susu. Gunakan baby oil atau minyak kelapa murni untuk melemaskan dan membuat daerah sekitar payudara tidak kaku.
2) Payudara meradang
Gangguan ini biasa disebut sebagai mastitis. Radang ini akan terjadi karena ibu tidak menyusui atau puting payudara lecet karena mernyusui. Kondisi ini biasa terjadi pada satu atau kedua payudara sekaligus. Umumnya radang terjadi 2-6 minggu pasca persalinan akibat adanya infeksi bakteri serta pemakaian BH yang terlalu ketat. Untuk mencegah mastitis, ibu harus menyusui bayi segera dan sesering mungkin, bila payudara terasa penuh segera keluarkan dengan cara menyusui langsung pada bayi. Pengobatan yang tepat adalah dengan pemberian antibiotik yang baik dan aman untuk ibu menyusui.
3) Puting datar atau tenggelam
Kalainan ini terjadi karena pelekatan mengakibatkan saluran lebih pendek dan menarik puting susu kedalam. Upaya agar puting tidak datar atau tenggelam lagi ialah tarik puting susu keluar dengan jari tangan, tahan selama beberapa waktu, lakukan selama 2 hari sekali.
4) Puting lecet
Puting lecet ini tidak tepatnya posisi mulut bayi saat menyusui. Umumnya terjadi pada hari pertama menyusui. Bila tidak terlalu nyeri, ibu dianjurkan untuk teruskan menyusui bayinya agar nyeri berkurang dan oleskan sedikit ASI pada puting susu dan sekitarnya atau kompres payudara dengan Air hangat sebelum menyusui.
5) Gangguan volume ASI
Menyusui melibatkan proses menghasilkan dan mengeluarkan ASI. Biarkan pemberian ASI lancar, kedua proses itu harus berjalan dengan seimbang. Jika tidak terjadi keseimbangan maka proses menyusuipun tidak akan berjalan lancar.
6) Bingung puting
Bingung puting merupakan masalah menyusui yang timbul karena bayi yang masih terlalu kecil mengalami kebingungan antara meghisap puting dengan botol susu. Solusinya ibu harus memulai membiasakan bayi diberi ASI perah dengan sendok, bukan botol susu. Berikan dengan cara menyuapinya dengan sendok agar bayi tidak binggung puting.
6. Langkah VI : Tidak memberikan makanan dan atau minuman selain ASI
ASI tak dapat digantikan oleh makanan ataupun minuman manapun, karena ASI mengandung zat gizi yang paling tepat, lengkap dan selalu menyesuaikan dengan kebutuhan bayi setiap saat. ASI dalam jumlah cukup merupakan makanan terbaik pada bayi dan dapat memenuhi kebutuhan gizi bayi selama 6 bulan pertama. ASI merupakan makanan alamiah yang pertama dan utama bagi bayi sehingga dapat mencapai tumbuh kembang yang optimal.
7. Langkah VII : Melaksanakan rawat gabung
Rawat gabung merupakan satu cara perawatan dimana ibu dan bayi yang baru dilahirkan tidak dipisahkan, melainkan ditempatkan bersama dalam sebuah ruangan. Manfaat dilakukannyan rawat gabung yaitu:
a. Dengan rawat gabung antara ibu dan bayi akan terjalin proses lekat (bonding) yang dapat mempengaruhi perkembangan psikologis bayi selanjutnya
b. Ibu mudah menyusui kapan saja
c. Bayi dapat disusui dengan frekuensi yang lebih sering dan menimbulkan refleks prolaktin yang mampu memacu proses produksi ASI dan refleks oksitosin yang membantu pengeluaran ASI dan mempercepat involusi rahim
d. Petugas kesehatan lebih mudah untuk mengetahui perkembangan kondisi kesehatan ibu dan bayi.
8. Langkah VIII : Membantu ibu menyusui sesering mungkin dan semau bayi
Sebaiknya dalam menyusui bayi tidak dijadwal, sehingga tindakan menyusui bayi dilakukan di setiap saat bayi membutuhkan, karena bayi akan menentukan sendiri kebutuhannya. Ibu harus menyusui bayinya bila bayi menangis bukan karena sebab lain (kencing, kepanasan atau kedinginan atau sekedar ingin didekap) atau ibu sudah merasa perlu menyusui bayinya. Bayi yang sehat dapat mengosongkan satu payudara sekitar 5-7 menit dan ASI dalam lambung bayi akan kosong dalam waktu 2 jam. Pada awalnya, bayi tidak memiliki pola yang teratur dalam menyusui dan akan mempunyai pola tertentu setelah 1 – 2 minggu kemudian.
Menyusui yang dijadwal akan berakibat kurang baik, karena isapan bayi sangat berpengaruh pada rangsangan produksi ASI selanjutnya. Dengan menyusui tanpa jadwal, sesuai kebutuhan bayi akan mencegah timbulnya masalah menyusui. Ibu yang bekerja dianjurkan agar lebih sering menyusui pada malam hari. Bila sering disusukan pada malam hari akan memicu produksi ASI.
9. Langkah IX : Tidak memberikan dot atau kempeng
Oleh karena pemberian susu formula kadang tidak disertai dengan botol atau dot yang cukup terjamin kebersihannya sehingga bayi menjadi diare. Dan pengenceran atau perbandingan bubuk susu dan air kadang tidak sesuai dengan ketentuan pada label yang berakibat bayi kurang gizi.
10. Langkah X : Membina kelompok pendukung ASI
Dukungan lainnya dari pihak-pihak yang terkait dengan ibu menyusui menjadi penentu keberhasilan pemberian ASI diantaranya:
a. Suami
Bentuk dukungan yang dapat diberikan antara lain menemani istri ketika sedang menyusui, ikut merawat bayi, memberikan kata-kata pujian/pemberi semangat sehingga istri terus merasa percaya diri, melengkapi pengetahuan seputar pemberian ASI dan kegiatan menyusui, serta bangga dengan istri yang sedang dalam masa pemberian ASI kepada sang buah hati.
b. Keluarga
Melengkapi pengetahuan seputar pemberian ASI dan kegiatan menyusui, memberikan pujian, semangat dan dorongan agar ibu bisa percaya diri untuk menyusui, membantu dalam perawatan bayi.
c. Tenaga kesehatan
Tidak mempromosikan susu formula, memberi informasi yang tepat tentang ASI dan seputar kegiatan menyusui, memberikan semangat dan dorongan agar para ibu memberikan ASI Eksklusif kepada bayi mereka, dan menyusui diteruskan sampai bayi berusia 2 tahun atau lebih, dan memahami ciri-ciri tumbuh kembang bayi/anak ASI.
d. Lingkungan kerja atau kantor
Menerapkan kebijakan kantor yang ramah terhadap pegawai perempuan yang menyusui, menyediakan ruang menyusui, memberikan waktu untuk memerah/menyusui langsung bila menyusui harus dilakukan selama waktu kerja.
e. Sesama ibu menyusui
Saling berbagi pengalaman, bertukar informasi, memberi semangat dan dukungan seputar kegiatan menyusui dan pemberian ASI, agar ASI Eksklusif berhasil diberikan kepada bayi selama 6 bulan pertama, dan ASI diteruskan hingga anak berusia 2 tahun atau lebih.
f. Pemerintah
Senantiasa mensosialisasikan keunggulan ASI kepada masyarakat, memperbaiki dan melengkapi perangkat yang mendukung kegiatan menyusui dan pemberian ASI, menindak dengan tegas segala bentuk pelanggaran pihak ketiga yang bertentangan dengan kebijakan pemberian ASI Eksklusif serta pemberian ASI bagi bayi Indonesia.
I. Promosi Kesehatan pada Ibu Menyesui yang Bekerja
Prinsip umum bagi promosi kesehatan yang efektif di tempat kerja antara lain:
1. Manajemen puncak harus mendukung secara nyata serta antusias program intervensi dan turut terlibat dalam program tersebut.
2. Pihak pekerja atau karyawan pada semua tingkat pengorganisasian harus terlibat dalam perencanaan dan implementasi intervensi.
3. Fokus intervensi harus berdasarkan pada esame risiko yang dapat didefinisikanserta dimodifikasi, dan merupakan prioritas bagi pekerja atau karyawan.
4. Intervensi harus disusun sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan pekerja atau karyawan.
5. Sumber daya setempat harus dimanfaatkan dalam mengorganisasikan dan mengimplementasikan intervensi.
6. Evaluasi harus dilakukan juga.
7. Organisasi harus menggunakan inisiatif kebijakan berbasis populasi maupun intervensi promosi kesehatan yang intensif dengan berorientasi pada perorangan dan kelompok.
8. Intervensi harus bersifat sustained (kontinu) serta didasarkan pada prinsip-prinsip pemberdayaan dan atau model yang berorientasi pada masyarakat dengan menggunakan lebih dari satu metode.
Upaya promosi kesehatan yang dapat dilakukan untuk ibu menyusui yang bekerja antara lain:
1. Memberikan konseling tentang persiapan ketika sudah kembali bekerja seperti:
a. Memberitahu ibu untuk mersiapkan segala kebutuhan esok hari, pada malam hari sebelumnya.
b. Menganjurkan ibu untuk menyusui bayi sebelum berangkat ke kantor.
c. Mengusahakan agar perpisahan dan pertemuan kembali ibu dengan bayi dilaksanakan dalam suasana gembira.
2. Memberikan konseling kepada ibu ketika ibu berada di kantor seperti:
a. Memberitahu ibu untuk memerah atau pompa ASI sesuai jadwal menyusu bayi atau minimal dalam rentang waktu 3 jam.
b. Memberitahu memerah atau pompa ASI secara teratur sesuai dengan jadwal dan sebelum payudara ibu terasa penuh.
c. Menggunakan cara yang benar untuk menyimpan dan mengangkut ASIP.
d. Memastikan bahwa pengasuh bayi mengerti tata cara pemberian ASIP yang benar.
e. Memberitahu kepada pengasuh bayi untuk tidak memberikan ASIP ketika anda sudah dekat rumah.
f. Memberitahu ibu untuk menyusui bayi ketika sudah kembali pulang, pada malam hari, diakhir esam dan setiap saat ibu sedang bersama bayi.
g. menganjurkan ibu agar meminta dukungan esame rekan kantor dalam upaya ibu untuk terus memberikan ASI.
h. menganjurkan ibu untuk mencari esame ibu bekerja yang juga menyusui untuk saling tukar pendapat pengalamam dan saling mendukung.
i.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Nifas adalah masa pulih kembali,mulai dari persalinan selesai sampai alat-alat kandungan kembali seperti pra hamil, lamanya 6-8 minggu. Sedangkan Menyusui adalah proses pemberian susu kepada bayi atau anak kecil dengan Air Susu Ibu (ASI) dari payudara ibu.
2. Pencegahan infeksi masa nifas merupakan salah satu upaya promosi kesehatan pada masa nifas
3. Penyelenggaraan Pekan ASI Sedunia adalah salah satu upaya promosi kesehatan pada ibu menyusui.
B. Saran
Dari hasil kesimpulan yang telah dikemukakan, maka dapat diberikan saran-saran sebagai bahan masukan bagi pihak yang bersangkutan dalam rangka meningkatkan kualitas kesehatan ibu nifas dan menyusui serta menambah informasi dan wawaasan.
1. Bagi instansi pendidikan
Disarankan agar mengembangkan pengetahuan tentang promosi kesehatan tentang masa nifas dan menyusui guna menunjang peningkatan kualitas kesehatan ibu dan anak, sehingga dapat menjadi literature untuk mendukung peningkatan kualitas pelayanan kesehatan khususnya ibu nifas dan menyusui.
2. Bagi profesi kebidanan
Disarankan agar mengembangkan pengetahuan kesehatan terkait promosi kesehatan ibu nifas dan menyusui, terhadap klien. Guna memonitoring kesehatan ibu nifas dan menyusui.
3. Bagi pembaca
Disarankan agar memahami dan memperluas wawasan mengenai promosi kesehatan ibu nifas dan menyusuiBAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Promosi kesehatan ibu nifas adalah upaya untuk mempromosikan kesehatan setelah masa persalinan untuk mencegah terjadinya komplikasi.Masa nifas atau puerperium dimulai setelah plasenta lahir dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil. Masa nifas berlangsung selama kira-kira 6 minggu.
Bidan mempunyai peran sebagai pelaksana, pengelola, peneliti, dan pendidik. Sebagai pelaksana, bidan melakukan tugasnya dalam melakukan pelayanan kesehatan. Sebagai pengelola, bidan memimpin kelompok atau masyarakat dalam meningkatkan mutu kesehatan. Sebagai peneliti, bidan melakukan penelitian dalam berbagai masalah tentang pelayanan kesehatan. Sebagai pendidik, bidan dapat berperan sebagai penyuluh dan penasihat tentang permasalahan kesehatan yang ada di masyarakat, disinilah peran bidan dalam melakukan upaya promosi kesehatan. Dimana sebagai promotor kesehatan bidan harus mampu memberikan penerangan dan pendidikan sesuai sasaran untuk meningkatkan kesehatan. Sasaran akan dapat menerima pelayanan kesehatan yang diberikan bila mereka memahaminya dengan baik serta menganggap pelayanan kesehatan tersebut menguntungkan bagi diri dan lingkungan mereka. Upaya untuk meyakinkan sasaran agar dapat menerima pelayanan kesehatan yang memberi manfaat bagi mereka tidak lain adalah melalui promosi kesehatan seperti promosi kesehatan pada ibu nifas.
Salah satu masalah yang masih tinggi dialami oleh negara Indonesia ialah masalah gizi kurang terutama dalam pemberian Air Susu Ibu (ASI), angka kesakitan dan kematian pada bayi dan anak-anak. Kendala dalam pemberian ASI telah diidentifikasi, diantaranya mencakup faktor-faktor seperti kurangnya informasi, praktik-praktik rumah sakit yang kurang tepat seperti memberikan air dan suplemen untuk bayi tanpa ada kebutuhan medis, kurangnya perawatan tindak lanjut pada awal periode pasca melahirkan, ibu bekerja, kurangnya dukungan sosial yang luas, dan promosi komersial dari susu formula melalui hadiah yang diberikan rumah sakit waktu ibu pulang ke rumah, hadiah untuk bayi dari perusahaan susu formula yang didistribusikan oleh pemberi perawatan selama kehamilan dan iklan-iklan di televisi serta majalah.
Oleh karena itu penulis tergugah untuk membuat suatu makalah yang membahas tentang upaya promosi kesehatan pada ibu nifas dan menyusui.
B. Rumusan Masalah
1. Apakah pengertian dari masa nifas dan menyusui?
2. Apakah yang dimaksud dengan promosi kesehatan pada masa nifas?
3. Apakah yang dimaksud dengan promosi kesehatan pada ibu menyusui?
4. Apa saja yang termasuk upaya kesehatan pada ibu nifas?
5. Apa saja yang termasuk upaya kesehatan pada ibu menyusui?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian dari masa nifas dan menyusui
2. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan promosi kesehatan pada ibu nifas
3. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan promosi kesehatan pada ibu menyusui
4. Untuk mengetahui upaya kesehatan pada ibu nifas
5. Untuk mengetahui upaya kesehatan pada ibu menyusui
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Definisi Masa Nifas
1. Nifas adalah masa pulih kembali,mulai dari persalinan selesai sampai alat-alat kandungan kembali seperti pra hamil, lamanya 6-8 minggu.
2. Masa sesudah persalinan yang diperlukan untuk pulihnya kembali alat kandungan yang lamanya 6 minggu.
3. Masa yang dimulai setelah partus selesai,dan berakhir setelah kira-kira 6 minggu,akan tetapi seluruh alat genital baru pulih kembali seperti sebelum ada kehamilan dalam waktu 3 bulan.
4. Masa yang dimulai setelah kehamilan placenta dan berakhir ketika alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil dan berlangsung kira-kira 6 minggu.
B. Tahap Masa Nifas
1. Puerperium dini
Yaitu kepulihan dimana ibu telah diperbolehkan berdiri dan berjalan,dalam agama islam dianggap telah bersih dan boleh bekerja setelah 40 hari.
2. Peurperium intermedial
Yaitu kepulihan menyeluruh alat-alat genital yang lamanya 6-8 minggu.
3. Remote puerperium
Adalah waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat sempurna terutama bila selama hamil atau waktu persalinan mempunyai komplikasi.Waktu untuk sehat sempurna bisa berminggu-munggu atau tahunan.
Pada masa ini terjadi perubahan-perubahan fisiologi, yaitu :
a. Perubahan fisik
b. Involusi uterus
Setelah plasenta lahir uterus merupakan alat yang keras karena kontraksi dan retraksi otot-otot involusi terjadi karena masing-masing sel menjadi kecil karena sitoplasma yang berlebihan dibuang. Involusi disebabkan karena autolysis yaitu pecahnya zat protein dinding rahim yang diabsorbsi dan dibuang menjadi urine. Pelepasan plasenta dan selaput janin serta dinding rahim terjadi pada stratum spongiosum bagian atas setelah 2-3 hari tampak bahwa lapisan atas stratum spongiosum yang tinggi menjadi nekrotis, sedangkan lapisan bawahnya yang berhubungan dengan otot terpelihara dengan baik.
Bagian yang nekrotis mengeluarkan lochea, sedangkan lapisan yang masih sehat menghasilkan endometrium yang baru.
Epitel baru terjadi karena proliferasi sel-sel kelenjar, sedangkan stroma baru terbentuk dari jaringan ikat yang ada diantara kelenjar-kelenjar. Epitelasi berlangsung selama 10 hari kecuali pada implantasi plasenta memakan waktu 3 minggu.
Tonus otot uterus dipelihara oleh control persyarafan dan dapat dirangsang dengan massase / rangsangan putting susu.
Tabel Tinggi Fundus Uteri dan Berat Uterus menurut Masa Involusi
Involusi
Tinggi Fundus Uteri
Berat Uterus
Bayi lahir
Uri lahir
1 minggu
2 minggu
6 minggu
8 minggu
Setinggi pusat
2-3 jari bawah pusat
Pertengahan pst-sympysis
Tidak teraba diatas syimpysis
Bertambah kecil
Sebesar ukuran normal
1000 gram
750 gram
500 gram
350 gram
50 gram
30 gram
c. Involusi Tempat Plasenta
Setelah persalinan plasenta mengecil karena adanya kontraksi dan menonjol ke kavum uteri dengan diameter 7,5 cm. Setelah 2 minggu menjadi 3-4 cm dan minggu ke 6 1-2 cm dan akhirnya pulih. Penyembuhan luka plasenta khas sekali karena pertumbuhan endometrium di pinggir luka dan juga sisa-sisa kelenjar pada dasar luka.
d. Perubahan Pembuluh Darah Rahim
Dalam kehamilan, uterus mempunyai banyak pembuluh-pembuluh darah yang besar, tetapi pada persalinan tidak diperlukan lagi, maka arteri akan mengecil lagi pada masa nifas.
e. Perubahan Pada Serviks dan Vagina
Setelah persalinan bentuk serviks agak menganga seperti corong berwarna merah kehitaman. Konsistensinya lunak, kadang –kadang terdapat perlukaan-perlukaan kecil. Setelah bayi lahir ostium uteri externum dapat dilalui 2-3 jari dan pada akhir minggu pertama hanya dapat dilalui 1 jari saja. Vagina yang sangat diregang waktu persalinan, lambat laun mencapai ukuran-ukurannya yang normal pada minggu ke 3 post partum rugae mulai tampak kembali.
f. Ligament-Ligament
Ligament-ligament dan diafragma pelvis yang meregang pada waktu persalinan, setelah bayi lahir secara berangsur-angsur menjadi ciut dan pulih kembali, sehingga tidak jarang uterus jatuh kebelakang dan menjadi retrofleksi, karena ligament rotundum menjadi kendor setelah persalinan, kebiasaan wanita Indonesia melakukan berurut dimana sewaktu diurut tekanan infra abdomen bertambah tinggi, karena setelah melahirkan ligament fasia dan jaringan penunjang menjadi kendor. Jika dilakukan urut banyak wanita akan mengeluh “kandungannya turun” untuk memulihkannya kembali sebaiknya melakukan latihan-latihan dan gymnastic pasca persalinan.
g. After Paints (Mules-Mules)
Kontraksi uterus setelah persalinan sangat menganggu selama 2-3 hari post partum. After paints lebih terasa bila wanita tersebut menyusui. Perasaan sakit timbul bila masih ada sisa plasenta, sisa selaput ketuban atau gumpalan darah dalam kavum uteri.
h. Pengeluaran Lochea
Lochea adalah secret yang berasal dari kavum uteri dan vagina dalam masa nifas. Lochea tidak lain dari pada secret luka yang berasal dari luka dalam rahim terutama luka plasenta. Sifat lochea berubah seperti secret luka berubah menurut tingkat penyembuhan luka.
1) Lochea Rubra
a) Waktu keluarnya pada saat 2 hari post partum
b) Konsistensi cair
c) Warnanya merah
d) Baunya biasa atau khas
e) Berisi darah segar dan sisa-sisa selaput ketuban, sel-sel desidua verniks caseosa, lanugo dan mekonium.
2) Lochea Sanguinolenta
a) Waktu keluarnya pada 3-7 hari post partum
b) Konsistensinya lebih kental dan bercampur lender
c) Warna cokelat
d) Baunya biasa dan khas
3) Lochea Serosa
a) Waktu keluarnya pada 7-14 hari post partum
b) Konsistensinya cair dan tidak bercampur darah
c) Warnanya kuning
d) Baunya khas atau biasa
4) Lochea Alba
a) Waktu keluarnya pada saat lebih dari 14 hari post partum
b) Konsistensinya kental dan hampir seperti albus
c) Warnanya putih karena banyaknya leukosit didalamnya
5) Lochea Purulenta (lochea abnormal)
a) Waktu keluarnya jika terjadi infeksi
b) Konsistensinya kental dan bercampur nanah
c) Warna kehijau-hijauan
d) Baunya luar biasa / busuk, menandakan adanya infeksi
6) Lochiostasis
a) Lochea tidak lancar keluarnya
Jika lochea tetap berwarna setelah 2 minggu ada kemungkinan tertinggalnya sisa plasenta atau karena involusi yang kurang sempurna, yang sering disebabkan retrofleksio uteri.
C. Tahap fase aktifitas penting sebelum menjadi seorang ibu menurut Rubin yaitu :
1. Taking – In
a. Periode ini terjadi 1-2 hari sesudah melahirkan.
b. Perhatian ibu tertuju pada tubuhnya.
c. Ibu mengulanga-ulang pengalamannya waktu bersalin.
d. Mencegah gangguan tidur, pusing, iritabel, interferance dengan pengembalian ke keadaan normal.
e. Peningkatan nutrisi.
2. Taking Hold
a. Periode ini berlangsung 2-4 hari post partum.
b. Ibu lebih memfokuskan perhatiannya untuk menjadi orang yang sukses dan meningkatkan tanggung jawab terhadap bayinya.
c. Ibu berkonsentrasi pada pengontrolan fungsi tubuhnya seperti BAB, BAK, kekuatan dan ketahanan tubuhnya.
d. Ibu berusaha keras untuk menguasai tentang ketrampilan perawatan bayi. Misalnya : Menggendong, menyusui, memandikan, dan memasang popok.
3. Letting Go
a. Periode ini biasanya terjadi setelah ibu pulang ke rumah, dan sangat berpengaruh terhadap waktu dan perhatian yang diberikan oleh keluarga.
b. Ibu mengambil tanggung jawab terhadap perawatan bayi.
c. Ibu harus beradaptasi dengan keadaan bayi yang sangat bergantung.
d. Depresi post partum biasanya terjadi pada periode ini.
D. Asuhan Masa Nifas
1. Mencegah infeksi.
2. Meningkatkan penyembuhan jaringan.
3. Meningkatkan involusi uterus dan kenyamanan serta mencegah komplikasi dari mobilisasi.
4. Meningkatkan asupan makanan dan cairan yang adekuat.
5. Meningkatkan pembentukan laktasi atau supresinya.
6. Meningkatkan pola eliminasi normal.
7. Pencegahan isomunisasi Rh pada ibu dengan resus negative.
8. Memenuhi kebutuhan belajar ibu, kebersihan diri, perawatan perinel, payudara, parenting, latihan peregangn otot, hubungan seksual dan kontrasepsi.
9. Meningkatkan rasa percaya diri dan gambaran tubuh serta penurunan stress.
10. Mendorong untuk mempertahankan kesehatan mealui penggunaan sumber-sumber kesehatan yang ada di masyarakat.
E. Upaya Promotif dan Preventif Secara Umum
1. Health promotion : Merupakan usaha meningkatkan nilai kesehatan melalui pemeliharaan secara umum yang di lakukan pada pada ibu nifas adalah sebagai berikut :
Tindakan yang baik untuk asuhan masa nifas normal pada ibu
Tindakan
Deskripsi dan keterangan
Kebersihan diri
Anjurkan kebersihan seluruh tubuh
Mengajarkan ibu bagaimana membersihkan daerah kelamin dengan sabun dan air.pastikan bahwa ia mengerti untuk membersihkan daerah di sekitar vulva terlebih dahulu, dari depan ke belakang, baru kemudian membersihkan daerah sekitar anus. Nasehatkan ibu untuk membersihkan diri setiap kali selesai buang air kecil atau besar.
Sarankan ibu untuk mengganti pembalut atau kain pembalut setidaknya dua kali sehari. Kain dapat digunakan ulang jika telah dicuci dengan baik, dan dikeringkan di bawah matahari atau di seterika.
Sarankan ibu untuk mencuci tanagan dengan sabun dan air sebelum dan sesudah membersihkan daerah kelaminnya.
Jika ibu mempunyai luka episiotomy atau laserasi, sarankan kepada ibu untuk menghindari menyenth daerah luka.
Istirahat
Anjurkan ibu untuk beristirahat cukup untuk mencegah kelelahan yang berlebihan.
Saranka ia untuk kembali ke kegiatan-kegiatan rumah tangga biasa perlahan-lahan, serta untuk tidur siang atau beristirahat selagi bayi tidur.
Kurang istirahat akan mempengaruhi ibu dalam beberapa hal :
- Mengurangi jumlah ASI yang diproduksi
- Memperlambat proses involusi uterus dan memperbanyak perdarahan.
- Menyebabkan depresi dan ketidak mampuan untuk merawat bayi dan dirinya sendiri.
Latihan
Diskusikan pentingnya mengembalikan otot-otot perut dan panggul kembali normal. Ibu akan merasa lebih kuata dan ini menyaebabkan otot perutnya menjadi kuata sehingga mengurangi rasa sakit pada punggung.
Jelaskan bahwa latihan tertentu beberapa menit setiap hari sangat membantu, seperti, :
- Dengan tidur telentang dengan lengan di samping, menarik otot perut selagi menarik nafas, tahan nafas kedalam dan angkat dagu ke dada :
Tahan satu hitungan sampai 5. Rileks dan ulangi 10 kali.
- Untuk memperkuat tonus otot vagina (latiahan Kegel).
Berdiri dengna tungkai dirapatkan. Kencangkan otot-otot, pantat dan pinggu tahan sampai 5 hitungan. Kendurkan dan ulangi latihan sebanyak 5 kali.
Mulai dengan mengerjakan 5 kali latihan utnuk setiap gerakan . setiap minggu naikkan jumlah latihan 5 kali lebih banyak. Pada minggu ke-6 setelah persalinan ibu harus memngerjakan setiap gerakan sebanyak 30 kali.
Gizi
Ibu menyusui harus :
Mengkonsumsi tambahan 500 kalori tiap hari.
Makan dengan diet berimbang untuk mendapatkan protein, mineral dan vitamin yang cukup.
Minum sedikitnya 3 liter air setiap hari (anjurkan ibu untuk minum setiap kali menyusui).
Pil zat besi harus diminum untuk menambah zat gizi setidaknya selama 40 hari pasca bersalin.
Minum kapsul vitamin A (200.000 unit) agar bisa memeberikan vitamin A kepada bayinya melalui ASI nya.
Perawatan Payudara
Menjaga payudara tetap bersih dan kering .
Menggunakan BH yang menyokong payudara.
Apabila putting susu lecet oleskan kolostrum atau ASI yang keluar pada sekitar putting susu setiap kali selesai menyu ASI yang keluar pada sekitar putting susu setiap kali selesai menyusuisui. Menyususi tetap dilakukan dimulai dari putting susu yang tidak lecet
Apabila lecet sangat berat dapat diistirahatkanselama 24 jam. ASI dikeluarkan dan diminusui. Menyususi tetap dilakukan dimulai dari putting susu yang tidak lecet
Apabila lecet sangat berat dapat diistirahatkanselama 24 jam. ASI dikeluarkan dan diminumkan dengan menggunakan sendok.
Untuk menghilangkan nydengan menggunakan sendok.
Untuk menghilangkan nyeri dapat minum paracetamol 1 tablet setiap 4-6 paracetamol 1 tablet setiap 4-6 jam.
Apabila payudara bengkak akibat pembendungan ASI, lakukan :
- Pengompresan payudara dengan menggunakan kain basah dan hangat selama 5 menit.
- Urut payudara dari pangkal menuju putting atau gunakan sisir untuk mengurut payudara dengna arah “Z” meneju putting.
- Keluarkan ASI sebagian dari bagian depan paudara sehingga putting susu menjadi lunak.
- Susukan bayi setiap 2-3 jam sekali apabila tidak dapat menghisap seluruh ASI keluarkan dengna tangan.
- Letakakn kain dingin pada payudara setelah menyusui.
- Payudara dikeringkan.
Hubungan Perkawinan / Rumah Tangga
Secara fisik aman untuk memulai banyak budaya, yang mempunyahubungan suammi istri begitu darah merah berhenti dan ibu dapat memasukkan satu atau sua jarinya kedalam vagina tanpa rasa nyeri. Begitu darah merah berhenti dan dia tidak merasakan ketidaknyamanan, aman untuk memulai melakukan hubungan suami istri kapan saja ibu siap.
Banyak budaya, yang mempuyai tradisi mennda hubungan suami istri sampai masa waktu tertentu, misalnya setelah 40 hari atau 6 minggu setelah persalinan. Keputusan tergantung pada pasangan yang bersangkutan.
Keluarga Berencana
Idealnya pasangan harus menunggu sekurang-kurangnya 2 tahun sebelum ibu hamil kembali. Setiap pasangan harus menentukan sendiri kaoan dan bagaimana mereka ingin merencanakan tentang keluarganya. Namun, petugas kesehatan dapat membantu merencanakan keluarganya dengan mengajarkan kepada mereka tentang cara mencegah kehamilan yang tidak diinginkan.
Biasanya wanita tidak akan menghasilkan telur (ovulasi) sebelum ia mendapatkan lagi haidnya selama meneteki. Oleh karena itu, metode amenore laktasi dapat dipakai sebelum haid pertama kembali untuk mencegah terjadinya kehamilan baru resiko caranya ini ialah 2 % kehamilan.
Meskipun beberapa metode KB mengandung resiko, menggunakan kontrasepsi tetap lebih aman, terutama bila ibu sudah haid lagi.
Sebelum menggunakan metode KB, hal-hal berikut sebaiknya dijelaskan dahulu kepada ibu :
- Bagaimana metode ini dapat mencegah kehamilan dan evektifitasnya,
- Kelebihan atau keuntungannya,
- Kekurangannya,
- Efek samping,
- Bagaimana menggunakan metode itu,
- Kapan metode itu dapat mulai digunakan utnuk wanita pasca salin yang menyusui.
Jika seorang ibu atau pasangan telah memilih metode KB tertentu, ada baikny untuk bertemu dengannye lagi dalam 2 minggu untuk mengetahui apakah ada yang ingin ditanyakan oleh ibu / pasangan itu dan untuk melihat apakah metode tersebut bekerja dengan baik.
Tindakan Lazim Yang Tidak Bermanfaat, Bahkan Dapat Membahayakan
Tindakan
Diskripsi dan keterangan
Menghindari makanan berprotein seperti ikan atau telur.
Ibu menyusui butuh tambahan kalori sebesar 500 per hari-nya
Penggunaan bebat perut segera pada masa nifas (2-4 jam pertama).
Selama 1 jam pertama, petugas perlu memriksa fusndus setiap 15 menit dan melakukan massase jika kontraksi tidak kuat; selama 1 jam kedua masa nifas petugas perlu memeriksa fundus setiap 30 menit dan melakukan massase jika kontraksi tidak kuat. Penggunaan pembebat parut selama masa kritis membuat sulit bagi petugas kesehatan untuk menilai tonus dan posisi uterus, untuk melakukan massase uterus jika diperlukan dan memperkirakan banyak darah yang keluar.
Penggunaan kantong es atau pasir untuk menjaga uterus berkontraksi.
Merupakan perawatan yang tidak efektif untuk atonia uteri
Memisahkan bayi dari ibunya untuk masa yang lama pada 1 jam pertama setelah melahirkan.
Masa transisi adalah masa kritis untuk ikatan dan bagi bayi untuk memulai menyusu. Bayi baru lahir pada 2 jam pertama setelah kelahiran merupakan masa paling siaga; setelah masa ini, ia biasanya tidur.
2. Spesifik Protection
Usaha pencegahan dan pengobatan infeksi pada masa nifas, meliputi :
a. Menjaga kebersihan diri (personal hygine) pada alat genital dari semua hal yang dapat menyebabkan timbulnya nbakteri.
b. Pengunjung-pengunjung dari luar hendaknya pada hari-hari pertama dibatasi sedapat mungkin untuk mencegah terjadinya cross infeksi.
c. Tiap penderita dengan tanda-tanda infeksi nifas jangan dirawat bersama dengan wanita-wanita dalam nifas yang sehat.
d. Melakukan scrinning test untuk mengetahui jenis kuman-kuman yang menjadi penyebab infeksi nifas sebelum diputuskan untuk memberi antibiotik yang tepat dan sebelum terapi dimulai.
e. Diberikan penicillin dalam dosis tinggi atau antibiotika dengan spectrum luas ( broad spectrum antibiotics), seperti ampicilin, dan lain-lain. Setelah hasil pembiakan serta tes-tes kepekaan diketahui, dapat dilakukan pengobatan yang paling sesuai.
f. Kombinasi penicillin G dan tetracylin dalam dosis tinggi IV sangat efektif terhadap infeksi nifas, sedangkan Di Bagian Obstetri Dan Ginekologi FKUI/RSCM diipakai sulbenicillin atau garamicin atau kombinasi penicillin G dengan chloramphenicol dengan hasil cukup memuaskan.
g. Selain pengobatan dengan antibiotika, tindakan-tindakan untuk mempertinggi daya tahan badan tetap perlu dilakukan dengan cara mengkonsumsi makanan seimbang yang mengandung zat-zat yang diperlukan tubuh untuk menjaga sistem kekebalan tubuh.
h. Jika terjadi abses pada sellulitis pelvika dan pelvioperitonitis, abses harus dibuka dengan menajaga supaya nanah tidak masuk kedalam rongga peritoneum dan pembuluh darah yang agak besar tidak sampai dilukai.
3. Early Diagnosis Dan Promtratment
Usaha pengobatan secara tepat dan adekuat yang ditujukan pada ibu yang menderita infeksi nifas agar dapat dipulihkan kesehatannya antara lain :
a. Mencegah penyebaran penyakit
b. Mengobati dan menghentikan proses infeksi nifas.
c. Menyembuhkan penderita infeksi nifas dan mencegah terjadinya komplikasi pada masa nifas.
4. Disability Limitation
Usaha pembatasan kecacatan atau pada tahap inicacat yang terjadi terutama untuk mencegah infeksi nifas menjadi berkelanjutan.
a. Memberikan pengobatan yang tepat dengan cara pemberian anti biotik yang tepat
b. Melakukan pengontrolan secara teratur dan rutin untuk mencegah komplikasi
5. Rehabilitation
a. Pada proses ini di usahakan agar infeksi pada ibu nifas tidak menjadi hambatan sehingga individu yang menderita dapat berfungsi optimal, secara fisik, mental, dan social.
b. Memberikan dukungan moril dan mental pada ibu dengan infeksi nifas
F. Definisi Menyusui
Menyusui adalah proses pemberian susu kepada bayi atau anak kecil dengan Air Susu Ibu (ASI) dari payudara ibu. Bayi menggunakan refleks menghisap untuk mendapatkan dan menelan susu. Bukti eksperimental menyimpulkan bahwa air susu ibu adalah gizi terbaik untuk bayi. Seorang bayi dapat disusui oleh ibunya sendiri atau oleh wanita lain. ASI juga dapat diperah dan diberikan melalui alat menyusui lain seperti botol susu, cangkir, sendok, atau pipet. Pemerintah dan organisasi internasional sepakat untuk mempromosikan menyusui sebagai metode terbaik untuk pemberian gizi bayi setidaknya tahun pertama dan bahkan lebih lama lagi, antara lain WHO, American Academy of Pediatrics, dan Departemen Kesehatan.
ASI Eksklusif adalah pemberian ASI saja sejak bayi dilahirkan sampai usia 6 bulan. ASI sangat baik untuk kesehatan bayi, ASI juga mengandung antibiotik yang bisa melindungi bayi dari berbagai penyakit selama antibodinya berkembang. Oleh sebab itu pemberian ASI disarankan pada 6 bulan awal masa kelahiran (ASI eksklusif).
Promosi kesehatan adalah upaya perubahan atau perbaikan perilaku dibidang kesehatan disertai dengan upaya mempengaruhui lingkungan atau hal- hal lain yang sangat berpengaruh terhadap perbaikan perilaku dan kualitas kesehatan.
Ibu menyusui adalah ibu yang memberikan susu kepada bayi atau anak kecil dengan air susu ibu (ASI) dari payudara ibu itu sendiri.
Promosi kesehatan pada ibu menyusui adalah upaya perubahan atau perbaikan perilaku yang dapat berpengaruh terdapat perilaku dan kualitas kesehatan terhadap ibu menyusui.
G. Tujuan Promosi Kesehatan pada Ibu Menyusui
Tujuan jangka panjang dalam promosi kesehatan pada ibu menyusui adalah mengoptimalkan status kesehatan dalam hal menyusui, tujuan jangka menengah adalah menciptakan perilaku sehat menyusui yang baik dan benar dan tujuan jangka pendek adalah sasaran atau ibu menyusui mengerti dan memahami teknik menyusui yang benar, bersikap dan memiliki norma yang positif mengenai menyusui.
H. Promosi Kesehatan pada Ibu Menyusui
Penyelenggaraan Pekan ASI Sedunia adalah suatu gerakan yang dilaksanakan secara serentak di seluruh dunia pada setiap minggu pertama bulan Agustus. Tujuannya adalah agar setiap negara, secara terus menerus bersama-sama melaksanakan upaya-upaya yang nyata untuk membantu ibu agar berhasil menyusui. "Menyusui : Sepuluh Langkah Menuju Sayang Bayi" adalah tema Pekan ASI Sedunia tahun 2010 dengan slogan “Sayang Bayi, Beri ASI” adalah suatu komitmen nyata dari fasilitas kesehatan untuk mendukung keberhasilan menyusui, melalui pemberian perlindungan dan memberikan informasi serta dukungan kepada ibu agar dapat menyusui bayinya secara eksklusif.
Sepuluh langkah menuju keberhasilan menyusui atau Ten Step to Successful Breeastfeeding (WHO/UNICEF 1989, isi dikembangkan oleh DepKes RI dan BKPPASI) merupakan upaya promosi kesehatan pada ibu menyusui yaitu:
1. Langkah I : Buatlah kebijakan tertulis tentang pemberian ASI yang secara rutin dikomunikasikan kepada semua petugas pelayanan kesehatan.
Pada tahun 1989, UNICEF bersama WHO memperkenalkan Sepuluh Langkah Keberhasilan Menyusui dengan mengeluarkan sebuah Pernyataan Bersama mengenai “Perlindungan, Promosi, dan Dukungan Menyusui: Peran Khusus Fasilitas Pelayanan Kesehatan Ibu”. Tahun 1990 Deklarasi Innocenti menghimbau dunia agar mendukung pelaksanaan Sepuluh Langkah disemua fasilitas kesehatan yang memberikan pelayanan kesehatan ibu. Selain itu juga mempunyai kebijakan yang melarang promosi susu formula sesuai dengan Juklak Dep.Kes. tahun 1991 tentang Permenkes no.240 tahun 1985. Dimana semua kebijakan tersebut harus dikomunikasikan secara rutin kepada semua staf dan dipasang pada tempat yang mudah terlihat oleh semua orang yang datang ke Pelayanan Kesehatan tersebut.
2. Langkah II : Memberikan pelatihan bagi petugas kesehatan untuk dapat melaksanakan hal-hal yang disebutkan dalam kebijakan tertulis mengenai pemberian ASI.
Keberhasilan komunikasi antara petugas kesehatan dan pasien pada umumnya akan melahirkan kenyamanan dan kepuasan bagi kedua belah pihak, khususnya timbulnya empati atau ikut merasakan apa yang sedang dialami oleh pasien. Pada promosi kesehatan pada ibu menyusui petugas kesehatan diberi pelatihan mengenai berkomunikasi yang baik secara efektif dengan ibu-ibu (ibu menyusui) dan keluarganya sehingga dapat membantu menumbuhkan kepercayaan diri khususnya pada ibu menyusui dan meningkatkan kepercayaan terhadap tenaga kesehatan yang memberikan pelayanan kesehatannya serta keterampilan mengenai menyusui yang baik. Dalam melaksanakan promosi pemberian ASI di Rumah Sakit pelatihan kepada petugas meliputi:
a. 10 langkah menuju keberhasilan menyusui dan kebijakan tertulis lainnya mengenai pemberian ASI.
b. Pelatihan paling sedikit 16 jam dan pengalaman klinik paling sedikit 3 jam, kemudian diikuti dengan supervisi.
c. Pelatiahan atau penyegaran dilakukan secara berkelanjutan terhada semua staf yang terkait terhada promosi pemberian ASI
3. Langkah III : Menjelaskan manfaat menyusui
Keunggulan dan manfaat menyusui dapat dilihat dari beberapa aspek yaitu: aspek gizi, aspek imunologik, aspek psikologi, aspek kecerdasan, neurologis, ekonomis dan aspek penundaan kehamilan.
a. Aspek Gizi.
Manfaat Kolostrum :
1) Kolostrum mengandung zat kekebalan terutama IgA untuk melindungi bayi dari berbagai penyakit infeksi terutama diare.
2) Jumlah kolostrum yang diproduksi bervariasi tergantung dari hisapan bayi pada hari-hari pertama kelahiran. Walaupun sedikit namun cukup untuk memenuhi kebutuhan gizi bayi. Oleh karena itu kolostrum harus diberikan pada bayi.
3) Kolostrum mengandung protein, vitamin A yang tinggi dan mengandung karbohidrat dan lemak rendah, sehingga sesuai dengan kebutuhan gizi bayi pada hari-hari pertama kelahiran.
4) Membantu mengeluarkan mekonium yaitu kotoran bayi yang pertama berwarna hitam kehijauan.
Komposisi ASI :
1) ASI mudah dicerna, karena selain mengandung zat gizi yang sesuai, juga mengandung enzim-enzim untuk mencernakan zat-zat gizi yang terdapat dalam ASI tersebut.
2) ASI mengandung zat-zat gizi berkualitas tinggi yang berguna untuk pertumbuhan dan perkembangan kecerdasan bayi/anak.
3) Selain mengandung protein yang tinggi, ASI memiliki perbandingan antara Whei dan Casein yang sesuai untuk bayi. Rasio Whei dengan Casein merupakan salah satu keunggulan ASI dibandingkan dengan susu sapi. ASI mengandung Whey : Casein lebih banyak yaitu 65 : 35. Komposisi ini menyebabkan protein ASI lebih mudah diserap. Sedangkan pada susu sapi mempunyai perbandingan Whey:Casein adalah 20 : 80, sehingga tidak mudah diserap.
Komposisi Taurin, DHA dan AA pada ASI :
1) Taurin adalah sejenis asam amino kedua yang terbanyak dalam ASI yang berfungsi sebagai neuro-transmitter dan berperan penting untuk proses maturasi sel otak. Percobaan pada binatang menunjukkan bahwa defisiensi taurin akan berakibat terjadinya gangguan pada retina mata.
2) Decosahexanoic Acid (DHA) dan Arachidonic Acid (AA) adalah asam lemak tak jenuh rantai panjang (polyunsaturated fatty acids) yang diperlukan untuk pembentukan sel-sel otak yang optimal. Jumlah DHA dan AA dalam ASI sangat mencukupi untuk menjamin pertumbuhan dan kecerdasan anak. Disamping itu DHA dan AA dalam tubuh dapat dibentuk atau disintesa dari substansi pembentuknya (precursor) yaitu masing-masing dari Omega 3 (asam linolenat) dan Omega 6 (asam linoleat).
b. Aspek Imunologik
1) ASI mengandung zat anti infeksi, bersih dan bebas kontaminasi.
2) Immunoglobulin A (IgA) dalam kolostrum atau ASI kadarnya cukup tinggi. Sekretori IgA tidak diserap tetapi dapat melumpuhkan bakteri patogen E. coli dan berbagai virus pada saluran pencernaan.
3) Laktoferin yaitu sejenis protein yang merupakan komponen zat kekebalan yang mengikat zat besi di saluran pencernaan.
4) Lysosim, enzym yang melindungi bayi terhadap bakteri (E. coli dan salmonella) dan virus. Jumlah lysosim dalam ASI 300 kali lebih banyak daripada susu sapi.
5) Sel darah putih pada ASI pada 2 minggu pertama lebih dari 4000 sel per mil. Terdiri dari 3 macam yaitu: Brochus-Asociated Lympocyte Tissue (BALT) antibodi pernafasan, Gut Asociated Lympocyte Tissue (GALT) antibodi saluran pernafasan, dan Mammary Asociated Lympocyte Tissue (MALT) antibodi jaringan payudara ibu.
6) Faktor bifidus, sejenis karbohidrat yang mengandung nitrogen, menunjang pertumbuhan bakteri lactobacillus bifidus. Bakteri ini menjaga keasaman flora usus bayi dan berguna untuk menghambat pertumbuhan bakteri yang merugikan.
c. Aspek Psikologis
1) Rasa percaya diri ibu untuk menyusui : bahwa ibu mampu menyusui dengan produksi ASI yang mencukupi untuk bayi. Menyusui dipengaruhi oleh emosi ibu dan kasih saying terhadap bayi akan meningkatkan produksi hormon terutama oksitosin yang pada akhirnya akan meningkatkan produksi ASI.
2) Interaksi Ibu dan Bayi: Pertumbuhan dan perkembangan psikologik bayi tergantung pada kesatuan ibu-bayi tersebut.
3) Pengaruh kontak langsung ibu-bayi : ikatan kasih sayang ibu-bayi terjadi karena berbagai rangsangan seperti sentuhan kulit (skin to skin contact). Bayi akan merasa aman dan puas karena bayi merasakan kehangatan tubuh ibu dan mendengar denyut jantung ibu yang sudah dikenal sejak bayi masih dalam rahim.
d. Aspek Kecerdasan
Interaksi ibu dan bayi dan kandungan nilai gizi ASI sangat dibutuhkan untuk perkembangan sistem syaraf otak yang dapat meningkatkan kecerdasan bayi. Penelitian menunjukkan bahwa IQ pada bayi yang diberi ASI memiliki IQ point 4.3 point lebih tinggi pada usia 18 bulan, 4-6 point lebih tinggi pada usia 3 tahun, dan 8.3 point lebih tinggi pada usia 8.5 tahun, dibandingkan dengan bayi yang tidak diberi ASI.
e. Aspek Neurologis
Dengan menghisap payudara, koordinasi syaraf menelan, menghisap dan bernafas yang terjadi pada bayi baru lahir dapat lebih sempurna.
f. Aspek Ekonomis
Dengan menyusui secara eksklusif, ibu tidak perlu mengeluarkan biaya untuk makanan bayi sampai bayi berumur 4 bulan. Dengan demikian akan menghemat pengeluaran rumah tangga untuk membeli susu formula dan peralatannya.
g. Aspek Penundaan Kehamilan
Dengan menyusui secara eksklusif dapat menunda haid dan kehamilan, sehingga dapat digunakan sebagai alat kontrasepsi alamiah yang secara umum dikenal sebagai Metode Amenorea Laktasi (MAL).
4. Langkah IV : Melaksanakan Inisiasi Menyusu Dini (IMD)
Inisiasi Menyusu Dini (IMD) adalah bayi lahir tanpa dimandikan terlebih dahulu langsung diletakkan pada perut ibu. Secara naluri bayi akan mencapai dan dapat menghisap puting ibu dalam waktu 30 menit. Dengan demikian, kolostrum atau ASI yang berwarna kekuning-kuningan, ASI yang pertama keluar akan langsung dihisap oleh sang bayi. Sebagaimana kita ketahui kolostrum mengandung zat kekebalan yang lebih banyak dari Air Susu yang keluar pada hari-hari berikut setelah kelahiran bayi. Kontak fisik pertama antara ibu dan bayi akan semakin merekatkan rasa kasih sayang ibu dan bayi. Lalu dilanjutkan dengan pemberian ASI eksklusif. ASI eksklusif adalah pemberian ASI tanpa makanan dan minuman tambahan lain pada bayi berumur nol sampai enam bulan. Bahkan air putih tidak diberikan dalam tahap ASI eksklusif ini.
5. Langkah V : Menunjukkan teknik menyusui yang benar
Teknik menyusui yang benar adalah cara memberikan ASI kepada bayi dengan perlekatan dan posisi ibu dan bayi dengan benar (Perinasia, 1994).
Persiapan memberikan ASI dilakukan bersamaan dengan kehamilan. Pada kehamilan, payudara semakin padat karena retensi air, lemak serta berkembangnya kelenjar-kelenjar payudara yang dirasakan tegang dan sakit. Bersamaan dengan membesarnya kehamilan, perkembangan dan persiapan untuk memberikan ASI makin tampak. Payudara makin besar, puting susu makin menonjol, pembuluh darah makin tampak, dan aerola mamae makin menghitam. Persiapan memperlancar pengeluaran ASI dilaksanakan dengan jalan :
a. Membersihkan puting susu dengan air atau minyak, sehingga epitel yang lepas tidak menumpuk.
b. Puting susu ditarik-tarik setiap mandi, sehingga menonjol untuk memudahkan isapan bayi.
c. Bila puting susu belum menonjol dapat memakai pompa susu.
Posisi yang benar dalam pemberian asi sangat menentukan bagi kenyamanan bayi dan ibu sendiri. Cara menyusui yang tergolong biasa dilakukan adalah dengan berdiri, duduk, atau rebahan. Teknik menyusui yang benar yaitu cuci tangan yang bersih dengan sabun, perah sedikit ASI dan oleskan disekitar putting, berdiri, duduk, atau berbaring dengan santai (sesuai keinginan).
a. Melekat dengan benar :
1) Dagu menempel pada payudara ibu
2) Bibir bawah terbuka keluar
3) Mulut terbuka lebar
4) Bagian atas areola mamae lebih banyak berada dalam mulut bayi
b. Posisi tubuh :
1) Perut bayi menghadap badan ibu
2) Telinga, bahu, tangan berada dalam satu garis lurus
3) Bayi di dekatkan dengan ibu
4) Ibu menyangga seluruh badan bayi
Menyusui dengan teknik yang tidak benar dapat mengakibatkan puting susu menjadi lecet, ASI tidak keluar optimal sehingga mempengaruhi produksi ASI selanjutnya atau bayi enggan menyusu. Apabila bayi telah menyusui dengan benar maka akan memperlihatkan tanda-tanda yaitu bayi tampak tenang, bayi nampak menghisap kuat dengan irama perlahan dan puting susu tidak terasa nyeri.
a. Posisi menyusui:
1) The cradle
Posisi ini sangat baik untuk bayi yang baru lahir. Bayi berada di perut ibu sampai kulitnya dan kulit ibu saling bersentuhan. Tubuh bayi menghadap kearah ibu dan meletakkan kepala bayi pada siku tangan ibu.
2) The cross cradle hold
Satu lengan mendukung tubuh bayi dan yang lain mendukung kepala, mirip dengan posisi dudukan tetapi ibu akan memiliki kontrol lebih besar atas kepala bayi. Posisi menyusui ini bagus untuk bayi prematur atau ibu dengan puting payudara kecil.
3) The football hold
Bayi disamping ibu dengan kaki bayi dibelakang ibu dan bayi terselip di bawah lengan ibu, seolah-olah ibu sedang memegang bola kaki. Ini adalah posisi terbaik untuk ibu yang melahirkan dengan operasi caesar atau untuk ibu-ibu dengan payudara besar. Posisi ini membutuhkan bantal untuk menopang bayi.
4) Saddle hold
Posisi ini merupakan cara yang menyenangkan untuk menyusui dalam posisi duduk. Ini juga bekerja dengan baik jika bayi memiliki pilek atau sakit telinga. Bayi duduk tegak dengan kaki mengangkangi ibu.
5) The lying position
Menyusui dengan berbaring akan memberi ibu lebih banyak kesempatan untuk bersantai dan juga untuk tidur lebih banyak pada malam hari. Ibu bisa tidur saat bayi menyusu. Dukung punggung dan kepala bayi dengan bantal dan pastikan bahwa perut bayi menyentuh ibu.
b. Berbagai masalah dalam menyusui
1) Payudara bengkak
Payudara bengkak biasanya terjadi 2 atau 3 hari pasca persalinan. Bengkak pada payudara ini di sebabkan oleh penggumpalan air susu dalam kelenjar susu di payudara yang lama kelamaan dapat menyebabkan tersumbatnya kelenjar susu sehingga pengeluaran volume ASI berkurang. Desakan ASI yang tidak lancer menimbulkan rasa nyeri pada payudara ibu.
Penggumpalan air susu biasa terjadi karena bayi enggan menyusui pada ibu nya kemungkinan karna derasnya aliran air susu yang keluar sehingga bayi tak nyaman saat menyusui. Produksi ASI yang melimpah tanpa disusukan atau dipompa lambat laun akan menyebabkan penggumpalan yang pada akhirnya menyumbat kelenjar susu.
Jika ibu mengalami bengkak pada panyudara, atasilah dengan memijat daerah payudara yang sakit sehari 2 kali kearah puting susu. Gunakan baby oil atau minyak kelapa murni untuk melemaskan dan membuat daerah sekitar payudara tidak kaku.
2) Payudara meradang
Gangguan ini biasa disebut sebagai mastitis. Radang ini akan terjadi karena ibu tidak menyusui atau puting payudara lecet karena mernyusui. Kondisi ini biasa terjadi pada satu atau kedua payudara sekaligus. Umumnya radang terjadi 2-6 minggu pasca persalinan akibat adanya infeksi bakteri serta pemakaian BH yang terlalu ketat. Untuk mencegah mastitis, ibu harus menyusui bayi segera dan sesering mungkin, bila payudara terasa penuh segera keluarkan dengan cara menyusui langsung pada bayi. Pengobatan yang tepat adalah dengan pemberian antibiotik yang baik dan aman untuk ibu menyusui.
3) Puting datar atau tenggelam
Kalainan ini terjadi karena pelekatan mengakibatkan saluran lebih pendek dan menarik puting susu kedalam. Upaya agar puting tidak datar atau tenggelam lagi ialah tarik puting susu keluar dengan jari tangan, tahan selama beberapa waktu, lakukan selama 2 hari sekali.
4) Puting lecet
Puting lecet ini tidak tepatnya posisi mulut bayi saat menyusui. Umumnya terjadi pada hari pertama menyusui. Bila tidak terlalu nyeri, ibu dianjurkan untuk teruskan menyusui bayinya agar nyeri berkurang dan oleskan sedikit ASI pada puting susu dan sekitarnya atau kompres payudara dengan Air hangat sebelum menyusui.
5) Gangguan volume ASI
Menyusui melibatkan proses menghasilkan dan mengeluarkan ASI. Biarkan pemberian ASI lancar, kedua proses itu harus berjalan dengan seimbang. Jika tidak terjadi keseimbangan maka proses menyusuipun tidak akan berjalan lancar.
6) Bingung puting
Bingung puting merupakan masalah menyusui yang timbul karena bayi yang masih terlalu kecil mengalami kebingungan antara meghisap puting dengan botol susu. Solusinya ibu harus memulai membiasakan bayi diberi ASI perah dengan sendok, bukan botol susu. Berikan dengan cara menyuapinya dengan sendok agar bayi tidak binggung puting.
6. Langkah VI : Tidak memberikan makanan dan atau minuman selain ASI
ASI tak dapat digantikan oleh makanan ataupun minuman manapun, karena ASI mengandung zat gizi yang paling tepat, lengkap dan selalu menyesuaikan dengan kebutuhan bayi setiap saat. ASI dalam jumlah cukup merupakan makanan terbaik pada bayi dan dapat memenuhi kebutuhan gizi bayi selama 6 bulan pertama. ASI merupakan makanan alamiah yang pertama dan utama bagi bayi sehingga dapat mencapai tumbuh kembang yang optimal.
7. Langkah VII : Melaksanakan rawat gabung
Rawat gabung merupakan satu cara perawatan dimana ibu dan bayi yang baru dilahirkan tidak dipisahkan, melainkan ditempatkan bersama dalam sebuah ruangan. Manfaat dilakukannyan rawat gabung yaitu:
a. Dengan rawat gabung antara ibu dan bayi akan terjalin proses lekat (bonding) yang dapat mempengaruhi perkembangan psikologis bayi selanjutnya
b. Ibu mudah menyusui kapan saja
c. Bayi dapat disusui dengan frekuensi yang lebih sering dan menimbulkan refleks prolaktin yang mampu memacu proses produksi ASI dan refleks oksitosin yang membantu pengeluaran ASI dan mempercepat involusi rahim
d. Petugas kesehatan lebih mudah untuk mengetahui perkembangan kondisi kesehatan ibu dan bayi.
8. Langkah VIII : Membantu ibu menyusui sesering mungkin dan semau bayi
Sebaiknya dalam menyusui bayi tidak dijadwal, sehingga tindakan menyusui bayi dilakukan di setiap saat bayi membutuhkan, karena bayi akan menentukan sendiri kebutuhannya. Ibu harus menyusui bayinya bila bayi menangis bukan karena sebab lain (kencing, kepanasan atau kedinginan atau sekedar ingin didekap) atau ibu sudah merasa perlu menyusui bayinya. Bayi yang sehat dapat mengosongkan satu payudara sekitar 5-7 menit dan ASI dalam lambung bayi akan kosong dalam waktu 2 jam. Pada awalnya, bayi tidak memiliki pola yang teratur dalam menyusui dan akan mempunyai pola tertentu setelah 1 – 2 minggu kemudian.
Menyusui yang dijadwal akan berakibat kurang baik, karena isapan bayi sangat berpengaruh pada rangsangan produksi ASI selanjutnya. Dengan menyusui tanpa jadwal, sesuai kebutuhan bayi akan mencegah timbulnya masalah menyusui. Ibu yang bekerja dianjurkan agar lebih sering menyusui pada malam hari. Bila sering disusukan pada malam hari akan memicu produksi ASI.
9. Langkah IX : Tidak memberikan dot atau kempeng
Oleh karena pemberian susu formula kadang tidak disertai dengan botol atau dot yang cukup terjamin kebersihannya sehingga bayi menjadi diare. Dan pengenceran atau perbandingan bubuk susu dan air kadang tidak sesuai dengan ketentuan pada label yang berakibat bayi kurang gizi.
10. Langkah X : Membina kelompok pendukung ASI
Dukungan lainnya dari pihak-pihak yang terkait dengan ibu menyusui menjadi penentu keberhasilan pemberian ASI diantaranya:
a. Suami
Bentuk dukungan yang dapat diberikan antara lain menemani istri ketika sedang menyusui, ikut merawat bayi, memberikan kata-kata pujian/pemberi semangat sehingga istri terus merasa percaya diri, melengkapi pengetahuan seputar pemberian ASI dan kegiatan menyusui, serta bangga dengan istri yang sedang dalam masa pemberian ASI kepada sang buah hati.
b. Keluarga
Melengkapi pengetahuan seputar pemberian ASI dan kegiatan menyusui, memberikan pujian, semangat dan dorongan agar ibu bisa percaya diri untuk menyusui, membantu dalam perawatan bayi.
c. Tenaga kesehatan
Tidak mempromosikan susu formula, memberi informasi yang tepat tentang ASI dan seputar kegiatan menyusui, memberikan semangat dan dorongan agar para ibu memberikan ASI Eksklusif kepada bayi mereka, dan menyusui diteruskan sampai bayi berusia 2 tahun atau lebih, dan memahami ciri-ciri tumbuh kembang bayi/anak ASI.
d. Lingkungan kerja atau kantor
Menerapkan kebijakan kantor yang ramah terhadap pegawai perempuan yang menyusui, menyediakan ruang menyusui, memberikan waktu untuk memerah/menyusui langsung bila menyusui harus dilakukan selama waktu kerja.
e. Sesama ibu menyusui
Saling berbagi pengalaman, bertukar informasi, memberi semangat dan dukungan seputar kegiatan menyusui dan pemberian ASI, agar ASI Eksklusif berhasil diberikan kepada bayi selama 6 bulan pertama, dan ASI diteruskan hingga anak berusia 2 tahun atau lebih.
f. Pemerintah
Senantiasa mensosialisasikan keunggulan ASI kepada masyarakat, memperbaiki dan melengkapi perangkat yang mendukung kegiatan menyusui dan pemberian ASI, menindak dengan tegas segala bentuk pelanggaran pihak ketiga yang bertentangan dengan kebijakan pemberian ASI Eksklusif serta pemberian ASI bagi bayi Indonesia.
I. Promosi Kesehatan pada Ibu Menyesui yang Bekerja
Prinsip umum bagi promosi kesehatan yang efektif di tempat kerja antara lain:
1. Manajemen puncak harus mendukung secara nyata serta antusias program intervensi dan turut terlibat dalam program tersebut.
2. Pihak pekerja atau karyawan pada semua tingkat pengorganisasian harus terlibat dalam perencanaan dan implementasi intervensi.
3. Fokus intervensi harus berdasarkan pada esame risiko yang dapat didefinisikanserta dimodifikasi, dan merupakan prioritas bagi pekerja atau karyawan.
4. Intervensi harus disusun sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan pekerja atau karyawan.
5. Sumber daya setempat harus dimanfaatkan dalam mengorganisasikan dan mengimplementasikan intervensi.
6. Evaluasi harus dilakukan juga.
7. Organisasi harus menggunakan inisiatif kebijakan berbasis populasi maupun intervensi promosi kesehatan yang intensif dengan berorientasi pada perorangan dan kelompok.
8. Intervensi harus bersifat sustained (kontinu) serta didasarkan pada prinsip-prinsip pemberdayaan dan atau model yang berorientasi pada masyarakat dengan menggunakan lebih dari satu metode.
Upaya promosi kesehatan yang dapat dilakukan untuk ibu menyusui yang bekerja antara lain:
1. Memberikan konseling tentang persiapan ketika sudah kembali bekerja seperti:
a. Memberitahu ibu untuk mersiapkan segala kebutuhan esok hari, pada malam hari sebelumnya.
b. Menganjurkan ibu untuk menyusui bayi sebelum berangkat ke kantor.
c. Mengusahakan agar perpisahan dan pertemuan kembali ibu dengan bayi dilaksanakan dalam suasana gembira.
2. Memberikan konseling kepada ibu ketika ibu berada di kantor seperti:
a. Memberitahu ibu untuk memerah atau pompa ASI sesuai jadwal menyusu bayi atau minimal dalam rentang waktu 3 jam.
b. Memberitahu memerah atau pompa ASI secara teratur sesuai dengan jadwal dan sebelum payudara ibu terasa penuh.
c. Menggunakan cara yang benar untuk menyimpan dan mengangkut ASIP.
d. Memastikan bahwa pengasuh bayi mengerti tata cara pemberian ASIP yang benar.
e. Memberitahu kepada pengasuh bayi untuk tidak memberikan ASIP ketika anda sudah dekat rumah.
f. Memberitahu ibu untuk menyusui bayi ketika sudah kembali pulang, pada malam hari, diakhir esam dan setiap saat ibu sedang bersama bayi.
g. menganjurkan ibu agar meminta dukungan esame rekan kantor dalam upaya ibu untuk terus memberikan ASI.
h. menganjurkan ibu untuk mencari esame ibu bekerja yang juga menyusui untuk saling tukar pendapat pengalamam dan saling mendukung.
i.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Nifas adalah masa pulih kembali,mulai dari persalinan selesai sampai alat-alat kandungan kembali seperti pra hamil, lamanya 6-8 minggu. Sedangkan Menyusui adalah proses pemberian susu kepada bayi atau anak kecil dengan Air Susu Ibu (ASI) dari payudara ibu.
2. Pencegahan infeksi masa nifas merupakan salah satu upaya promosi kesehatan pada masa nifas
3. Penyelenggaraan Pekan ASI Sedunia adalah salah satu upaya promosi kesehatan pada ibu menyusui.
B. Saran
Dari hasil kesimpulan yang telah dikemukakan, maka dapat diberikan saran-saran sebagai bahan masukan bagi pihak yang bersangkutan dalam rangka meningkatkan kualitas kesehatan ibu nifas dan menyusui serta menambah informasi dan wawaasan.
1. Bagi instansi pendidikan
Disarankan agar mengembangkan pengetahuan tentang promosi kesehatan tentang masa nifas dan menyusui guna menunjang peningkatan kualitas kesehatan ibu dan anak, sehingga dapat menjadi literature untuk mendukung peningkatan kualitas pelayanan kesehatan khususnya ibu nifas dan menyusui.
2. Bagi profesi kebidanan
Disarankan agar mengembangkan pengetahuan kesehatan terkait promosi kesehatan ibu nifas dan menyusui, terhadap klien. Guna memonitoring kesehatan ibu nifas dan menyusui.
3. Bagi pembaca
Disarankan agar memahami dan memperluas wawasan mengenai promosi kesehatan ibu nifas dan menyusui
Langganan:
Postingan (Atom)